Part 7

506 193 27
                                        

Hai selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote ya.

Happy Reading🤗

Di tengah kecanggungan yang menyelimuti ruang tamu, pintu utama terbuka. Seorang pemuda dengan gaya kasual namun karismatik melangkah masuk. Tanpa aba-aba, ia langsung menghampiri Kirana dan menarik gadis itu ke dalam pelukan hangat yang sangat erat.

Mata Marco seketika menajam. Rahangnya mengeras melihat pemandangan itu. "Siapa?" tanya Marco singkat, suaranya terdengar berat dan penuh selidik pada Farel.

Farel melirik Marco dengan senyum tipis, seolah menikmati kegelisahan sahabatnya. "Itu abang sepupu gue, adiknya Kak Sinta. Namanya Natan Akhiro Danendra."

Rafael yang ikut memperhatikan pun merasa heran. "Kok gue nggak pernah liat dia? Padahal kita sering main ke tempat Kak Sinta."

"Dia lama tinggal di Australia, baru hari ini mendarat di Indonesia buat lanjut kuliah di sini," jelas Farel santai.

Natan, yang memang dikenal sangat menyayangi Kirana, tidak melepaskan rangkulannya di bahu adiknya itu. Kirana pun tampak jauh lebih ceria, seolah beban kesedihannya sesaat terangkat.

"Kak, kenalin, ini Rena, teman dekatku," ucap Kirana memperkenalkannya dengan antusias.

"Hai Kak, aku Rena," sapa Rena ramah sambil mengulurkan tangan.

"Natan," balas Natan dengan senyum menawan yang ramah. "Kakaknya Kirana yang paling ganteng, setidaknya menurut dia." Kirana hanya tertawa kecil mendengar candaan itu.

Farel kemudian bangkit dan memeluk Natan ala laki-laki. "Hai, Bang! Apa kabar? Akhirnya balik juga ke tanah air."


"Kabar baik, Rel. Lagi kumpul-kumpul nih?" tanya Natan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Meski baru pulang dari luar negeri, Natan bukanlah orang asing bagi drama keluarga ini. Kak Sinta selalu memberikan laporan harian padanya, termasuk tentang Kirana yang baru saja disakiti oleh seseorang bernama Marco.

Natan melangkah mendekat ke arah gerombolan anak-anak Gibros. "Hai, gue Natan," ucapnya memperkenalkan diri dengan nada yang tenang namun memiliki aura kepemimpinan yang kuat.

Hampir semua anggota Gibros menyapa Natan dengan hangat dan penuh hormat. Namun, hanya satu orang yang tetap bergeming. Marco hanya duduk bersandar, menatap Natan dengan sorot mata dingin dan penuh persaingan.

Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi medan magnet yang saling tolak-menolak.
Natan yang menyadari tatapan dingin Marco hanya tersenyum miring—sebuah senyuman yang seolah berkata, “Ooo, jadi ini orangnya?”


~~~

Sepanjang malam, mata Marco tak lepas dari Kirana yang tampak sangat bahagia. Tawa Kirana yang lepas saat bercanda dengan Natan membuat hati Marco terasa diremas. Ada rasa iri yang membakar, melihat betapa mudahnya Natan membuat Kirana tersenyum—hal yang gagal ia lakukan seharian ini.

"Kenapa? Lo cemburu?" bisik Farel, menyikut lengan Marco yang sedari tadi memasang wajah kaku.

"Biasa aja," elak Marco datar, meski rahangnya mengeras.

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang