Part 5

650 213 48
                                        

Hai selamat datang dikisah MarKir jangan lupa vote ya.

Happy Reading🤗

Kehadiran Tante Sindi di kediaman Danendra benar-benar mengubah atmosfer rumah. Jika biasanya markas sementara Gibros itu dipenuhi aroma kopi dan obrolan motor, kini wangi masakan rumah dan celoteh Tante Sindi mendominasi. Wanita itu datang membawa berkat bagi perut para anggota geng yang kelaparan.

Setelah makan malam besar yang penuh tawa, suasana berlanjut di ruang tamu. "Tante tadi ke sini sama siapa? Kok sendiri?" tanya Kirana sambil menyandarkan kepala di bahu Tante Sindi.

Dan sekarang waktunya makan malam, semua makan bersama dengan tenang.Setelah makan malam Tante Sindi,Kirana,dan Rena duduk bersama di ruang tamu.

"Tante ke sini tadi sama siapa tadi?"tanya Kirana.

"Sama om Diki,tapi om Diki tadi pergi sebentar sama Zaki entah kemana Tante juga enggak tahu"jelas tante Sindi.

"Sama Om Diki, tapi tadi si Om diculik sama Zaki entah ke mana. Katanya ada urusan laki-laki," jelas Tante Sindi santai, lalu beralih ke Rena. "Rena, orang tuamu nggak nyariin kalau kamu menginap di sini?"

"Aman, Tan! Sudah dapat izin resmi," jawab Rena dengan cengiran lebarnya.


Ting-nong!

Bel rumah berbunyi nyaring. Tante Sindi segera bangkit dengan wajah yang sudah bersiap untuk mengomel. "Lama banget sih kalian! Katanya cuma sebentar!"

semprotnya begitu pintu terbuka.
Om Diki, sang CEO yang biasanya berwibawa di kantor, kini tampak kerepotan menenteng kantong plastik besar.

"Sabar, Sayang. Antreannya sepanjang jalan kenangan, makanya lama," bela Om Diki.


"Hai, Guys! Ini suplemen buat kalian," ucap Om Diki sambil meletakkan berbungkus-bungkus camilan di meja, menyapa anak-anak Gibros dengan gaya yang berusaha tampak gaul.

"Dih, Om Diki sok asik banget, SKSD deh," ledek Kirana sambil tertawa.

"Lah, bener juga ya. Sok muda banget sih, Mas!" sarkas Tante Sindi menimpali suaminya.

"Terima kasih, Om!" seru anak-anak Gibros serempak.


Om Diki meringis, lalu menoleh pada istrinya. "Sayang, masa aku dipanggil Om sih sama mereka? Kan kelihatan tua banget."

"Mau dipanggil Kakek, Om? Boleh kok," sahut Kirana nakal.

"Sudahlah, Pa. Terima kenyataan kalau Papa sudah tua. Jangan dipaksakan," timpal Zaki, anak berusia sembilan tahun itu, dengan wajah datar yang sangat dewasa, membuat seisi ruangan meledak dalam tawa.


Zaki dan Om Diki pun langsung membaur, bergabung dalam permainan game anak-anak Gibros. Sementara itu, Tante Sindi, Kirana, dan Rena asyik membentuk lingkaran "gosip".

"Ra, Tante mau nanya... Kirana lagi suka sama seseorang nggak sih?" tanya Tante Sindi tiba-tiba dengan volume suara yang sengaja dikencangkan, membuat beberapa anggota Gibros menoleh penasaran.

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang