Part 8

490 175 33
                                        

Hai selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote ya.

Happy Reading🤗

Malam semakin larut, namun suasana di ruang tengah kediaman Farel justru terasa semakin pekat oleh ketegangan yang tak kasat mata. Meski raga mereka ada di sana, pikiran masing-masing melayang jauh. Kirana yang mengaku mengantuk nyatanya masih duduk terdiam, tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Marco duduk bersandar, namun matanya tak bisa berbohong. Tatapannya terus terkunci pada sosok Kirana yang tampak begitu anggun sekaligus rapuh dalam balutan gaun pesta yang belum sempat ia ganti.

"Liatin mulu... Samperin sana, jangan cuma jadi pengintai," bisik Farel pelan, mulai jengah melihat sahabatnya yang biasanya pemberani dalam tawuran, tapi mendadak pengecut dalam urusan hati.

Marco menghela napas berat, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran kursi dengan gelisah. "Pengin banget gue ungkapin semuanya sekarang, Rel. Tapi gue merasa ini bukan waktu yang tepat. Gue nggak mau makin ngerusak suasana hatinya."

Rafael yang mendengar itu langsung mendecih pelan. "Lama lo, Co! Keburu diembat 'Sugar Daddy' beneran atau direbut orang lain baru tahu rasa. Jangan sampai nanti lo nangis di pojokan gara-gara gengsi lo lebih tinggi dari nyali lo."


Di sudut lain, Sinta yang sejak tadi memperhatikan drama bisu itu mulai gemas sendiri. Ia sengaja tetap tinggal di rumah Farel meski Natan sudah mengajaknya pulang berkali-kali. Naluri kakaknya mengatakan bahwa malam ini harus ada yang diselesaikan.

Sinta menyenggol lengan Kirana dengan siku, membuat gadis itu sedikit tersentak dari lamunannya. Dengan gerakan kepala yang halus, Sinta memberi kode ke arah Marco.

"Na," bisik Sinta lirih, "tuh... ada yang matanya mau copot gara-gara ngeliatin lo terus dari tadi."

Kirana melirik sekilas ke arah Marco. Benar saja, tatapan mereka sempat beradu selama beberapa detik sebelum Kirana dengan cepat membuang muka kembali. Jantungnya berdegup kencang, ada rasa sesak yang kembali muncul, namun juga ada getaran aneh yang tak bisa ia sangkal.

"Biarin aja, Kak. Mungkin dia lagi liatin dinding di belakang gue," sahut Kirana dingin, meski tangannya meremas ujung gaunnya dengan erat.

Sinta hanya tersenyum tipis. Ia tahu benar, di balik sikap acuh tak acuh adiknya, ada harapan yang masih tersisa, dan di balik kedinginan Marco, ada penyesalan yang sedang membakar hebat.

~~~

Sinar matahari pagi menembus jendela kelas, namun suasana hati Kirana masih sedingin embun yang belum menguap. Rena, yang sejak tadi menopang dagu, menatap sahabatnya itu dengan dahi berkerut.

"Na, gue kok curiga ya... kayaknya Kak Marco itu nggak beneran pacaran sama Kak Dini," bisik Rena, memulai penyelidikannya.

Kirana tetap fokus mencatat, meski tangannya sedikit kaku. "Lo denger sendiri kan kemarin? Dia yang ngomong langsung di depan muka kita."

"Tapi vibe-nya beda, Na. Mereka nggak ada manis-manisnya sama sekali. Gue rasa Kak Marco cuma mau manas-manasin lo," desak Rena lagi.

Kirana menghentikan pena-nya, lalu menoleh pelan. "Udah deh, Ren. Nggak usah bahas dia lagi. Mending lo pikirin gimana nasib perasaan lo ke Abang gue."

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang