Selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote dan komen ya
Happy Reading🤗
Sore itu, taman rumah Kirana terasa lebih sepi dari biasanya. Di tengah hiruk-pikuk persiapan pernikahan Farel di dalam rumah, Kirana justru terasing dalam lamunannya.
"Jangan ngelamun, nanti kesambet penunggu pohon mangga baru tahu rasa lo," celetuk Farel yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Gue gabut, Bang. Mau bantuin Mama tapi dilarang keras, katanya takut gue malah bikin rusuh," gerutu Kirana.
"Ya iyalah! Lo kalau bantuin Mama, bukannya kelar malah Mama yang harus kerja dua kali buat beresin kekacauan lo," kekeh Farel. Ia sempat terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu. "Eh, tunggu bentar."
Farel masuk ke dalam rumah dan kembali dengan sebuah kotak yang terbungkus pita rapi. "Nih. Ada paket buat lo."
"Apaan nih? Dari siapa?" tanya Kirana heran.
"Buka aja sendiri."
Dengan jari gemetar, Kirana menarik ujung pita itu. Di dalamnya terdapat tumpukan foto polaroid yang merekam momen-momen manisnya bersama Marco dulu. Ada juga makanan ringan favoritnya dan sebuah pucuk surat. Kirana menarik napas dalam sebelum membaca barisan kalimat di sana:
Hai, Kirana. Ini gue, Marco. Maaf nggak bisa ngasih ini langsung ke lo.
Gue cuma mau bilang, waktu balik ke Indo kemarin adalah momen paling berharga buat gue. Bisa ketemu, bercanda, dan melihat lo lagi... itu lebih dari cukup. Makasih ya sudah maafin kesalahan masa lalu gue. Sebenarnya, rasa itu masih ada, Ra. Masih sangat besar. Tapi gue sadar diri. Gue merasa nggak pantas hadir lagi di hidup lo setelah semua luka yang gue buat. Maafkan gue dan tolong sampaikan salam selamat buat pernikahan Abang lo, maaf gue nggak bisa hadir. Terimakasih untuk semuanya.
— Marco Alexander
Air mata Kirana jatuh tanpa permisi, membasahi kertas surat itu. Ada rasa kecewa yang menyesakkan dada. "Kenapa lo pengecut, Marco? Gue juga sayang sama lo, tapi kenapa lo malah milih buat mundur dan pergi lagi?" ucapnya frustrasi, meremas foto-foto di tangannya.
Farel yang melihat adiknya hancur, segera menarik Kirana ke dalam pelukannya. "Udah, Dek. Marco itu minder. Dia terlalu mencintai lo sampai dia ngerasa nggak pantes buat lo. Tenang ya, nanti biar Abang yang bicara sama dia."
Malam itu, Kirana tidak bisa tidur. Ucapan Papanya seminggu lalu tentang krisis perusahaan di London terus terngiang. Ia butuh jarak. Ia butuh tempat di mana ia tidak akan terus mengingat aroma jaket Marco atau tawa Farel.
Kirana melangkah menuju ruang kerja Papanya. "Pa... biar Kirana yang pergi ke London. Kirana mau urus perusahaan di sana."
Reno tertegun, meletakkan kacamatanya. "Kamu serius, Nak?"
"Serius, Pa. Kirana bakal lanjutin kuliah di sana sambil kerja. Kirana janji bakal bagi waktu."
"Tapi kamu harus berangkat besok pagi, Sayang. Gimana sama pernikahan Abangmu?" tanya Mama Sari yang baru masuk dengan wajah cemas.
Kirana tersenyum getir, menyerahkan sebuah flashdisk ke tangan Mamanya. "Kirana sudah siapkan semuanya. Tolong kasih ini ke Abang setelah akad nikah selesai. Dan tolong... jangan biarkan Abang cari Kirana saat acara berlangsung. Kirana nggak mau ngerusak hari bahagianya."
Papa Reno memeluk putrinya erat, ada rasa bangga sekaligus haru.
"Maafin Papa ya sudah bikin kamu repot, Nak. Terima kasih."
Pagi keberangkatan pun tiba. Sebelum ke bandara, Kirana meminta waktu untuk jalan-jalan terakhir kalinya bersama Sinta ke mall.
"Nak, nanti kalau kamu sudah lahir, kita jalan-jalan bareng Aunty Ra ya. Aunty bakal beliin semua yang kamu mau," ucap Sinta lembut sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Kirana hanya tersenyum getir, tangannya ikut mengelus perut kakaknya. Hatinya perih luar biasa. Di dalam tasnya sudah ada tiket pesawat satu arah menuju London. Ia tahu, janji jalan-jalan itu mungkin tak akan terwujud dalam waktu dekat.
Maafin gue, Kak. Gue harus pergi biar hati gue nggak makin hancur di sini, batin Kirana.
Hari itu, di bawah lampu mall yang terang, Kirana merekam setiap tawa kakaknya, seolah ingin membawa semua suara itu sebagai bekal di tengah dinginnya kota London nanti. Ia pergi bukan karena tidak sayang, tapi karena terkadang, seseorang perlu hilang untuk benar-benar ditemukan.
~~~
Lantai dingin bandara dan aroma kopi malam menemani Kirana di jam-jam terakhirnya di Indonesia. Tengah malam itu, hanya ada Papa Reno dan Mama Sari yang mengantarnya. Tidak ada Farel, tidak ada Sinta. Hanya sunyi dan koper yang siap melintasi samudera.
"Hati-hati di sana, Sayang. Jaga kesehatanmu baik-baik," ucap Mama Sari dengan suara parau, menahan tangis yang nyaris pecah.
"Jangan lupa jalan pulang, Nak. Sejauh apa pun kamu melangkah, rumahmu ada di sini," tambah Papa Reno sambil merangkul pundak putrinya.
Mereka bertiga berpelukan erat. Kirana tahu, perjalanannya ke London bukan sekadar kunjungan singkat. Ada masalah perusahaan yang harus ia bereskan, dan ada luka hati yang harus ia sembuhkan. Ia tidak tahu kapan ia akan menginjakkan kaki di tanah ini lagi.
Pagi harinya, Jakarta diselimuti suasana pesta. Gedung pernikahan dihias begitu megah. Papa Reno sengaja membuat suasana sehidup mungkin, mengatur segalanya agar perhatian keluarga tidak teralihkan pada satu kursi yang kosong.
Di depan penghulu, Farel mengucap janji suci dengan lantang. Detik itu juga, Farel dan Rena resmi menjadi suami istri. Sorak bahagia dan doa-doa memenuhi ruangan.
Resepsi berlangsung meriah, namun di balik tawa Farel, ada secercah rasa heran yang mulai muncul karena adiknya belum juga kelihatan sejak pagi.
Baru setelah tamu undangan pulang dan hanya tersisa keluarga inti di ruang VIP, Papa Reno meminta semua orang duduk. Sebuah layar besar di depan ruangan perlahan menyala.
Video itu dimulai dengan wajah Kirana yang tersenyum lebar, meski matanya terlihat sedikit sembab. Ia tampak duduk di kursi bandara dengan latar belakang orang-orang yang berlalu-lalang.
"Hallo, Prend! Mohon maaf lahir batin, ya, saya tidak bisa hadir secara fisik di tengah-tengah kalian yang lagi bahagia ini," Kirana memulai videonya dengan nada ceria yang dipaksakan.
Farel dan Sinta mematung. Rena menutup mulutnya, tak percaya.
"
Pertama, buat Bang Farel dan sahabat gue—eh, Kakak Ipar gue—Rena... Selamat ya! Akhirnya sah juga kalian. Maafin Kirana ya, Bang, gue nggak bisa jadi saksi mata saat lo tegang ngucapin akad. Sekarang gue lagi di London, Bang. Gue mutusin buat pegang kendali perusahaan Papa di sini."
Kirana menghela napas panjang dalam video itu, ia melambai ke arah kamera.
"Buat Kak Sinta... Maafin Kirana ya, Kak. Mungkin nanti gue nggak bisa nemenin lo lahiran atau jalan-jalan bareng dalam waktu dekat. Tapi ingat pesen gue, kalau anak lo lahir nanti, jangan biarkan digendong Bang Farel! Nanti ketularan nakalnya! Hahaha."
Tawa kecil Kirana di video itu terdengar bergetar, sebelum suaranya berubah menjadi lebih lembut dan tulus.
"Untuk semuanya... mohon maaf Kirana harus pergi tanpa pamit langsung. Gue butuh waktu untuk dewasa, gue butuh waktu untuk belajar mandiri di sini. Jaga kesehatan kalian semua, ya. Jangan kangen-kangen banget sama Kirana yang cantik ini. Dadah... Kirana pamit dulu, ya."
Video berakhir dengan layar hitam. Ruangan itu mendadak hening. Farel menundukkan kepala, memegang flashdisk di tangannya erat-erat. Ia baru sadar, pelukan Kirana semalam adalah pelukan perpisahan yang sesungguhnya. Di belahan bumi lain, Kirana mungkin sedang menatap langit London yang asing, memulai hidupnya yang baru sendirian.
Terimakasih yang sudah baca cerita ini dukung terus cerita ini
NK.
KAMU SEDANG MEMBACA
Markir[SELESAI]
Novela JuvenilMarkir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya! Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel. Langsung baca aja ya Terimakasih Ikuti kisahnya ya! Cover by pinterest
![Markir[SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/286804278-64-k999670.jpg)