Part 12

393 156 39
                                        

Hai selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote

Happy Reading🤗

Berita tentang Marco yang memproklamirkan Kirana sebagai kekasihnya menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru sekolah. Di grup-grup chat kelas hingga bisik-bisik di koridor, nama mereka menjadi topik utama. Banyak yang patah hati, namun tak sedikit yang sudah menduga bahwa si "Singa Dingin" itu akhirnya luluh di tangan Kirana.

Di bawah pohon rindang taman sekolah, Kirana duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. "Gila ya, satu sekolah heboh gara-gara teriakan kamu tadi."

"Biarin," sahut Marco santai sambil menatap wajah Kirana dari samping. "Biar mereka tahu batas. Gue nggak mau ada yang berani nyentuh lo lagi."

Kirana terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu. "Kenapa sih Cantika segitunya ganggu kamu? Dia sesuka itu sama kamu?"

Marco menghela napas, matanya menerawang. "Dia obsesi. Dulu dia ngejar-ngejar gue, tapi gue nggak pernah respon karena perilakunya yang kasar dan suka merundung orang."

"Tapi... dia cantik, kan?" tanya Kirana pelan, sedikit memancing.

"Cantik sih," jawab Marco tanpa jeda, "tapi perilakunya itu yang bikin gue ilfil."

Hati Kirana mencelos. Ia mencoba menahan diri. "Berarti, kalau perilakunya baik, kamu pasti udah pacaran sama dia sekarang?"

"Pasti sih," ucap Marco lagi dengan jujur yang terlalu lugu. Matanya masih menatap ke arah depan, sama sekali tidak menyadari bahwa suasana di sampingnya mendadak membeku.

Kirana bangkit berdiri dengan napas yang memburu. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar tasnya dan melangkah pergi dengan langkah lebar.

Marco sempat tertegun beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh dan mendapati bangku di sampingnya sudah kosong. Ia mengedarkan pandangan dan melihat punggung Kirana yang menjauh dengan cepat.

"Lho, Na? Mau ke mana?" teriaknya bingung. Namun, sedetik kemudian, otaknya baru memproses kalimat yang ia ucapkan tadi.

"Bego banget sih lo, Marco!" rutuknya pada diri sendiri sambil memukul keningnya cukup keras. "Masa depan pacar sendiri malah muji cewek lain. Lo cari mati?!"

Marco langsung berlari mengejar Kirana menuju kelasnya. Ia harus segera meluruskan ucapannya sebelum Kirana benar-benar mogok bicara. Namun, nasib sial berpihak padanya. Begitu sampai di depan kelas Kirana, ia melihat Bu Endang sudah berdiri di depan kelas dengan penggaris kayunya.

Marco hanya bisa mematung di ambang pintu, menatap Kirana yang duduk di bangkunya dengan wajah ditekuk tanpa mau meliriknya sedikit pun.

"Apes," gumam Marco lemas. Ia tahu, jam pulang sekolah nanti akan menjadi sesi sidang yang sangat berat baginya.

~~~

Di dalam kelas, peringatan Rena terus berputar di kepala Kirana seperti kaset rusak. "Mungkin lo harus hati-hati, Ra. Kalau Kak Marco sampai dihasut Cantika, urusannya bisa panjang," bisik Rena hati-hati.

Kirana menghela napas berat, menutup bukunya dengan kasar. "Jangan bikin gue makin negative thinking, Ren. Gue lagi nggak mood mikirin apa pun sekarang."

Keduanya berjalan menuju parkiran dengan langkah gontai. Di sana, Marco sudah menunggu di samping motor besarnya, tampak gelisah. Di dekatnya ada Farel yang sudah siap membonceng Rena, sementara Rafael sudah lebih dulu melesat pulang.

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang