Part 4

692 221 42
                                        

Hai selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote ya.

Happy Reading🤗

Pagi kembali menyapa dengan kicauan burung yang bersahut-sahutan, namun kedamaian di SMA Cendrawasih terusik oleh kerumunan siswa yang memadati koridor utama. Mereka tampak saling berdesakan di depan papan pengumuman (mading).

"Ada apa sih, Na? Kok rame banget kayak antrean sembako?" tanya Kirana sambil berjinjit, mencoba mengintip di balik bahu para siswa.

Rena mengangkat bahu tak acuh. "Mana gue tahu, Ra. Gue kan datang bareng lo, bukan bareng gosip."

Kebetulan, seorang siswi bernama Siti melintas dengan wajah penuh binar kepo. Kirana segera mencegatnya. "Eh, Siti! Ada pengumuman beasiswa ya sampai pada heboh gitu?"

Siti menggeleng cepat, matanya melirik Kirana dengan tatapan penuh arti. "Bukan beasiswa, Ra. Tapi foto lo sama Kak Marco! Gila ya, satu sekolah langsung gempar!"


"Hah? Foto gue?" Kirana ternganga. Tanpa membuang waktu, ia dan Rena merangsek masuk ke tengah kerumunan.

Benar saja. Di tengah mading tertempel sebuah foto berukuran cukup besar. Dalam foto itu, Kirana dan Marco terlihat berdiri bersisihan, seolah hanya ada dunia milik berdua. Padahal, Kirana ingat betul foto itu diambil semalam di markas saat banyak orang di sana.

"Lho, ini kan aslinya rame banget. Ada Bang Farel, ada Rafael, ada Kak Sinta juga. Kok di foto ini cuma ada gue sama Kak Marco? Hebat banget yang edit, niat banget bikin skandal!" Kirana geleng-geleng kepala, bingung dengan "keajaiban" teknik cropping oknum tak dikenal itu.

Rena menyenggol lengan Kirana. "Biasalah, Ra. Ada fans garis keras Kak Marco yang sirik, atau mungkin mak comblang amatir yang pengen kalian bersatu."

Kirana menghela napas panjang, namun bukannya marah, ia malah memperhatikan fotonya lebih detail. "Tapi yang gue sesalin cuma satu, Na. Harusnya orang yang fotoin ini bilang dulu kek, biar posisi gue bagus. Bisa-bisanya gue kefoto pas wajah gue lagi mlongo kayak orang hilang gitu! Mana sampingnya Kak Marco yang estetik banget lagi. Nggak adil!"

Rena langsung meledak dalam tawa. "Sumpah, Ra! Di saat orang lain panik kena skandal, lo malah protes soal angle foto?"

Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas karena bel pelajaran sudah memanggil. Namun, sepanjang jalan, bisik-bisik siswa lain tak kunjung reda.

"Satu sekolah ngira lo udah resmi pacaran sama Kak Marco, Ra," ucap Rena saat mereka sudah duduk di bangku.

"Hah? Kok bisa ditarik kesimpulan sejauh itu cuma karena satu foto mlongo?" tanya Kirana frustrasi.

Rena bersandar santai sambil memutar-mutar pulpennya. "Ya gimana nggak? Marco Alexander yang anti-cewek itu tiba-tiba berdiri sedekat itu sama cewek. Itu udah kayak berita besar selevel berita negara!"

"Gila ya orang-orang. Ya kali gue pacaran sama dia. Bisa-bisa gue kena serangan jantung tiap hari kalau beneran sama singa kutub kayak gitu," gerutu Kirana.

Rena terkekeh, lalu menatap sahabatnya itu dengan pandangan menggoda. "Ya udah, syukuri aja, Ra. Itu tandanya satu sekolah mendoakan lo sama Kak Marco berjodoh. Harusnya lo seneng didoain yang bagus-bagus gitu."

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang