Hai selamat datang dikisah MarKir jangan lupa vote ya.
Happy Reading🤗
Aroma kopi yang kuat dan alunan musik lo-fi menemani Kirana dan Rena sore itu. Mereka baru saja melepas penat setelah jam kuliah yang menguras otak. Namun, di tengah suapan cheesecake-nya, gerakan Rena tiba-tiba terhenti. Matanya menyipit, menatap lurus ke arah sudut ruangan.
"Eh, Ra... itu bukannya Kak Marco, ya?" tanya Rena setengah berbisik.
Kirana tersedak kecil, lalu menoleh malas. "Hah? Ngapain juga dia di sini?" jawabnya, mencoba terdengar tidak peduli meski jantungnya sedikit berdesir.
"Buntutin lo paling. Takut lo kenapa-napa," goda Rena sambil menyeringai nakal.
"Ngawur lo!" sahut Kirana dengan nada meninggi, wajahnya mendadak panas.
Belum sempat Kirana protes lebih jauh, Rena sudah mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Kak Marco!" panggilnya lantang.
"Heh, ogeb! Kenapa dipanggil, sih?" geram Kirana panik, ingin rasanya menenggelamkan diri di balik buku menu.
"Diem, deh. Gue kangen tahu, mau ngobrol!" balas Rena antusias.
Marco yang merasa namanya dipanggil menoleh. Begitu melihat siapa yang memanggilnya, langkah kakinya yang tegap langsung berbelok menghampiri meja mereka. Aura kepemimpinannya tetap terpancar meski ia hanya mengenakan kemeja formal yang lengannya digulung hingga siku.
"Silakan duduk, Kak," ucap Rena ramah, menunjuk kursi kosong tepat di samping Kirana.
Marco menarik kursi itu, duduk dengan tenang namun tatapannya sempat terkunci sejenak pada Kirana. "Kalian di sini juga?"
"Iya, baru banget balik kampus. Kakak sendiri? Ini kan masih jam kerja," selidik Kirana, berusaha menjaga suaranya tetap datar.
Marco menyandarkan punggung, tersenyum tipis. "Terserah gue, dong. Gue kan CEO-nya. Lagi suntuk banget di kantor, makanya ke sini mau cari kopi-dan sedikit udara segar."
"Sombong amat," lirih Kirana, cukup pelan namun tetap tertangkap oleh indra pendengaran Marco.
"Biarin," balas Marco santai, membuat Kirana memutar bola matanya malas.
Rena yang merasa ada ketegangan manis di antara keduanya tiba-tiba melempar bom atom. "Btw Kak Marco, gue mau tanya serius. Emangnya Kakak nggak ada rasa kangen gitu sama Kirana?"
Deg.
Kirana hampir menyemburkan kopinya. "Heh! Apaan sih, Ren? Nggak lucu!"
Marco terdiam. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, namun sorot matanya berubah menjadi lebih dalam dan sendu.
Sebenarnya, ada ribuan kata rindu yang tertahan di kerongkongannya. Ada keinginan kuat untuk menarik Kirana ke dalam pelukannya dan mengatakan bahwa ia sangat merindukan gadis itu.
Namun, ia sadar, tembok realita di antara mereka sekarang sudah berbeda.
Alih-alih menjawab, Marco memilih berdiri, merapikan kemejanya yang tidak kusut. "Yaudah, gue pamit duluan. Masih ada urusan," ucapnya tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Markir[SELESAI]
Teen FictionMarkir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya! Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel. Langsung baca aja ya Terimakasih Ikuti kisahnya ya! Cover by pinterest
![Markir[SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/286804278-64-k999670.jpg)