Hai selamat datang dikisah MarKir jangan lupa vote + komen ya
Happy Reading🤗
Hari Rabu yang dinanti pun tiba. Kediaman Marco diselimuti atmosfer nostalgia yang kental. Di balik keriuhan itu, Kirana berdiri di sudut ruangan dengan kegelisahan yang nyata. Ia merasa seperti kepingan puzzle yang belum menemukan pasangannya, di saat semua orang—termasuk Farel yang datang menggandeng Raisya—tampak begitu sempurna dengan keluarga kecil mereka.
Meskipun tidak ada seragam putih abu-abu di sana, aroma masa SMA seolah menyeruak masuk, memenuhi setiap sudut ruangan dengan kenangan manis.
"Wah, Pak Wakil kita datang!" seru salah satu teman lama, menyambut Farel yang masuk dengan senyum mengembang. Seluruh mata tertuju pada keluarga kecil itu, termasuk Marco yang menyambut mereka dengan binar bahagia di matanya.
Keriuhan itu pecah menjadi gelak tawa, hingga sebuah suara familiar dari arah pintu menghentikan segalanya.
"Lha, tega bener kalian nggak nungguin gue?!" teriak Rafael.
Suasana semakin heboh. Rafael, pria yang selama ini menghilang di negeri orang, akhirnya pulang membawa "pasukan" lengkap: seorang istri dan anak. Obrolan pun mengalir deras, mulai dari menanyakan kabar, pamer pencapaian, hingga hal-hal tidak penting yang mengundang tawa khas masa remaja.
Kejutan sesungguhnya dimulai saat Marco mengajak mereka ke area belakang rumah. Di sana, berderet rapi motor-motor legendaris yang dulu menjadi identitas anggota inti Gibros.
Motor-motor itu seolah baru saja keluar dari mesin waktu; mengkilap dan terawat. Sesuai janji rahasia mereka dulu, saat kepemimpinan berganti ke generasi baru, motor-motor asli milik para pendiri disimpan di tempat rahasia yang hanya diketahui oleh mereka.
"Wah, motor gue! Gila, langsung flashback gue ke zaman dikejar-kejar warga," ucap Farel sambil mengelus tangki motornya dengan sayang.
"Masih ingat cara naiknya nggak, Rel? Jangan-jangan kaki lo udah kaku karena kelamaan pakai sepatu pantofel?" ledek Rafael.
"Kagak lah! Biarpun jadi bapak-bapak, jiwa gue tetap rider!" balas Farel tak mau kalah.
Para istri hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku suami mereka. Aura kekanakan itu mendadak muncul kembali. Namun, suasana berubah menjadi karismatik saat mereka mengenakan kembali jaket kulit kebanggaan Gibros dan memasang helm. Vibes anak muda masih terpancar kuat, seolah usia hanyalah deretan angka di atas kertas.
Deru mesin motor yang bersahutan menciptakan simfoni rindu. Mereka melaju keluar dari gerbang, membiarkan angin jalanan Jakarta sekali lagi menyapa jaket kulit mereka, mengenang masa muda di atas aspal yang sama.
Sementara para "bapak-bapak" asyik dengan dunianya, para istri berkumpul di ruang tengah. Kirana duduk di antara mereka, menatap kepergian motor-motor itu dari jendela.
"Gimana, Ra?" tanya Rena lembut, menyadari tatapan adiknya.
"Bahagia banget, Kak. Merasakan atmosfer ini terulang lagi... rasanya kayak pulang ke rumah yang sebenarnya," ucap Kirana tulus.
"Aku juga merinding liat Abangmu pakai jaket itu lagi. Masih ganteng ya? Jelas lah, ayah dari anak-anakku," puji Rena dengan wajah bersemu.
"Cieee, mulai deh bucinnya! Ya iyalah ganteng, kan Abang aku!" goda Kirana.
Rena tertawa, lalu melirik Kirana dengan tatapan jahil. "Dulu kan statusnya ayang, sekarang jadi ayah. Lah, kalau kamu? Dari dulu statusnya ayang, tapi berakhir di-ghosting."
KAMU SEDANG MEMBACA
Markir[SELESAI]
JugendliteraturMarkir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya! Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel. Langsung baca aja ya Terimakasih Ikuti kisahnya ya! Cover by pinterest
![Markir[SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/286804278-64-k999670.jpg)