Part 26

321 137 30
                                        

Selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote and komen.

Happy Reading🤗

Di ruang VIP itu, suasana meriah pernikahan seketika luruh menjadi keheningan yang menyesakkan. Farel menatap layar kosong di depannya dengan tatapan kosong. Rasanya seperti ada bongkahan es yang menghantam dadanya.

"Kenapa aku baru sadar sekarang, Ren? Kenapa aku sebodoh ini sampai nggak tahu adikku sendiri pergi?" Suara Farel bergetar, tangannya mengepal erat menahan gejolak emosi yang membuncah.

Rena, yang masih mengenakan gaun pengantin cantiknya, tak kuasa menahan air mata. Ia memeluk suaminya erat, membiarkan riasan wajahnya sedikit rusak oleh air mata. "Aku juga... aku juga nggak sadar, Mas. Kita terlalu sibuk dengan acara kita sampai nggak tahu kalau dia lagi sendirian di bandara... hiks."

Papa Reno melangkah maju dengan bahu yang tampak lebih merosot. "Maafin Papa, Farel. Papa yang memintanya pergi lebih awal untuk urusan perusahaan. Papa nggak bermaksud merusak hari bahagiamu."

"Farel nggak marah soal perusahaannya, Pa," sahut Farel pelan, suaranya parau. "Farel cuma kesal... kenapa Kirana nggak bilang langsung? Kenapa dia harus sembunyi di balik video itu?"

"Karena dia nggak sanggup melihatmu sedih, Nak," potong Mama Sari sambil menyeka air matanya. "Dia tahu, kalau dia pamit langsung, kamu nggak akan pernah melepaskannya pergi."

Di tengah suasana haru itu, Natan—yang sedari tadi terdiam—tiba-tiba bergumam dengan wajah tanpa dosa. "Parah sih Kirana... padahal gue udah niat ngundang Lee Min Ho buat dia hari ini biar dia nggak jomblo lagi. Malah kabur ke London."

Semua orang tertegun. Sinta, yang tadinya sesenggukan, spontan menoleh dengan wajah bingung. "Gila ya lo, Tan... dalam kondisi begini masih sempat-sempatnya ngelawak," ucap Sinta sambil mengusap hidungnya yang memerah.


Sementara itu, ribuan kilometer di belahan bumi lain, sebuah taksi berhenti di depan sebuah rumah bergaya klasik di sudut kota London. Kirana turun dengan langkah yang terasa sangat berat. Udara dingin London langsung menusuk tulang, jauh berbeda dengan kehangatan Jakarta yang baru saja ia tinggalkan.

Ia menyeret kopernya masuk ke dalam rumah yang sudah disiapkan Papanya. Rumah itu elegan dan nyaman, namun terasa begitu luas dan kosong bagi Kirana seorang diri.

Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang masih beraroma toko. Matanya menatap langit-langit kamar yang asing. Tidak ada suara teriakan Farel, tidak ada aroma masakan Mama Sari, dan tidak ada gangguan dari Sinta. Hanya ada suara jarum jam yang berdetak konsisten.

"Selamat, Ra. Lo akhirnya benar-benar sendiri sekarang," bisiknya pada sunyi.

Kirana memejamkan mata, berusaha mengumpulkan sisa tenaganya. Besok, hidupnya bukan lagi tentang skripsi atau mengejar Marco, melainkan tentang memimpin perusahaan di kota yang sama sekali tidak ia kenali. Sebelum terlelap, satu tetes air mata terakhir jatuh di bantalnya.

~~~

Beberapa hari setelah pesta pernikahan usai, rumah keluarga Danendra terasa seolah kehilangan denyut nadinya. Di ruang tengah yang biasanya riuh oleh perdebatan tidak penting antara Kirana dan Farel, kini hanya ada keheningan yang tersisa.

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang