Markir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya!
Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel.
Langsung baca aja ya
Terimakasih
Ikuti kisahnya ya!
Cover by pinterest
Hai selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote ya
Happy Reading🤗
Sebagai penutup hari kemenangan Farel, keluarga besar Kirana memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran fine dining di pusat kota. Restoran itu memiliki pemandangan lampu kota yang indah, namun bagi Kirana, suasana romantis itu justru menjadi "bencana" kecil baginya.
Di meja makan yang panjang itu, formasi duduknya sangat tidak menguntungkan bagi Kirana. Di depannya, Mama Sari dan Papa Reno sesekali saling menyuapi dengan romantis. Di samping kirinya, Farel dan Rena asyik bercengkerama dunia milik berdua, sesekali tertawa kecil sambil mencicipi steak mereka.
Kirana meletakkan garpu dan pisaunya dengan bunyi ting yang cukup keras. Ia baru saja menandaskan hidangannya, tapi hatinya merasa tidak kenyang.
"Muales banget aku kalau acaranya kayak gini. Tahu gitu mending tadi gue stay di rumah aja, pesan seblak," gerutu Kirana sambil bersedekap dada.
Mama Sari menoleh, menatap putri bungsunya dengan senyum tertahan. "Kenapa, sayang? Makanannya nggak enak?"
Kirana mendengus pelan, matanya melirik ke sekeliling meja. "Makanannya sih bintang lima, Ma. Tapi pemandangannya yang minus. Coba liat Mama sama Papa, terus Abang sama Kak Rena... lah, terus aku sama siapa? Sama piring kosong?" ucap Kirana dengan nada dramatis yang mengundang tawa.
"Hahahaha! Iri bilang bos!" ledek Farel tanpa beban, sengaja merangkul bahu Rena lebih erat untuk menggoda adiknya.
"Dih, sombong banget yang baru punya gelar dan baru punya calon," gumam Kirana sambil memutar bola mata, meskipun akhirnya ia ikut tertawa kecil saat Papa Reno mengacak rambutnya gemas.
Acara makan malam itu berakhir dengan penuh kehangatan. Setelah memastikan semua perut kenyang dan hati senang, mereka memutuskan untuk pulang. Farel, sebagai calon suami yang siaga, pamit untuk mengantar Rena pulang terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah.
Malam itu, meski Kirana menggerutu sepanjang jalan, ada rasa syukur yang menyelinap di hatinya melihat orang-orang yang ia sayangi begitu bahagia.
~~~
Malam semakin larut, namun mata Kirana enggan terpejam. Ia duduk di balkon kamarnya, membiarkan angin malam menyapa kulitnya sementara matanya terpaku pada taburan bintang yang berpijar di langit kelam.
"Kenapa gue jadi kangen Kak Marco begini, ya?" gumamnya lirih pada angin.
"Apa perasaan itu sebenernya nggak pernah bener-bener pergi?"
Tepat saat nama itu melintas di benaknya, ponsel di genggamannya bergetar. Sebuah notifikasi muncul, membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.