Hai selamat datang dikisah MarKir jangan lupa vote ya.
Happy Reading🤗
Pagi menyapa dengan sisa-sisa kebahagiaan yang masih kental terasa di kediaman keluarga Danendra. Harum bunga-bunga dekorasi pernikahan Sinta kemarin pun masih tercium lamat-lamat, membuat suasana rumah terasa sangat damai. Namun, kedamaian itu seketika pecah oleh jeritan panik dari lantai atas.
"What gue lupa hari ini ada kelas pagi"monolog Kirana yang baru saja sadar dari tidurnya dan langsung bersiap siap.
"WHAT?! Gue lupa hari ini ada kelas pagi!" teriak Kirana begitu melirik jam digital di atas nakasnya. Angka yang tertera di sana seolah sedang menertawakannya yang baru saja bangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kirana langsung melompat dari tempat tidur. Ia bergerak secepat kilat, menciptakan kekacauan kecil di kamarnya sendiri.
"Aduh, mepet banget jamnya! Kenapa harus hari ini sih dosennya galak?! Aduh, ruwet... ruwet!" monolognya sambil berlarian mencari handuk dan menyambar kemeja yang masih tergantung.
Sambil menyikat gigi dengan satu tangan, tangan lainnya sibuk memasukkan buku ke dalam tas. Rambut yang masih acak-acakan ia ikat asal, namun anehnya tetap memberikan kesan effortlessly pretty yang khas.
Turun dari tangga, Kirana sudah tidak sempat lagi untuk duduk manis menikmati sarapan di meja makan. Ia berlari kecil melewati ruang makan di mana Mama Sari dan Papa Reno sedang menikmati kopi pagi mereka dengan santai.
"Mama, Papa, Kirana berangkat dulu! Telat banget ini, ada kelas pagi!" serunya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian dengan gerakan super cepat.
"Nggak sarapan dulu, Ra? Ini ada roti..." ucap Mama Sari, namun ucapannya terputus oleh suara pintu depan yang ditutup.
"Nanti di kampus aja, Mah! Love you!" teriak Kirana dari luar.
Tak lama kemudian, terdengar suara mesin motor Kirana yang dipacu keluar dari halaman rumah. Ia membelah jalanan pagi yang mulai padat, mencoba mengejar waktu demi selembar absensi, sambil sesekali menggerutu pada dirinya sendiri karena terlalu larut dalam euforia pesta semalam.
~~~
Pertemuan rahasia di sebuah restoran mewah menjadi babak baru dalam drama cinta Marco dan Kirana. Rafael, yang biasanya bertingkah konyol, kini tampil sebagai jembatan bagi dua hati yang hancur.
Farel membawa kedua orang tuanya memasuki sebuah restoran bertema fine dining dengan perasaan bingung. Tadi, selepas jam kampus, Rafael meneleponnya dengan nada yang sangat serius—hal yang jarang terjadi—memintanya membawa Mama Sari dan Papa Reno ke tempat ini.
"Halo Om, Tante. Apa kabar?" sapa Rafael yang sudah berdiri menyambut mereka. Ia menyalami punggung tangan kedua orang tua Farel dengan takzim.
"Kabar baik, Rafael. Wah, kamu makin dewasa saja ya. Kapan pulang?" tanya Mama Sari hangat.
"Kemarin, Tan. Masih mencoba beradaptasi dengan cuaca Jakarta," jawab Rafael ramah.
"Sukses terus ya, Nak, untuk studinya di sana," tambah Papa Reno.
"Siap, Om!" Setelah berbasa-basi sejenak, mereka duduk. Farel langsung menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik.
"Jadi, apa hal mendesak yang mau lo omongin?"
Rafael menarik napas panjang, raut wajahnya berubah serius. "Jadi begini Om, Tante, Farel... Kedatangan saya ke sini adalah untuk meluruskan benang kusut antara Marco dan Kirana. Marco tidak pernah berniat mengkhianati Kirana. Pertunangan itu adalah jebakan licik dari keluarga Selina."
KAMU SEDANG MEMBACA
Markir[SELESAI]
Teen FictionMarkir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya! Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel. Langsung baca aja ya Terimakasih Ikuti kisahnya ya! Cover by pinterest
![Markir[SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/286804278-64-k999670.jpg)