Part 28

359 146 46
                                        

Selamat datang dikisah MarKir jangan lupa vote + komen

Happy Reading🤗

Lima tahun telah berlalu sejak pesawat itu membawa Kirana pergi. Begitu banyak momen besar yang ia lewatkan; ia tidak ada di sana saat Rena berjuang melahirkan, ia hanya bisa melihat pertumbuhan Raisya melalui layar ponsel, dan ia kehilangan waktu berharga untuk bertengkar dengan Farel secara langsung.

Kini, Raisya Danendra sudah berusia tiga tahun—gadis kecil yang cerdas dan cantik.

Sementara itu, bagaimana dengan Marco? Pria itu masih di sana, di antara tumpukan ambisinya, mencoba mencari sosok pengganti Kirana namun selalu gagal. Tak ada yang bisa menandingi kerumitan dan kehangatan gadis itu.

"Lima tahun sudah cukup. Gue pulang sekarang," bisik Kirana pada dirinya sendiri sambil menatap cakrawala London untuk terakhir kalinya. Tanpa kabar, tanpa pengumuman, ia meminta sekretarisnya memesan tiket pertama menuju Jakarta. Ia ingin memberikan sebuah kejutan yang tak terlupakan.


Sore itu, kediaman Danendra sedang ramai. Tradisi kumpul keluarga sedang berlangsung; tawa Raisya dan suara lari-lari kecil El (anak Sinta) menghidupkan suasana. Tepat saat tawa Farel meledak mendengar cerita Natan, lonceng rumah berbunyi.

Bi Inah membuka pintu dan hampir menjatuhkan nampan yang dibawanya. Di hadapannya berdiri seorang wanita elegan dengan kacamata hitam dan senyum yang sangat ia kenali.

"Selamat sore, semuanya..." suara itu rendah namun jernih, bergema di ruang tamu yang mendadak sunyi senyap.

Semua orang mematung. Mama Sari nyaris menjatuhkan cangkir tehnya. Papa Reno melepas kacamatanya, mengucek mata berkali-kali.

"Nggak ada nih yang niat peluk gue? Biar kayak adegan reuni di sinetron gitu?" celetuk Kirana, membuyarkan kebekuan itu dengan gaya khasnya.

"Ya Tuhan... Kirana!" Mama Sari berlari memeluk putri bungsunya, tumpah ruah rasa rindu yang tertahan selama lima tahun dalam tangisan haru. Kirana memeluk satu per satu keluarganya, hingga ia sampai di depan Farel.

Farel berdiri mematung. Wajahnya terlihat kesal, sebuah dendam rindu karena ditinggal tanpa pamit lima tahun lalu. Ia membuang muka saat Kirana mendekat.

"Masih mau merajuk, Bang?" goda Kirana. Tanpa menunggu jawaban, Kirana menghambur memeluk kakaknya erat.

"Maafin Kirana ya, Bang... gue pulang."
Pertahanan Farel runtuh. Ia membalas pelukan itu dengan sangat erat, mencium puncak kepala adiknya berkali-kali. "Lo jahat banget, Ra. Lama banget pulangnya," bisik Farel parau.


Namun, momen haru itu terganggu oleh sebuah serangan kecil. Raisya, yang melihat ayahnya dipeluk wanita asing, merasa terancam. Ia berlari dan... HAP! Raisya menggigit kaki Kirana.

"ADUHH! Sakit, sayang!" seru Kirana kaget.

"Eh, Raisya! Jangan, Nak. Ini Aunty Ra," ucap Farel cepat sambil menggendong putrinya.

"Aunty aap? Isya ndak tau," ucap Raisya dengan gaya cadelnya yang menggemaskan, menatap Kirana penuh curiga.

"Nggak apa-apa, sini sama Aunty cantik. Kamu cantik banget sih, mirip Mama Rena. Untung nggak mirip Papa Farel, kalau mirip dia nanti kamu jadi jelek," ejek Kirana sambil mengambil alih Raisya ke gendongannya.

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang