Selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote ya
Happy Reading🤗
Farel melongo menatap piring di hadapannya yang kini bersih mengkilap. "Parah sih, Ra! Gue yang beli, tapi gue nggak kebagian satu suap pun?"
Kirana menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu menatap kakaknya tanpa rasa bersalah. "Kan tadi Abang bilang ini buat gue? Ya gue habiskanlah sebagai bentuk penghargaan."
Farel mendengus, lalu mengubah posisinya menjadi lebih serius. "Eh Dek, Abang mau tanya. Lo bentar lagi lulus, nih. Papa pasti minta lo pegang salah satu cabang perusahaan. Lo udah mutusin mau di mana?"
Kirana meletakkan gelas minumannya, tatapannya yang semula jenaka mendadak berubah tajam dan penuh ambisi. "Gue milih cabang London, Bang. Karena bentar lagi Lo nikah, jadi Lo fokus jaga Mama, Papa, dan istri lo di sini aja."
Farel tertegun. "London? Jauh banget, Ra. Cabang di Indonesia juga masih banyak yang butuh sentuhan lo."
"Yang di Indo biar Abang aja yang urus. Kalau urusan ekspansi ke luar negeri, biar seorang Kirana Danendra yang turun tangan," ucap Kirana dengan nada sombong tingkat dewa, lengkap dengan kibasan rambut imajiner.
"Yaudah, 'iya-in' aja biar yang sombong ini seneng," sahut Farel sambil terkekeh. "Btw, siap-siap ganti baju. Kita ke rumah Kak Sinta sekarang, Mama udah nunggu di sana."
Sesampainya di rumah Sinta, Kirana benar-benar menunjukkan jati dirinya sebagai anggota keluarga yang paling "tidak tahu malu". Tanpa menyapa atau melepas lelah, langkah kakinya otomatis terarah ke meja makan yang penuh dengan hidangan lezat.
"Wah, pas banget! Enak banget nih kayaknya. Yuk, makan-makan!" seru Kirana santai. Tangannya sudah hampir menjangkau sendok sayur, padahal tuan rumah saja belum duduk.
Plakk!
"Kirana! Kamu ya, sopan sedikit dong!" tegur Mama Sari setelah berhasil mendaratkan pukulan ringan di tangan anak bungsunya itu.
"Aduh, Ma! Sakit tahu. Santai aja kali, Kak Sinta kan nggak bakal pelit sama adeknya yang lucu ini," protes Kirana sambil mengelus tangannya dan duduk di samping Farel dengan wajah cemberut.
"Mana sih Kak Sinta? Lama banget turunnya," tanya Kirana kemudian.
"Bentar lagi, tadi masih rapi-rapi di atas," jawab Ello dengan senyum sabar.
Tak lama, Sinta muncul menuruni tangga. Wajahnya terlihat sangat cerah, dengan senyum yang terus mengembang lebar seolah sedang menyimpan rahasia besar.
Setelah semua berkumpul, Sinta berdiri di samping Ello dan menggenggam tangan suaminya erat. "Oke, karena ada Mama sama Tante Sari juga di sini... Sinta mau kasih pengumuman penting."
Semua mata tertuju padanya. Sinta menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca karena bahagia. "Hari ini Sinta mau kabarin kalau... Sinta positif hamil."
Suasana mendadak hening sejenak sebelum pecah menjadi sorak bahagia. "Wah! Selamat, Sayang!" seru Mama Sinta sambil memeluk putrinya dengan haru.
Mama Sari pun ikut memeluk Sinta, mengelus perut yang masih rata itu dengan penuh kasih sayang.
"Wahhh! Selamat, Anda resmi naik pangkat jadi bumil!" seru Kirana penuh drama, seolah sedang memberikan penghargaan Oscar.
Farel yang gemas melihat adiknya yang malah bercanda di saat mengharukan seperti ini, spontan memukul lengan Kirana lagi.
"ADOH! Sakit, Bang! Huaaa... Kirana dipukulin terus dari tadi, padahal kan cuma bejanda!" teriak Kirana sambil pura-pura menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Markir[SELESAI]
JugendliteraturMarkir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya! Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel. Langsung baca aja ya Terimakasih Ikuti kisahnya ya! Cover by pinterest
![Markir[SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/286804278-64-k999670.jpg)