Hai selamat datang dikisah MarKir jangan lupa vote and komen ya.
Happy Reading🤗
Malu, tremor, dan salah tingkah. Itulah tiga kata yang paling tepat menggambarkan kondisi Kirana saat ini. Bagaimana tidak? Mantan yang paling sulit ia lupakan tiba-tiba muncul di hadapannya dengan aura CEO yang begitu kental, ditambah paras yang jauh lebih tampan dari sebelumnya.
"Marco, silakan kamu bicara dan jelaskan semuanya, ya. Om tinggal dulu," ucap Papa Reno memberi ruang, seolah memahami ada banyak hal yang perlu diluruskan.
Begitu Papa Reno beranjak, Kirana langsung mendekat ke telinga Farel.
"Abang... gue malu banget, parah! Ketemu mantan dong, mana makin cakep pula!" bisiknya dengan nada panik yang tertahan.
Farel yang memang hobi menjahili adiknya malah sengaja mengeraskan suaranya. "Hah? Apa, Ra? Enggak denger, tadi kamu bilang Marco cakep?"
"Bodo amat, Bang! Rese lo!" Kirana menyikut lengan Farel dengan wajah memerah.
Rafael yang mengerti situasi pun segera memberi kode kedipan mata pada Farel.
"Btw, Rel... di sini nggak ada air ya? Haus nih gue."
"Oiya! Yuk, El, gue kasih tahu rahasia besar kalau di rumah gue itu air putih warnanya putih," sahut Farel sambil menarik Rafael pergi dari ruang tamu.Kirana mendengus melihat tingkah mereka. "Lha, di mana-mana air putih ya putih warnanya. Ogeb banget Abang gue kalau bikin alasan," monolognya pelan.
Kini hanya tersisa Marco dan Kirana di ruang tamu. Suasana mendadak menjadi sangat canggung, seolah oksigen di ruangan itu menipis.
"Ekhm... Ra," ucap Marco memberanikan diri. Ia menatap lekat ke arah Kirana, mencoba mencari sisa-sisa binar yang dulu selalu ada untuknya.
"Iya?" sahut Kirana singkat, ia pun memberanikan diri mengangkat wajah dan membalas tatapan Marco.
"Gue mau jelasin... gue nggak jadi nikah sama Selina. Ternyata keluarganya cuma mau manfaatin aset keluarga gue. Dan gue di sini mau minta maaf, Ra. Mungkin dulu lo mikir gue cuma jadiin lo pelampiasan atau manfaatin lo, tapi sumpah, perasaan gue ke lo itu nyata," jelas Marco dengan suara rendah namun penuh penekanan.
Kirana terdiam sejenak, menatap kejujuran di mata Marco. "Enggak apa-apa, Co. Gue ngerti. Gue udah maafin lo kok dari lama. Santai aja," jawabnya tulus, meski hatinya sebenarnya sedang berdisko ria.
Suara pintu terbuka memecah suasana puitis itu. Sinta datang bersama Ello, suaminya, dengan wajah yang berbinar-binar.
"Lho, ada Marco? Terus ada Kirana juga? Wah, ada apa nih? Bau-bau CLBK ya?" goda Sinta sambil mendekat.
"Kepo lo! Orang tua mah diem aja, mana tahu urusan anak muda!" ketus Kirana mencoba menutupi kegugupannya.
"Heh! Gue belum tua ya! Gue masih pengantin baru," balas Sinta tidak terima.
"Ya kan nanti punya anak, terus jadi orang tua. Gimana sih?" debat Kirana yang tidak mau kalah.
Mama Sari pun muncul dari arah dapur. "Wah, ada pengantin baru nih. Mari, Ello, Sinta, sekalian makan malam di sini."
"Asyik! Memang pas banget perut aku laper, Tan," sahut Sinta riang, sementara Ello menyalami tangan Mama Sari dengan sopan.
Makan malam berlangsung hangat. Di sela-sela suapan, Kirana menyadari satu hal: Marco tidak berhenti menatapnya. Setiap kali Kirana melirik, pria itu sedang menunggunya dengan senyuman tipis yang sangat mematikan.
'Lo kalau kangen bilang kali, Co. Jangan buat gue salting begini!' batin Kirana bergejolak. Padahal, ia sendiri yang paling rindu, tapi gengsinya masih setinggi langit.
"Ello, Sinta, kalian sudah rencana honeymoon?" tanya Mama Sari memecah keheningan.
"Lusa Tante, kita berangkat ke Bali," jawab Sinta dengan nada bahagia.
"IKUT! Kirana ikut dong ke Bali!" seru Kirana heboh. Ia memang pencinta berat suasana pantai di Bali.
"Heh! Lo mau ngapain ikut? Orang mau honeymoon itu butuh privasi, Dek. Jangan jadi nyamuk di sana," tegur Farel sambil menggelengkan kepala.
"Tapi kan mau ikut... Ma, Kirana ikut Kak Sinta ke Bali ya?" rayu Kirana pada mamanya.
Mama Sari mengelus rambut Kirana lembut. "Jangan ya, Sayang. Orang honeymoon itu nggak boleh diganggu. Nanti kalau kamu sudah nikah, baru boleh pergi berdua. Sekarang belum waktunya."
"Lama banget..." gumam Kirana kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
Rafael yang sejak tadi diam pun menyeletuk dengan santai, "Ceilah... nggak usah sedih, Ra. Orang jodohnya sudah duduk manis di depan mata, tinggal nunggu dilamar doang kok."
Seketika riuh tawa pecah di meja makan. Kirana dan Marco sama-sama menunduk dengan wajah merah padam. Malam itu, bukan hanya perut yang kenyang, tapi harapan-harapan yang sempat mati seolah kembali bersemi di kediaman Danendra.
~~~
"Haduh! Bisa-bisanya gue bangun siang banget?! Mana hari ini dosennya galak banget lagi!" monolog Kirana panik. Ia berlarian mengitari kamar dengan satu kaki sudah memakai kaos kaki, sementara tangan satunya sibuk menggeledah tumpukan buku di atas meja.
Setelah drama "di mana kunci motor" dan "mana lipstick favorit" selesai, Kirana melesat turun ke lantai bawah dengan napas tersengal.
"Mah! Kirana berangkat dulu ya! Nanti Kirana pulang sore, mau jalan dulu sama Rena!" pamitnya sambil mencium punggung tangan Mama Sari sekilas tanpa sempat mengerem langkahnya.
"Iya, Nak! Hati-hati, jangan ngebut!" teriak Sari yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang selalu chaos di pagi hari.
Begitu sampai di kampus, Kirana belum sempat mengatur napas saat sesosok manusia sudah berdiri di depan parkiran dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Siapa lagi kalau bukan Rena, sahabat sejatinya yang semalam menjadi korban curhatan Kirana lewat telepon sampai jam dua pagi.
"Gimana?!" tagih Rena langsung, tanpa menyapa "halo" atau "selamat pagi". Ia mengikuti langkah cepat Kirana menyusuri koridor kampus.
"Gimana apanya?" tanya Kirana balik, pura-pura fokus membetulkan letak tasnya.
"Ck, jangan sok amnesia deh! Pertemuan semalam sama sang Mantan yang sudah jadi CEO itu, gimana kelanjutannya?!" Rena mulai heboh sendiri, tangannya bergerak antusias seolah dia yang sedang jatuh cinta. "Gue bilang juga apa, mending lo balikan aja sekarang. Cocok banget tahu!"
Kirana terkekeh pelan, mencoba bersikap santai meski jantungnya sempat mencelos mengingat tatapan Marco semalam.
"Ngalir gitu aja, Na. Nggak usah buru-buru."
"Dih, sok tenang banget lo! Awas ya nanti kalau diputusin lagi nangisnya ke gue," goda Rena sambil menyenggol bahu Kirana.
"Mulai deh... Udahlah, Na. Biarin aja dulu. Kalau emang dia jodoh gue, semesta pasti punya cara buat narik dia balik ke gue lagi," ucap Kirana dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
Terimakasih yang udah baca dukung cerita ini terus ya.
NK.
KAMU SEDANG MEMBACA
Markir[SELESAI]
Teen FictionMarkir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya! Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel. Langsung baca aja ya Terimakasih Ikuti kisahnya ya! Cover by pinterest
![Markir[SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/286804278-64-k999670.jpg)