Markir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya!
Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel.
Langsung baca aja ya
Terimakasih
Ikuti kisahnya ya!
Cover by pinterest
Hai selamat datang di kisahMarKir jangan lupa vote ya.
Happy Reading🤗
Malam perlahan luruh, berganti dengan semburat jingga di ufuk timur. Di kediaman Farel, kesibukan pagi mulai terasa. Setelah memastikan anak-anak Gibros terbangun di kamar tamu yang disiapkan semalam, Kirana bersiap menuju rutinitasnya.
"Bang, Kirana ke kelas dulu ya. Dan buat kalian..." Kirana menggantung kalimatnya, menatap tajam Farel dan teman-temannya satu per satu. "Jangan ada yang berani bolos."
Farel hanya terkekeh melihat adiknya yang mendadak jadi mandor pagi itu.
Waktu merambat cepat. Begitu bel istirahat melengking, perut Kirana dan Rena tak bisa diajak kompromi lagi. Namun, saat mengedarkan pandangan di kantin yang riuh, sosok yang dicari tak kunjung tampak.
"Iya juga, ya. Tumben nggak bikin rusuh di kantin. Coba lo chat gih," usul Rena.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tanpa curiga, Kirana dan Rena melangkah menuju atap sekolah. Namun, langkah Kirana mendadak kaku saat pintu rooftop terbuka. Di sudut sana, Marco—lelaki yang biasanya sedingin es dan menutup diri dari perempuan—tengah duduk bersisian dengan seorang gadis. Mereka tampak terlarut dalam obrolan yang hangat.
"Eh, ada Kirana sama Rena," seru Rafael memecah suasana.
Kirana hanya mampu mengangguk kaku dengan senyum yang dipaksakan, lalu duduk di tempat yang tersisa. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan di depannya.
"Kenalin, ini Dini. Pacar gue," ucap Marco datar namun lugas.
DEG.
Jantung Kirana seolah berhenti berdetak sesaat. Ada rasa nyeri yang menghujam ulu hati, perih yang tak berdarah. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia sadar—ia bukan siapa-siapa di hidup Marco.
"Kirana," ucapnya singkat sambil mengulurkan tangan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Dini," balas gadis itu ramah, tak menyadari badai yang sedang berkecamuk di hati orang di depannya.
"Kalian udah makan?" tanya Farel, mencoba mengusir kecanggungan yang mulai pekat di udara.