Hai selamat datang dikisah MarKir jangan lupa vote + komen ya.
Happy Reading🤗
Setelah pertemuan tak terduga dengan Marco di kafe tepi pantai, Farel tidak bisa menahan diri untuk tidak segera memberikan "laporan panas" kepada adiknya. Sambil berjalan menyusuri pasir putih bersama Rena, Farel menempelkan ponselnya ke telinga, menunggu nada sambung internasional itu berakhir.
Begitu panggilan berakhir, Rena langsung menyenggol lengan suaminya dengan penuh rasa ingin tahu. "Gimana? Kirana bilang apa waktu kamu kasih tahu kalau ada Marco di sini?"
Farel terkekeh, menggelengkan kepalanya sambil memasukkan ponsel ke saku celana pendeknya. "Tahu nggak jawaban si bocil itu apa? Dia cuma bilang, 'Terus? Apa hubungannya sama gue? Mau dia di Bali, di kutub utara, atau di bulan sekalipun, bukan urusan gue ya, Prend!' Gitu katanya, ketus banget."
Rena menghentikan langkahnya sejenak, menatap laut lepas dengan dahi berkerut. "Masa, sih? Suaranya nggak kedengeran kaget atau gimana gitu?"
"Nggak ada sama sekali. Malah dia langsung ganti topik nanyain oleh-oleh. Kayaknya Kirana beneran sudah move on deh dari Marco. London bener-bener mengubah dia jadi cewek dingin," ucap Farel.
Rena menghela napas panjang, ada sedikit rasa tidak percaya. "Mungkin juga, sih. Udara London kan memang dingin, mungkin hatinya ikut membeku. Kalau beneran sudah move on, kasihan juga ya si Marco."
Farel merangkul bahu istrinya, kembali berjalan santai menikmati sisa senja di Bali. "Ya sudah, Sayang. Biarin aja mereka urus kerumitan hati masing-masing.
Sekarang bukan urusan kita lagi. Fokus kita cuma satu: nikmatin honeymoon ini sampai puas."
"Bener juga. Biar mereka pusing sendiri sama gengsinya," sahut Rena sambil tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Farel.
~~~
Malam di Bali begitu indah bagi semua orang, kecuali bagi Marco. Ia berdiri mematung di balkon kamar hotelnya, menatap kerlap-kerlip lampu di kejauhan dengan perasaan yang berkecamuk.
"Kenapa setiap kali gue merasa sudah dekat untuk bertemu Kirana, selalu saja ada tembok yang menghalang? Kenapa?" gumam Marco, suaranya parau karena rasa frustrasi yang memuncak.
Beni, teman Marco yang sedari tadi asyik mengunyah kacang di sofa, menoleh malas. "Salah lo sendiri, Co. Sudah gue bilang dari dulu, jadi cowok itu harus sat-set sat-set. Jangan kebanyakan mikir sampai akhirnya kehilangan momen."
Marco menoleh tajam, matanya menyipit. "Diem lo. Sok menasihati padahal lo sendiri juga nggak punya ayang."
Beni tertawa renyah, sama sekali tidak tersinggung. "Lha, kok bawa-bapa ayang? Biarpun gue jomblo, seenggaknya gue nggak ngenes kayak lo. Lo itu lebih parah, Co. Orang sudah di depan mata, malah lo ghosting. Sekarang dia terbang ke London, baru deh lo ngerasa kehilangan."
Beni bangkit dari duduknya, menepuk bahu Marco pelan sebelum berjalan menuju pintu. "Pikirin deh. Kadang kesempatan itu nggak datang tiga kali. Gue cabut dulu ya, mau cari angin segar."
Setelah pintu tertutup, keheningan kembali menyergap. Marco menyandarkan dahinya di pagar balkon yang dingin.
Gue nggak tahu kapan takdir bakal mempertemukan kita lagi, Ra. Tapi gue berdoa, saat hari itu tiba, kita bisa bertemu dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang, batin Marco tulus.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di meja bergetar hebat. Nama "Mama" muncul di layar. Marco menghela napas, berusaha menetralkan suaranya sebelum mengangkat telepon.
"Iya, Ma?"
"Marco, kamu di Bali? Pulang dulu ya ke rumah sebelum balik ke Amerika lagi. Mama kangen banget, Sayang," suara lembut mamanya terdengar penuh harap di seberang sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Markir[SELESAI]
Teen FictionMarkir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya! Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel. Langsung baca aja ya Terimakasih Ikuti kisahnya ya! Cover by pinterest
![Markir[SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/286804278-64-k999670.jpg)