Extra Part!

455 132 45
                                        

Hai Welcome back!👋
Ada yang rindu Markir?atau rindu GIBROS?

Hayo kalau kangen ngomong nanti nyesel Lo kalau nggak ngomong hahahaha

Sekarang author buatin extra part buat kalian yang rindu dengan Marco Kirana dan anggota Gibros

Happy Reading🤗

"Pagi, guys!" seru seorang gadis remaja dengan ceria. Seragam SMA Cendrawasih yang dikenakannya tampak rapi, kontras dengan gaya bicaranya yang santai saat ia melangkah menuju meja makan.

Farel, sang ayah, mendongak dari balik koran digitalnya. "Guys, guys... yang sopan, Raisya. Papa ini orang tuamu, bukan anggota sirkus."

Raisya Danendra—putri tunggal Farel dan Rena—hanya menyengir lebar tanpa dosa. "Iya, Pa, maaf. Refleks!" Ia segera duduk dan mulai menyantap sarapannya dengan lahap.

"Raisya, nanti pulang sekolah langsung ke rumah. Jangan keluyuran sampai matahari hilang," tegur Rena lembut namun tegas. Ia sudah hafal tabiat putrinya yang sering menghilang entah ke mana setiap sore.

"Siap, Ibu Bos! Tapi maaf nih, nanti Raisya sudah ada janji sama sohib sejati," jawab Raisya dengan nada misterius.

Farel mengernyitkan dahi. "Sohib? Bukannya Kiara lagi di luar negeri ikut papanya dinas? Kamu mau main sama siapa?"

Raisya menggeleng cepat, matanya berbinar. "Bukan Kiara, Pa. Sohib Raisya itu Aunty Ra! Papa nggak tahu ya kalau aku sekarang sudah punya geng?"

Pernyataan itu sukses membuat Farel tersedak kopinya, sementara Rena menghentikan aktivitas mengoles selai. "Geng apa lagi, Sya?" tanya Rena khawatir.

"Kata Aunty Ra, nama geng kami itu KPS," ucap Raisya bangga.

"Singkatan dari apa? Kumpulan Pelajar Sholehah?" tebak Rena penuh harap.

Raisya tertawa renyah. "Kumpulan Para Seleb, hahahaha!"

Farel memijat pangkal hidungnya, sudah menduga ini adalah ulah adiknya. "Kirana memang agak miring. Jangan terlalu nurut sama tante kamu itu, nanti gilanya nular ke kamu."

"Tapi Pa, Raisya mau seperti Aunty Ra! Punya pacar ketua geng kayak Uncle Co. Duh, itu damage-nya parah banget, keren abis!" Raisya mulai menopang dagu, matanya menerawang membayangkan sosok ketua geng fiktif di kepalanya.

Rena terkekeh melihat tingkah halu putrinya. "Sudah, sudah. Jangan kepanjangan menghalunya, nanti telat. Buruan berangkat."


Raisya berpamitan, menyalakan motornya, dan membelah jalanan menuju SMA Cendrawasih. Sekolah itu masih berdiri kokoh, menjadi saksi bisu masa muda Farel yang penuh kenangan, dan kini menjadi tempat Raisya meniti jejak kelas 11-nya.

Di meja makan, suasana menjadi lebih tenang setelah kepergian Raisya. Farel masih menggeleng-gelengkan kepala.

"Raisya sudah besar ya, Ma. Sampai-sampai cita-citanya mau jadi pacar ketua geng," gumam Farel.

Rena tersenyum simpul. "Keturunan kamu juga, kan? Tapi aneh saja, kenapa dia begitu terobsesi?"

"Siapa lagi kalau bukan hasutan Kirana? Dulu dia kan terobsesi merekrut semua keponakannya jadi anggota geng. Karena Raisya perempuan, dia dicekoki ide kalau sudah besar harus cari pacar ketua geng," kenang Farel sambil tertawa kecil mengingat kelakuan adiknya yang memang 'minim akhlak' namun sangat menyayangi keluarganya.

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang