Markir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya!
Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel.
Langsung baca aja ya
Terimakasih
Ikuti kisahnya ya!
Cover by pinterest
Hai selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote ya.
Happy Reading🤗
Setelah meninggalkan kediaman Marco dengan hati yang hancur, Kirana tiba di rumah bersama Farel. Di ruang tengah, Mama Sari sudah menyambut mereka dengan senyum hangat.
"Gimana acaranya, Nak? Ramai?" tanya Mama Sari.
Kirana menarik napas dalam, memaksakan sebuah lengkungan di bibirnya. "Lancar kok, Mah," jawabnya singkat.
Namun, insting seorang ibu tak bisa dibohongi. Sari mendekat, memegang dagu Kirana. "Tunggu... kenapa mata kamu sembab begini? Kamu habis nangis?"
Pertahanan Kirana runtuh. Bendungan air matanya jebol seketika. Ia menghambur ke pelukan mamanya, terisak hebat sampai bahunya berguncang. "Hiks... Kirana dikhianati Marco, Mah. Dia... dia tunangan sama orang lain di depan mata Kirana sendiri."
Sari membeku. "Apa? Tega sekali Marco! Sudah, Nak, jangan menangis lagi. Air matamu terlalu berharga untuk laki-laki seperti dia," ucap Sari sambil mendekap erat putrinya.
Farel yang berdiri di belakang mereka mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. "Gue bakal kasih perhitungan sama lo, Marco," batinnya dengan napas memburu.
"Mah, Abang pergi sebentar!" pamit Farel ketus, lalu melesat pergi dengan emosi yang menggebu
Kirana yang berada di kamar merasa tidak tenang. Ia tahu betul watak keras abangnya. Ia segera menghubungi Yanto, orang kepercayaannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Astaga, Abang gila!" gumam Kirana. Ia segera menyambar kunci mobil dan memacu kendaraannya menuju kantor Farel.
Di dalam ruangan kerja yang dingin, Farel sedang memberikan instruksi tegas.
"Segera urus pembatalan kontrak dengan Alexander Group. Saya tidak mau ada hubungan apa pun dengan mereka lagi!"
"STOP!" teriak Kirana sambil membuka pintu dengan napas tersengal. Sekretaris Farel terlonjak kaget.
"Jangan dibatalin! Abang, lo gila ya? Lo harus profesional! Masalah pribadi jangan dibawa ke bisnis. Kasihan karyawan di sana kalau kontrak ini putus tiba-tiba," tegas Kirana.
Farel menatap adiknya tajam. "Gue lakuin ini demi lo, Ra! Gue nggak sudi kerja sama dengan orang yang sudah menginjak-injak harga diri adik gue!"
"Kalau lo mau gue tenang, lo jangan lakuin ini. Tunjukin kalau keluarga kita lebih berkelas daripada cara main mereka," balas Kirana mantap, menatap lurus ke mata Farel.
Farel menghela napas panjang, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran. "Oke, gue menyerah. Gue nurut sama lo. Tapi janji, jangan nangis lagi dan lo harus buka lembaran baru."
"Bakal diusahain. Aku janji," ucap Kirana lirih.
Pagi kembali menyapa. Kirana memutuskan untuk mengubur lukanya dalam kesibukan. "Mah, Kirana berangkat ya! Sarapan di kampus aja," pamitnya sambil memanaskan mesin motor. 'Gue bakal hapus lo dari hidup gue, Marco. Permanen,' batinnya sebelum melaju membelah jalanan.