Hai selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote ya.
Happy Reading🤗
Malam mulai merayap naik, menyisakan kehangatan yang tertinggal di kediaman Sinta. Para tamu undangan telah berpamitan pulang, meninggalkan suasana kekeluargaan yang jauh lebih santai dan akrab. Di ruang tengah, obrolan ringan dan tawa kecil masih terdengar di antara sanak saudara.
"Selamat ya untuk kalian berdua. Tante ikut bahagia melihat kalian akhirnya sampai di titik ini," ucap Mama Sari tulus, menyalami Sinta dan Elo secara bergantian.
"Terima kasih banyak, Tante," jawab Sinta dan Elo serempak dengan senyum yang tak kunjung pudar.
Papa Reno mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, merasa ada yang kurang. "Ngomong-ngomong, Kirana ke mana ya? Dari tadi kok nggak kelihatan?"
Mama Sari ikut menoleh ke sana kemari.
"Lho, iya ya. Ke mana anak itu? Tadi masih heboh makan kue."
Farel yang baru saja muncul dengan segelas minuman dingin menyahut sambil terkekeh. "Biarkan sajalah, Pa, Ma. Kirana lagi sama Marco. Kayak nggak pernah muda saja kalian ini," goda Farel telak.
Papa Reno tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Oh, si Marco. Ya sudah, biarkan mereka. Kasihan juga sudah setahun menahan rindu."
Di sudut taman yang lebih tenang, jauh dari riuh percakapan keluarga, dua sejoli itu tengah duduk berdampingan. Udara malam yang sejuk seolah menjadi saksi bisu kembalinya dua hati yang sempat terpisah jarak ribuan kilometer.
Kirana menyandarkan kepalanya dengan nyaman di pundak kokoh Marco, menghirup aroma parfum pria itu yang sangat ia rindukan. "Pacar aku ini... mau ke sini kok nggak bilang-bilang sih? Sengaja banget ya bikin aku jantungan?" tanya Kirana pelan.
Marco terkekeh rendah, suara beratnya terdengar begitu menenangkan di telinga Kirana. Ia mengelus rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Kalau aku kasih tahu, namanya bukan kejutan lagi, Ra. Aku mau lihat muka kaget kamu yang lucu itu."
"Tapi beneran lho, aku hampir nggak ngenalin kamu pas pakai masker tadi," keluh Kirana manja.
Marco menghentikan elusan tangannya, lalu menoleh menatap manik mata Kirana dengan dalam. "Tapi jujur... kamu nggak kangen sama aku?"
Kirana terdiam sejenak, menatap wajah Marco yang kini tampak lebih dewasa. Tanpa banyak bicara, ia langsung melingkarkan lengannya di leher Marco dan memeluknya erat, seolah tak ingin ada lagi jarak yang memisahkan mereka.
"Miss you so much, Marco," bisik Kirana tulus.
Marco membalas pelukan itu tak kalah erat, mencium puncak kepala Kirana dengan penuh perasaan. "Miss you too, Kirana. Lebih dari yang kamu tahu."
Malam itu, di bawah temaram lampu taman, Jakarta dan Jogja tak lagi terasa jauh. Jarak ratusan kilometer itu seolah menguap, digantikan oleh dekap hangat yang membuktikan bahwa penantian selama satu tahun ini benar-benar sepadan.
~~~
Pagi itu, suasana di kediaman Danendra terasa berat bagi Kirana. Meski ia sudah bersiap dengan gaun pilihannya, hatinya terus saja berdegup kencang karena kegelisahan yang tak beralasan.
"Abang... kok perasaan gue nggak enak banget ya?" ucap Kirana pelan, menatap pantulan dirinya di cermin yang tampak muram.
Farel yang sedang mengikat tali sepatu menoleh. "Kenapa? Lo sakit?"
"Enggak, aku sehat. Tapi rasanya ada sesuatu yang salah," lirih Kirana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Markir[SELESAI]
Ficção AdolescenteMarkir (Marco Kirana) bukan markir motor Lo ya! Dua sejoli yang di pertemukan dengan Marco sebagai teman farel dan Kirana adalah adik farel. Langsung baca aja ya Terimakasih Ikuti kisahnya ya! Cover by pinterest
![Markir[SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/286804278-64-k999670.jpg)