Part 14

330 141 44
                                        

Hai selamat datang dikisah MarKir jangan lupa vote ya.

Happy Reading🤗

Lembaran putih soal ujian akhirnya resmi ditutup. Atmosfer di SMA Cendrawasih yang tadinya tegang, kini berubah menjadi riuh rendah penuh kelegaan. Bagi kelas 12, hari ini bukan sekadar akhir dari ujian, melainkan gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Di pojok kantin, Marco dan anggota inti Gibros berkumpul. Tidak ada lagi buku di atas meja, yang ada hanya gelas-gelas minuman dan wajah-wajah yang tampak jauh lebih ringan. Namun, di balik kelegaan itu, terselip pembicaraan serius tentang arah langkah mereka selanjutnya.

"Selesai juga akhirnya perjuangan kita," ucap Farel sambil menyandarkan punggungnya, mengembuskan napas panjang seolah seluruh beban di pundaknya baru saja menguap.

"Iya, sedikit lega. Tapi jujur, gue malah mulai kepikiran langkah setelah ini," sahut Marco pelan.

Rafael menatap teman-temannya satu per satu. "Emang rencana kalian mau ke mana setelah lulus nanti?"

"Gue ke Jogja," jawab Marco singkat namun mantap. Sebuah jawaban yang diam-diam menyimpan kepedihan karena jarak yang akan terbentang antara dirinya dan Kirana.

"Gue tetap di Jakarta. Kuliah sambil mulai pegang perusahaan Papa," timpal Farel.

"Kalau gue..." Rafael menjeda sejenak, menatap langit-langit kantin dengan penuh ambisi. "Gue mau ke Amerika. Mau coba peruntungan di sana."

Keheningan sempat menyelimuti meja itu. Tiga pilar Gibros akan terpencar ke tempat yang sangat jauh. "Terus gimana nasib Gibros kalau kita pisah-pisah begini?" tanya Rafael cemas.

Marco menepuk bahu Rafael. "Nanti malam kita bicarakan semuanya di basecamp. Kita harus tentukan siapa yang bakal jaga bendera kita tetap berkibar selama kita pergi."


Tak berselang lama, Kirana dan Rena datang menghampiri. Keceriaan mereka seolah menjadi penawar di tengah pembicaraan berat para lelaki itu.

"Weyy! Selamat ya! Akhirnya otak kalian nggak perlu berasap lagi gara-gara soal ujian," seru Kirana sambil memberikan senyum paling manis untuk Marco.

"Makasih, Na," sahut mereka kompak.
Marco menatap Kirana, ada rasa bersalah yang terselip karena ia belum sempat bercerita soal rencananya ke Jogja.

"Ra, nanti gue ke basecamp dulu ya? Ada urusan penting sama anak-anak."

Kirana yang sedang asyik meminum es tehnya hanya mengangguk santai. "Iya, nggak apa-apa kok. Pergi saja, kan urusan geng memang penting."

Kirana mencoba terlihat biasa saja, meski dalam hatinya ia mulai menebak-nebak pembicaraan serius apa yang akan terjadi di basecamp malam ini. Ia tahu, setelah ujian usai, waktu kebersamaan mereka akan menjadi sangat mahal.


~~~

Malam itu, basecamp Gibros tidak seramai biasanya dengan dentuman musik atau gelak tawa yang pecah. Suasana terasa lebih khidmat, seolah setiap sudut ruangan ikut merasakan beratnya sebuah perpisahan yang kian mendekat. Asap rokok tipis dan aroma kopi menjadi saksi bisu berkumpulnya seluruh anggota di bawah kepemimpinan Marco untuk terakhir kalinya sebelum mereka terpencar.

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang