Part 10

472 168 13
                                        

Hai selamat datang di kisah MarKir jangan lupa vote ya.

Happy Reading🤗

Pagi itu, suasana kelas terasa agak suram. Kirana dan Rena sudah duduk di bangku mereka, namun perhatian mereka tertuju pada barisan kursi di depan. Di sana, Rafli duduk dengan bahu merosot, wajahnya pucat pasi dengan bekas lebam yang masih menghiasi sudut matanya.

"Na, lo nggak kasihan liat Rafli? Dia kelihatan lemas banget," bisik Rena prihatin.

Kirana menghela napas, rasa bersalah kembali merayapi hatinya. "Iya, Ren. Kenapa dia harus masuk sekolah kalau keadaannya masih kayak gitu?"

Begitu bel istirahat berbunyi, Kirana menahan Rena sejenak. "Ren, lo duluan aja ke kantin. Pesanin gue makanan ya, gue mau mampir ke meja Rafli sebentar."

Kirana mendekati Rafli yang sedang menyandarkan kepala di atas meja. "Nih, minum dulu," ucap Kirana lembut sambil menyodorkan botol air mineral dingin.

Rafli mendongak, tersenyum tipis yang tampak menyakitkan. "Makasih, Ra."

"Kenapa masuk? Harusnya lo istirahat di rumah," tanya Kirana dengan nada menyesal. "Sekali lagi, gue minta maaf atas nama Marco, ya."

Rafli terkekeh pelan, meski suaranya terdengar parau. "Nggak apa-apa, Ra. Itu tandanya dia bener-bener sayang sama lo. Btw, lo ke sini nggak takut dimarahi Marco?"

Kirana menggeleng pelan, meski hatinya sedikit was-was. "Enggak akan. Ya udah, gue ke kantin dulu ya. GWS, Raf."


Sesampainya di kantin, Kirana langsung duduk di samping Marco yang tampak sibuk dengan ponselnya. Suasana di meja itu terasa ganjil.

"Dari mana?" tanya Marco tanpa menoleh, suaranya sedingin es.

"Dari kelas," jawab Kirana mencoba terdengar santai.

Rena yang duduk di depan mereka menyenggol kaki Kirana di bawah meja, lalu berbisik sangat pelan, "Tadi Marco nyusulin lo ke kelas, Na. Dia liat lo lagi sama Rafli."

Mampus, batin Kirana. Benar saja, Marco langsung bungkam seribu bahasa. Kirana mencoba mengajaknya bicara, menawarkan makanannya, bahkan menyentuh lengannya, namun Marco hanya diam seribu bahasa dengan rahang yang mengeras.

"Marco, maaf..." bisik Kirana tepat di samping telinganya.
Marco tidak bergeming. Ia bahkan tidak mau melirik Kirana sedikit pun.

"Gue cabut dulu," pamit Marco dingin kepada anak-anak Gibros, lalu pergi begitu saja meninggalkan Kirana yang mematung.


Sisa hari itu menjadi siksaan bagi Kirana. Ia tidak bisa fokus pada penjelasan guru di depan kelas. Pikirannya terus berputar pada bagaimana cara menjinakkan kembali "singa" yang sedang merajuk itu.

"Na, nanti gue langsung pulang ya? Ada sepupu gue baru datang dari luar kota," pamit Rena saat mereka berjalan keluar kelas.

"Iya, nggak apa-apa. Lo dijemput supir, kan?" tanya Kirana.

"Iya. Lo pulang bareng Marco?"
Kirana mengedikkan bahu lesu. "Semoga saja."

Namun, harapan Kirana pupus. Di parkiran, motor besar Marco sudah tidak ada di tempatnya. Hatinya mencelos. Ternyata Marco benar-benar marah hingga tega meninggalkannya tanpa kabar. Dengan langkah berat dan perasaan kesal yang bercampur sedih, Kirana terpaksa menghampiri Farel.

Markir[SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang