Bab 8

166K 19.2K 1K
                                        

Happy Reading (❁´◡'❁)

Ada typo kalian tandain aja ya
Makasih



Ananta mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota di pagi hari ini.

Menganggukkan kepalanya berkali-kali mengikuti irama musik yang dia hidupkan di mobil bahkan sesekali gadis itu meletupkan permen karetnya.

"Say Lalisa Love Me Lalisa Love Me"

"Call Me Lalisa Love Me Lalisa Love Me"

Mobil telah sampai di parkiran sekolah khusus sebelum beranjak dia menatap pantulan dirinya di cermin.

"Perfect" Setelah memakaikan kacamata hitam di hidungnya yang kecil namun mancung.

Keluar dari mobil dengan gaya slow motion dan mengibaskan rambut manjanya.

Namun bukannya suara teriakan memuji ketika dia keluar mobil tapi suara tertawa terbahak-bahak sampai ada yang ngik-ngik.

Ananta melorotkan sedikit kacamata hitamnya menatap semua orang dengan menautkan kedua alisnya.

Dia bingung kenapa banyak yang menertawakan nya padahal hari ini perasaannya penampilannya sudah sempurna, cantik, manis dan keren.

"Ananta coba liat deh kebawah"

Ananta menurut dia menundukan kepalanya setelah ada seorang gadis menunjuk kearah bawah, dan betapa terkejutnya ketika menunduk.

Bahkan Ananta sendiri hampir kejengkang, sungguh ini memalukan.

Dia ternyata belum memakai rok sekolahnya dan masih memakai celana pendek mana gambar hello kitty lagi.

Pipi dan telinga Ananta memerah ketika melihatnya, "Anjing! kenapa gue bisa lupa belom pake rok si"

Siswa-siswi yang melihatnya langsung saja kembali menyemburkan tawanya.

Ananta dengan terburu-buru masuk kedalam mobil.

"Gila memalukanmau ditaroh dimana muka gue" Ujar Ananta dengan nada frustasi.

Ananta kemudian mengganti dengan baju olahraga didalam mobil untung saja hari ini dia ada mata pelajaran olahraga sehingga dia membawa baju olahrag dan untung juga dia mempunyai seragam cadangan di lokernya.

Ananta memang tadi berangkat sekolah dengan terburu-buru bahkan Ananta sendiri pagi tadi tidak melihat kedua orang tua dan adiknya sarapan tadi pagi saja cuman sendiri.

Ananta menghembuskan nafas berkali-kali menetralisir rasa malunya.

Ketika sudah tenang dia kemudian keluar dengan perlahan-lahan.

Ternyata orang-orang yang tadi melihat masih menatap Ananta dengan menahan tawa.

Ananta melangkah dengan dagu di angkat padahal dalam hati nya sedang merutuki kebodohannya.

Meski orang-orang melihatnya Ananta tidak malu dan berjalan dengan sombong beda dengan pipi Ananta dan telinganya yang masih terlihat memerah.

Figuran Novel (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang