Bab 44

53.3K 6.5K 285
                                        

➹Happy Reading➷

❀❀❀

"Aaaa Mamih ada upil nempel di tangan Bella."

"Huwaa mana upilnya segede gaban lagi. Tolongin Bella, Leo. Aaa."

Bella sedaritadi terus saja menjerit dan berteriak karena ada upil yang menempel di tangan nya.

Namun kedua sahabat nya tidak ada yang membantu. Keyra yang mengeryit dan menjauh karena jijik, dan Ananta yang sedang menahan tawa.

Bella menatap Ananta dengan wajah memerah, "Ananta! Lo kenapa buang upil lo ke arah gue si!"

"Ananta!"

Ananta menyemburkan tawanya. Dia daritadi menahan tawa ketika melihat Bella yang terus mencak-mencak dengan muka memerah seperti badut.

"Huwaa mamih upil si Ananta gede banget." Ujar Bella sambil mengibas-ngibaskan tangan nya.

Ananta memutar bola matanya, "Itu bukan upil gue, Bel."

Bella melotot, "Mana ada! Lo yang daritadi ngupil. Masa iya si Keyra!" Ujarnya dan melotot kearah Keyra.

"Heh Saodah, lo tahu 'kan daritadi gue ngobrol sama lo." Protes Keyra sambil menunjuk dia sendiri.

Bella mengangguk dan menatap tajam Ananta, "Heh daki anoa. Ini pasti upil lo 'kan?! Aaa upil nya bulet mana gede lagi!" Teriaknya lagi.

Bella sekarang menyodorkan tangannya yang terdapat upil kepada Ananta dan Keyra dengan wajah yang semakin memerah.

"Bella sialan! Jauhi tangan lo dari gue." Teriak Keyra sambil bergidik ngeri.

"Bel coba lo pegang itu upil apa bukan."

"Heh mana mau gue pegang upil lo. Kalo upil gue si fine-fine aja."

Ananta menahan tawa, "Itu double tip pe'a."

"Masa?"

Ananta memutar bola matanya, "Hooh. Itu double tip yang gue bulet-bulet."

"Lo nggak percaya? Periksa sono." Lanjutnya dengan menyuruh.

"Sialan lo anjing." Bella memeriksanya dan ternyata memang itu bukan upil.

"Tamanlah gas keun."

Ananta melangkah untuk keluar kelas. Baru saja dia keluar kelas namun dia sudah menabrak seseorang.

"Eh sorry gue nggak sengaja."

Ananta membulatkan matanya, ternyata dia menabrak pria yang semalam menyatakan perasaannya.

"Arga, Gue minta maaf. Gue nggak sengaja." Ananta canggung dan tersenyum secara paksa.

"Gue nggak papa kok." Jawabnya sambil tersenyum tipis.

Ananta menatap kepergian Arga dengan alis mengernyit. Pria itu memang langsung pergi tanpa mengucapkan apapun lagi. Ananta tidak mengharapkan sesuatu dari Arga. Meskipun dia memang harus berhati-hati kepada Arga, tapi dia merasa tidak enak kepada pria itu.

Apalagi tadi dia melihat ada perasaan sedih dari dalam mata Arga ketika bersitatap dengannya.

Ananta menghela nafas lagian baik dia ataupun Arga tidak ada yang salah. Perasaan memang tidak bisa di salahkan.

Figuran Novel (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang