BAB 3 - Broken Home

1K 180 64
                                        

Sudah lebih dari tiga hari sejak Karina dengan suara tegas mengumumkan hubungan Janu dan Liana tanpa sengaja. Namun gaungnya belum juga mereda. Sekarang, hampir dua minggu Liana, Janu, dan Karina hidup dalam lingkaran yang membelit erat.

Gosip itu merambat cepat, seperti asap yang tak bisa dihentikan. Di lorong-lorong, setiap kali Liana lewat, ada kepala yang saling membungkuk, bisik-bisik yang langsung berubah jadi senyap begitu ia menoleh. Grup chat kelas yang ramai membicarakan tangkapan layar dan spekulasi—tentang "si benalu" yang mengganggu pasangan idola sekolah.

Ada yang mencibir, "Ngapain sih dia masih mau? Udah jelas Janu cuma suka sama Karina." Ada yang berusaha membela, walau nadanya lebih seperti kasihan, "Kasihan banget ya dia, Cuma dimanfaatin sama mereka." Tapi buat Liana, semua komentar itu menancap sama dalamnya, seperti jarum yang diselipkan di bawah kulitnya.

Jangan tanyakan bagaimana hubungan mereka sekarang. Dari luar, Janu dan Karina terlihat persis seperti pasangan sekolah pada umumnya. Sementara hubungan Karina dan Liana pun masih berinteraksi seperti dulu, tanpa pertengkaran terbuka, hanya dibatasi tembok tak kasat mata yang menahan kehangatan mereka.

Tapi di antara Liana dan Janu, segalanya tetap sama—sebuah hubungan tanpa bentuk, tanpa definisi, hanya sekumpulan pertemuan yang dibiarkan menggantung di udara. Kadang mereka bicara, kadang saling diam, tapi tak pernah ada kata yang cukup berani untuk memberi nama pada apa yang mereka jalani.

Suatu hari setelah kejadian di kantin, setelah bel pulang sekolah, Liana baru saja keluar dari kelas ketika langkahnya terhenti di lorong sepi. Janu berdiri di ujung, bersandar pada dinding, seolah sudah menunggunya. Tatapannya tak terbaca—dingin.

"Lo sibuk?" suaranya terdengar rendah, nyaris kalah oleh suara angin yang masuk lewat jendela.

Liana ingin menjawab "ya" dan langsung pergi. Tapi kakinya malah tetap di tempat, seperti tertahan oleh gravitasi aneh yang hanya muncul setiap mereka berdua. Ia menghela napas, lalu berjalan mendekat.

"Lo masih dengerin omongan orang?" Janu membuka percakapan tanpa basa-basi. Nada suaranya tenang, tapi ada tarikan halus di sudut rahangnya.

Liana menatap lantai, lalu mengangkat pandangan. "Mau saya abaikan pun, omongan mereka tetap bisa saya dengar."

Janu menggeser posisi bersandarnya, kini ia berdiri tegak. "Maaf karena bikin lo da di posisi ini."

Liana tersenyum tipis, tapi tatapannya tajam. "Semua ini nggak gampang, Janu. Kamu sama Karina itu seperti drama romantis yang ditayangin setiap hari. Sedangkan saya cuma pemeran figuran yang orang-orang pengen keluarin dari cerita itu."

Janu menatapnya lama. "Tapi lo masih di sini."

"Karena kamu yang nyuruh saya buat tetap di sini." Suara Liana nyaris pecah, tapi ia berusaha menahannya.

Janu tak membalas, hanya mengalihkan pandangan seolah mencari jawaban di dinding kosong. Liana memandangnya sebentar, lalu memutuskan melangkah pergi. Tapi sebelum ia benar-benar melewati Janu, cowok itu bergumam pelan, "Maaf, kalo gue masih nahan lo di hubungan ini."

Langkah Liana terhenti, tapi ia tak menoleh. "Saya paham Janu. Saya juga nggak menyuruh kamu buat milih."

Ia kemudian berjalan tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Janu berdiri sendirian di lorong yang kini terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.

Begitulah kehidupan Liana di sekolah setelah mereka tau dia dan Janu juga terikat hubungan yang sama. Tak ada lagi citra Liana si anak teladan. Semua berganti menjadi Lia si pacar kedua. Perhatian yang tak pernah Liana harapkan, kini berpusat padanya. Seakan dirinya adalah benalu yang harus segera di singkirkan.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang