"Li, serius deh. Gue gak akan ninggalin lo sendiri. Janji ya, kita sahabatan terus?"
Liana tersenyum. Kalimat itu terdengar manis, tapi juga sedikit konyol. Janji yang terlalu besar untuk dunia yang cepat berubah. Cepat atau lambat, mereka tetap akan berjalan di jalan yang berbeda.
"Kita emang bakal sahabatan terus. Tapi ya kali kita bakal terus bareng, Rin. Lo juga bakal nikah nanti. Gak mungkin Lo sama gue mulu!"
Karina meringis, lalu tertawa kecil. "Iya sih ... tapi kalo gue nikah nanti..." dia menggigit bibir, seolah berpikir keras. "Lo jadi istri kedua suami gue aja gimana? Biar kita bisa terus bareng."
"Sinting!"
Umpatan kecil yang keluar dari bibir Liana membawa tawa mereka pecah di tepi kolam renang, mengalun ringan bersama gemercik air yang jernih. Senja waktu itu hangat, sehangat janji dua sahabat yang seolah tak akan pernah terpisah. Liana dan Karina, dua remaja yang sudah bersahabat sejak kecil, bersumpah akan selalu berjalan berdampingan, apapun yang terjadi.
Namun waktu bukan sekutu yang adil. Ia mengikis perlahan hal-hal yang dulu dianggap abadi.
Kini, Liana berdiri mematung ditengah lapangan. Padangan mata ratusan pasang menancap seperti duri ke dalam dadanya. Semua karena satu nama: Janu Laksa Rajendra.
Cowok yang dicintai sahabatnya. Cowok yang juga menginginkan dirinya sebagai kekasihnya.
Dan gilanya yang mereka inginkan bukan cinta, tapi persetujuan. Bukan untuk menjadi kekasih ... tapi menjadi "yang kedua", agar yang pertama merasa aman. Agar cinta Karina tak kehilangan Liana, dan agar cinta Janu tak berakhir dengan penolakan.
Liana tak pernah ingin menjadi pusat perhatian. Tapi saat itu, semuanya berubah. Sekeras suara hatinya berteriak menolak, selemah itu pula langkahnya menjauh.
"Brengsek!" umpatnya pelan, sebelum berbalik dan berjalan cepat meninggalkan dua orang yang masih diam di tengah lapangan.
Liana mengusap air matanya. Wajahnya memerah karena menahan emosi dan malu diwaktu yang bersamaan. Langkah cepatnya membawanya pergi keluar area lapangan. Tatapan-tatapan iba mengiringi kepergian gadis itu.
"Kasihan banget dia..."
"Gila sih Janu! Mau pacaran sama Karin doang, tapi harus pacarin sahabatnya juga?"
"Kalo gue jadi Liana, udah gue tampar tuh cowok!"
"Meski dia cakep, tetep aja gak waras!"
"Gue sih gak nolak, asal jadi pacarnya juga. Kapan lagi kan jadi pacar Janu!"
Begitulah komentar-komentar yang mengiringi langkah Liana. Rasanya Liana ingin menghilang dari muka bumi.
"Lia!"
Teriakan Karina dari belakang membuyarkan lamunannya. Di belakangnya ada Janu, yang berlari menyusul. Liana tak menoleh. Ia mempercepat langkahnya. Sampai sebuah mobil hitam berhenti di sampingnya. Kaca diturunkan.
"Naik, Li!" suara Harsa terdengar dari kursi samping pengemudi.
Yasmin, yang duduk di bangku penumpang, segera turun dan menggamit tangan Liana. Tanpa berkata-kata, dia menarik sahabatnya masuk ke mobil. Mereka melaju pergi dari lingkungan sekolah yang mendadak terasa seperti neraka.
Sementara itu, Karina menghentikan langkahnya melihat Liana yang pergi begitu saja. Bahunya berguncang, dan tanpa suara, air matanya mulai jatuh. Ia terduduk, memeluk lututnya, menunduk dalam isak yang tertahan.
"Rin..." suara Janu pelan, hampir tak terdengar.
Karina tak menjawab. Lalu dengan napas tersengal ia berkata, "Semua gara-gara lo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
HEARTBREAKER [END]
Fiksi RemajaDisclaimer : FC dalam cerita ini Lia dan Jeno. Tetapi saya harap itu bukan patokan buat setiap pembaca, karena saya membebaskan kalian memilih visualisasi siapapun untuk cerita yang saya buat. Tak ada yang spesial di kehidupan Lilyana Chaliana Jeli...
![HEARTBREAKER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288601175-64-k226810.jpg)