BAB 25 - Bom Waktu

589 98 31
                                        

Mobil sedan hitam itu melaju di antara deretan lampu kota yang berkelip di balik kaca. Di kursi penumpang depan, Janu duduk dengan wajah setengah malas, mengenakan jas hitam yang dipilihkan papanya sendiri. Dasi birunya sedikit miring, tanda bahwa dia benar-benar terpaksa ikut.

Tapi wajahnya berubah seketika begitu layar ponselnya menyala, menampilkan satu nama yang berhasil membuat senyum tersungging di bibirnya.

"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" suara sang papa memecah keheningan.

Doni melirik putranya sekilas dari balik kemudi. Janu menoleh pelan. Senyum itu makin lebar, nyaris seperti orang yang sedang jatuh cinta diam-diam.

"Dih, ni anak ditanya malah senyam-senyum. Udah gila, ya?" tegur Doni, setengah bercanda.

"Dih apasih pa, kalo ngomong ngasal gitu. Masa anak papa yang ganteng gini dibilang gila," balas Janu pura-pura cemberut.

"Lah, kalo bukan gila apaan. Tadi cemberut, sekarang senyum-senyum. Labil banget kayak sinyal di gunung."

"Papa mah aneh, Janu cemberut salah, senyum juga salah!" desisnya sambil melepas seatbelt dan bersiap keluar.

"Heh, mau ke mana kamu?" seru Doni.

"Masuk lah, kan papa yang ngajakin Janu ke sini. Tapi Janu masuk duluan, nanti ketemunya di dalem aja!" ujarnya cepat, lalu menutup pintu mobil sebelum Doni sempat menahan.

Doni hanya bisa menghela napas panjang, kepalanya menggeleng pelan. "Anak zaman sekarang makin aneh aja."

Sementara itu, Janu melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu. Suasananya terasa megah dan penuh formalitas. Lampu gantung kristal berkilau, suara denting gelas berbaur dengan musik orkestra lembut di latar. Orang-orang berdasi dan berdandan elegan memenuhi aula besar, menyapa satu sama lain dengan senyum penuh kepura-puraan.

Janu mengedarkan pandangan, matanya menelusuri setiap sudut ruangan. Ada satu wajah yang dia cari di antara kerumunan. Ia merogoh ponselnya, mengecek pesan terakhir. Dan akhirnya matanya menemukannya.

Sosok itu berjalan menuruni tangga marmer, mengikuti langkah sang ayah dan seorang wanita di sampingnya. Gaun putih pastel membalut tubuhnya, rambutnya disanggul rapi. Tapi sorot matanya dingin. Tak seperti biasanya. Janu bisa merasakannya, Liana tidak baik-baik saja malam ini.

"Mau ke mana kamu?" suara Doni menahan langkahnya. "Di sini dulu, Jan."

Janu menghela napas, menahan diri. Ia tahu waktu yang tepat akan datang. Untuk sekarang, ia harus lebih tenang.

Beberapa saat kemudian, seorang pria berjas abu-abu naik ke atas panggung kecil di tengah ruangan. Wajahnya tampan, berkarisma, senyumnya menular. Tapi di balik itu, tampak dingin dan penuh perhitungan.

"Selamat malam semua!" suaranya menggema lewat mikrofon. "Saya, Abraham Leonardo Hartono, ingin memperkenalkan seseorang yang paling berharga dalam hidup saya-anak semata wayang saya, Liana."

Tepuk tangan bergema, lampu sorot menyoroti gadis di sampingnya. Liana menunduk sopan, mencoba tersenyum, tapi ekspresinya kaku. Semua mata tertuju padanya. Sosok yang selama ini hanya jadi bisik-bisik kalangan sosialita, kini berdiri nyata di hadapan mereka-cantik, elegan, seolah keturunan bangsawan.

"Dan malam ini," lanjut Bram, "saya ingin menyampaikan sesuatu. Liana akan melanjutkan bisnis saya kelak."

Liana tersentak, tubuhnya menegang. Belum sempat ia memproses ucapan ayahnya, kalimat berikutnya datang seperti badai.

"Sekaligus mengumumkan pertunangan saya dengan Wenina Saronika Suharso."

Ruangan itu langsung sunyi. Semua kepala menoleh. Liana menatap sang ayah tak percaya.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang