BAB 5 - Kehangatan

965 165 26
                                        

Tiga hari berturut-turut, Janu selalu ada di depan rumah itu. Hari ini, tidak ada Juna di sampingnya. Ia datang sendiri.

Ia baru saja mengantar Karina pulang, tapi pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Ada satu hal yang terus mengganjal: keadaan Liana. Ia butuh memastikan, dengan matanya sendiri, bahwa gadis itu baik-baik saja.

Langkah Janu pelan namun mantap, menelusuri jalan setapak menuju gerbang rumah itu. Di pikirannya, seperti biasa, Liana akan menyingkap sedikit tirai, mengintip dari balik jendela, lalu menghilang begitu saja. Namun kali ini, dugaannya salah. Pintu rumah itu terbuka, dan Liana keluar.

Janu sempat terdiam. Ia baru sadar betapa asing dan sekaligus akrab wajah itu setelah beberapa hari tak bertemu. Ia menatap lekat ke arah Liana. Gadis itu terlihat berbeda. Bukan hanya karena wajahnya lebih pucat dari biasanya, tapi karena di sudut bibirnya ada memar tipis yang baru. Dan ketika lengannya terlihat di balik kaos sederhana yang ia kenakan, beberapa lebam berwarna ungu kebiruan menonjol di kulitnya.

"Hai," sapanya, mencoba menempelkan senyum yang sudah lama menghilang dari wajahnya. Suaranya terdengar ringan, tapi nadanya tak mampu menyamarkan kekhawatiran yang merayap.

Liana memandangnya dengan tatapan datar. "Kamu ngapain di sini?" tanyanya, nada suaranya sedikit dingin.

Janu rasanya ingin menjitak kepala gadis itu-bukan karena marah, tapi karena kesal pada sikapnya yang selalu pura-pura kuat padahal jelas-jelas sedang terluka. Kalau bukan karena rasa bersalah yang menempel seperti duri di pikirannya, mungkin ia sudah berhenti menunggu di depan rumah itu sejak kemarin. Tapi entah kenapa, ia tetap kembali.

Iya, Janu merasa menyesal. Setidaknya, itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Benar kata Juna waktu itu-seharusnya ia tetap menjemput Liana, apa pun yang terjadi.

"Masih bisa ya tanya kayak gitu? Kita semua khawatir, Lia!" suara Janu meninggi, tapi matanya menyiratkan rasa cemas yang jauh lebih besar dari amarahnya.

"Aku nggak apa-apa, Janu," jawab Liana pelan, nadanya menenangkan-terlalu menenangkan untuk seseorang yang mendapat memar di sana-sini.

"Nggak apa-apa sama lebam-lebam itu? Kamu mau aku pura-pura gak lihat?"

Bukannya membalas, Liana malah tersenyum kecil. Senyum itu tipis, nyaris seperti ejekan halus, tapi juga membuat Janu makin kesal.

"Lucu banget ya lihat gue marah? Wah, gila ya ini orang. Malah ketawa lagi!" Janu mendengkus, berusaha memasang wajah tergalak-alis berkerut, rahang mengeras-tapi justru membuatnya terlihat lebih seperti anak kecil yang merajuk daripada cowok garang yang ingin mengintimidasi.

Liana menatapnya lama, senyum itu tidak pudar.

"Saya beneran gak apa-apa janu." Liana menghela napas, suaranya tetap lembut. "Tapi kalau kamu terus-terusan nongkrong di sini, aku mungkin nggak akan cepet pulang!"

Janu mengerutkan kening, matanya menajam. Kata-kata itu terdengar aneh di telinganya-seolah ada makna lain yang Liana sengaja sembunyikan.

"Pulang gih, sebelum Papa datang!" ujar Liana cepat, nada suaranya sedikit lebih tegas.

Janu terdiam, menatap wajahnya beberapa detik lebih lama. Namun sebelum ia sempat bertanya, Liana sudah berbalik. Rambutnya bergoyang ringan, langkahnya cepat, seakan tak ingin memberinya waktu untuk membalas.

Pemuda itu berdiri terpaku, matanya mengikuti setiap gerak Liana sampai bayangan gadis itu menghilang di balik pintu kayu tinggi itu. Sesuai permintaan Liana, Janu akhirnya memutar badan kembali dengan perasaan yang sedikit lebih lega dari hari sebelumnya.

***

Keesokan harinya Liana masuk sekolah. Langkahnya tenang saat melewati gerbang, meski sebagian siswa sempat menoleh, seakan kehadirannya setelah beberapa hari absen adalah sebuah kabar besar.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang