BAB 22 - Rumah Sakit

695 102 14
                                        

Pagi itu, Liana akhirnya muncul juga. Langkahnya pelan, matanya sayu, dan wajahnya tampak lelah. Seolah semalam tak sempat memejamkan mata. Sinar matahari yang menembus jendela kelas tak cukup menyembunyikan lingkar gelap di bawah matanya. Dan rumor tentang kondisi ibunya yang memburuk sudah beredar cepat seperti angin yang membawa kabar tak enak.

Di antara ramai suara siswa yang berceloteh di waktu istirahat, satu tatapan tak lepas dari sosok itu. Janu. Cowok itu duduk di kursinya, menatap diam ke arah Liana yang baru saja duduk di kursi sebelah. Dunia seolah memudar di sekelilingnya. Fokusnya hanya tertuju pada Liana.

"Janu, mau makan apa?"

Suara Karina memecah lamunannya. Gadis itu duduk di depannya, berkata dengan nada perhatian, tapi tanpa menoleh sekalipun ke arah si pemuda yang kini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Tak ada jawaban. Karina mengerutkan kening. "Jan!" serunya sedikit lebih keras.

Suara itu memantul di ruangan, membuat beberapa kepala menoleh.

"Eh? Apa?"

Janu tersentak, matanya beralih cepat dari wajah Liana ke Karina. Karina mendengkus, merasa kesal karena tak diperhatiakn. Sedangkan teman-temannya yang lain diam-diam tertawa kecil melihat itu.

"Kamu dengerin aku gak sih?" tanya Karina lagi, nadanya terdengar keal.

"Iya, tadi kamu bilang apa?"

Karina tak menjawab. Hanya helaan napasnya yang terdengar lebih keras. "Kamu bisa gak, fokus dulu ke aku? Aku tadi nanya kamu mau makan apa?"

"Lo juga kenapa sih, Rin. Janunya lagi mau ngobrol sama Liana. Lo malah recokin dia mulu!"

Yasmin menyela dengan nada setengah emosi. Ia lelah melihat tingkah Karina yang sama sekali belum berubah dan masih suka mengganggu Janu ketika pemuda itu ingin berinteraksi dengan Liana.

"Yas, jangan gitu!" tegur Hana, takut jika nanti Karina salah paham dengan maksud Yasmin.

"Kenapa jadi lo yang nyolot sih? Janu aja gak masalah gue gangguin!" Karina menatap Yasmin tak terima. "Udah, Rin!" tegur Hana.

"Ya lo juga gak suka banget Janu sama Liana deket, jangan bilang gossip itu bener. Minimal Move on!" Yasmin sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dia sudah berusaha menahan sebisa dia.

Namun suasana belum sempat tenang, ketika suara lain tiba-tiba menyeruak di antara mereka.

"Gue mau bakso dong!" teriak seseorang sambil menjatuhkan diri ke kursi kosong di sebelah Karina tanpa permisi.

Jerome tersenyum santai menatap ke arah Karina yang kini malah semakin kesal melihat kehadiran pemuda itu.

"Ck! Apaan sih lo! Gue gak ngomong sama lo!"

Jerome mengangkat kedua tangannya, pura-pura takut. "Galak amat, buk. Sekalian aja beliin puny ague juga, apa susahnya?" katanya dengan ekspresi memelas, yang malah bikin teman-teman di sekitar menahan tawa.

Adegan mereka sudah kayak tontonan rutin setiap jam istirahat. Tak perlu dijelaskan pun semua tahu. Jerome memang selalu punya seribu cara buat menarik perhatian Karina, dan Karina selalu enggan meladeni pemuda itu.

"Gak ada. Beli aja sendiri!"

Karina bangkit dari duduknya, langkahnya cepat menuju stand makanan. Tapi tentu, Jerome tak mau kalah. Ia berdiri dan mengikuti gadis itu seperti bayangan yang tak tahu malu.

"Deket banget ya mereka," bisik Sherly pelan, mencondongkan tubuh ke arah Cecil.

"Gak tau. Dari kemarin-kemarin juga gitu mulu," sahut Cecil dengan nada datar, bahkan tanpa menoleh.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang