BAB 31 - Hari Setelah Badai

614 78 4
                                        

Liana menghirup udara pagi yang masih segar di koridor sekolah. Cahaya matahari menerobos jendela panjang, menari di lantai putih yang mengilap, seakan menyambut kedatangannya setelah liburan. Ada rasa hangat yang mengembang di dadanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa lega.

Ia memikirkan papa dan bundanya. Mengingat bagaimana Bram—lelaki yang dulu begitu mudah meledak, dingin, dan tenggelam dalam kebiasaan buruk—kini perlahan kembali menjadi ayah yang ia hormati di masa kecil. Hangat. Berwibawa. Dan yang terpenting… hadir. Ada perasaan haru ketika melihat Giana tertawa lagi, meski tubuhnya masih rapuh dengan penyakit yang tetap menggerogoti.

Semua itu cukup bagi Liana. Setidaknya untuk sekarang.

“Lia!”

Suara itu memotong lamunannya. Liana menoleh dan mendapati Karina berlari ke arahnya. Rambut sahabatnya itu sedikit berantakan tertiup angin, tapi senyum yang mengembang di wajahnya—buat semuanya terlihat sempurna.

“Rin!”

Karina berhenti tepat di depan Liana. Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap, seolah ada banyak kata yang menggantung di atmosfer tapi tak satu pun sanggup terucap.

Lalu, tanpa aba-aba, Karina merengkuh Liana dalam pelukan erat. Pelukan yang lama. Pelukan yang menyimpan seluruh rasa bersalah, rindu, dan lega yang selama ini menumpuk. Liana membiarkannya, membalas pelukan itu perlahan. Tubuh Karina sedikit gemetar.

Setelah beberapa saat—dan setelah mereka “cosplay jadi Teletubbies” cukup lama—Karina melepaskan pelukan itu sambil menyeka air mata yang lolos tanpa permisi.

“Maaf…” bisiknya lirih.

Liana menarik napas dalam, lalu mengusap bahu sahabatnya itu dengan lembut. “Aku nggak apa-apa, Rin. Aku paham. Mungkin kalau aku ada di posisi kamu … aku bakal ngelakuin hal yang sama.”

Karina menunduk, wajahnya mencerminkan penyesalan yang belum sepenuhnya pudar. “Harusnya gue jujur dari awal. Harusnya gue ceritain semuanya.”

“Rin … semua itu udah lewat,” jawab Liana, suaranya tenang dan penuh ketulusan. “Yang penting sekarang, aku bakal selalu ada buat kamu. Kita semua ada buat kamu. Kalau kamu capek, jangan dipendam sendirian. Kita cari solusinya bareng-bareng.”

Karina menatapnya dan tersenyum—senyum kecil yang tampak seperti langkah pertama setelah badai panjang. Ada kelegaan yang terpancar jelas dari sorot matanya.

Teriakan lain memecah momen itu.

“Lia! Karin! Tunggu!”

Hana dan Yasmin muncul dari ujung koridor, berlari kecil dengan rambut berkibar dan tas nyaris jatuh dari bahu. Begitu mendekat, Hana langsung merentangkan tangan seolah hendak memeluk semuanya sekaligus.

“Eh ya ampun, kangen banget!” rengeknya.

“Gue juga parah!” sambung Yasmin sambil ikut merangkul. “Liburannya sebentar banget, sumpah nggak kerasa!”

“Iya! Udah direcokin persiapan ujian pula,” keluh Hana, dramatis seperti biasa. Liana dan Karina hanya tertawa kecil, menikmati energi riuh itu.

“Aku nggak ke mana-mana liburan kemarin,” sahut Liana. “Paling nemenin bunda.”

Karina langsung menatapnya, suaranya mengecil. “Bunda gimana…?”

Liana terdiam sepersekian detik, bibirnya menahan kalimat jujur yang ingin keluar. Kondisi Giana jelas tidak membaik—tidak memburuk juga. Giana masih menjalani kemoterapi setiap bulan. Dokter Cahyo pernah berkata tentang batas waktu yang bisa diperkirakan, tapi Liana menolak mempercayainya. Karena hidup dan mati—itu hanya urusan Tuhan.

“Alhamdulillah,” akhirnya jawab Liana, memberikan senyum pelan. “Bunda kangen sama kalian.”

“Nanti pulang sekolah kita jenguk, ya!” kata Hana semangat.

“Eh iya! Gue kemarin ke rumah lo yang lama, tapi katanya udah pindah,” timpal Yasmin.

“Oh iya, aku lupa kalian belum tahu.” Liana menggaruk tengkuknya kikuk.

Saat Bram tahu kondisi mantan istri dan anaknya, ia memaksa mereka tinggal di rumahnya. Tapi Giana menolak. Bram akhirnya membeli rumah baru—lebih besar, lebih layak, dan sertifikatnya langsung atas nama Liana. Pada akhirnya Giana tak bisa menolak. Itu hak Bram sebagai ayah, dan hak Liana sebagai anaknya.

Rumah kecil mereka? Tidak dijual. Disimpan. Untuk berjaga-jaga. Mungkin suatu hari dibutuhkan.

“Kemarin bunda jual rumah lama buat biaya pengobatan. Yang sekarang … nggak jauh dari rumah Juna. Cuma beda blok. Tapi sekarang aku udah nggak tinggal di rumah yang itu juga. Papa beliin rumah baru, di blok pertama.”

“Blok pertama?!” Hana membelalakkan mata.

“Masih di kompleks yang sama kan itu?” gumam Yasmin.

Liana mengangguk pelan. Teman-temannya paham. Perumahan itu memang bertingkat. Blok menengah, blok bawah, dan blok elit. Kini Liana tinggal di tempat yang bahkan penerangan jalannya saja lebih terang dari masa depan banyak orang.

“Oh gitu! Ya udah yuk masuk,” ajak Yasmin. “Kangen kelas gue!”

“Ih pasti bau debu kelas kita!” rintih Hana.

“Ya bersihin, bukan ngeluh!” sentak Karina sambil mendorongnya pelan.

Liana tertawa kecil sambil mengikuti langkah mereka. Suasana pagi itu terasa hangat, berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi drama berat yang menggantung di antara mereka.

Di dalam hati, Liana merapal harapan.

Ia ingin semuanya bertahan lama. Ia ingin tetap bersama mereka—Naya, Sherly, Kinan, Cecilia, semua sahabat yang membuat hidup SMA-nya bermakna. Ia tahu akan ada hari ketika mereka harus memilih jalan masing-masing, mengejar mimpi masing-masing.

Ia ingin momen seperti ini terus ada. Sampai lulus nanti. Sampai mereka kembali bertemu di reuni bertahun-tahun ke depan, sambil tertawa mengenang masa muda, dan bercerita tentang mimpi yang akhirnya berhasil mereka taklukkan.

Semoga.

















***

hai semua? apa kabar? akhirnya badai antara Karina dan Liana selesai. Part ini ternyata jauh lebih pendek dari part lainnya. But it's okay. Semoga kalian tetap menikmati ya.

Selamat membaca. Vote, comment, follow. Masukin reading list kalian supaya kalian gak ketinggalan update ceritanya.

Instagram/tiktok/x : @avoxiss

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang