Entah sejak kapan, suasana di sekolah berubah. Semua orang tiba-tiba berdamai dengan keadaan. Tenang. Seolah badai drama yang selama ini mengguncang mereka—soal cinta, pertengkaran, gengsi, dan segala keruwetan hati remaja—tiba-tiba berhenti begitu saja.
Mungkin karena mereka lagi sibuk sama ujian. Otak udah keburu penuh sama rumus, bukan perasaan. Gak ada lagi cerita manis-manisan antara Janu dan Karina. Gak ada lagi gosip panas tentang Liana dan Janu. Gak ada lagi suara cekcok Janu dan Karina yang biasanya jadi hiburan tersendiri di sela jam istirahat. Semuanya terlihat damai.
Tapi tentu, gak ada yang namanya damai total kalau ada Janu di sana. Cowok itu lagi ngotot pengen ikut Rendra belajar bareng anak kelas IPA—padahal dia sendiri anak IPS. Alasannya simpel: Liana ada di sana.
Rendra sempet ngakak waktu denger itu. Jelas mereka beda jurusan, beda kehidupan, beda aliran. Tapi Janu tetep maksa. Bagi dia, dunia cuma beda kalau gak ada Liana di situ.
Lucunya, Juna gak mau kalah juga. Dia lagi merengek ke Hana, pacarnya, biar bisa ikut belajar bareng. Dan akhirnya, dua makhluk yang selama ini kayak Tom & Jerry itu malah sepakat kerja sama buat satu tujuan: ikut nongkrong sama anak IPA.
Dan hasilnya? Mereka berhasil. Janu dan Juna resmi nyempil di antara Liana, Hana, Yasmin, Rendra, dan geng IPA lainnya. Alasannya klasik, besok matematika, rumusnya sama gak ada pembeda antara IPA dan IPS. Padahal itu hanya alasan mereka aja. Nyatanya mereka bukan focus sama pelajarannya, melainkan sama manusianya.
Sesi belajar mereka lebih mirip sitcom daripada study group. Janu pura-pura nanya soal, tapi matanya hanya focus pada gadis itu bukan pada apa yang dijelaskan gadis itu. Sementara Juna sibuk pura-pura bingung cuma biar Hana nyender dikit pas jelasin. Untung aja dua gadis itu sabar nanggepin tingkah pacarnya yang kali ini diluar prediksi BMKG.
Sementara itu, Karina? Dia gak pernah muncul di acara belajar bareng kaya gini. Dia punya jadwal les sendiri. Sepulang sekolah ia langsung pergi ke tempat bimbingan belajar. Hidupnya udah diatur serapi jadwal ujian nasional.
"Udah ngobrol sama Karina?" bisik Liana pelan, di sela-sela coretan pensilnya.
Janu menghela napas, bola matanya berputar malas. Gak perlu dijawab pun, semua udah tau. Hubungannya sama Karina sekarang kayak gelas retak. Mereka gak bertengkar lagi, tapi bukan karena udah baikan. Cuma udah gak punya energi buat berantem.
Sekarang mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi bukan berarti mereka udah gak jalan bareng. Mereka masih ke toko buku bareng, atau pergi jalan-jalan ke taman kota kalau lagi suntuk. Hanya saja, sekarang mereka hanya saling bertukar kabar seadanya saja.
Di bilang berpisah, taka da obrolan tentang itu. Tapi dibilang bersama, mereka sudah gak sejalan lagi. Kisah keduanya itu mirip lirik lagu milik Judika, mereka cuma sedang menunda perpisahan.
Janu tahu, dia gak bisa terus begini. Dia butuh kepastian, tapi juga takut kehilangan. Dan di tengah semua itu, Liana pelan-pelan kembali masuk dalam orbitnya.
Aneh, ya. Dulu Liana tenggelam karena terlalu diam, karena membiarkan Karina yang selalu ada di sisi Janu. Sekarang keadaan kebalik. Justru Liana yang selalu hadir dan Karina yang perlahan menjauh.
Kadang perasaan gak butuh logika. Masalahnya, hati Janu gak cuma ruwet karena cinta, tapi juga karena realita. Karina non-muslim. Ayahnya jelas menentang hubungan mereka. Bukan cuma karena nilai sekolah Karina yang turun, tapi juga karena mereka gak seiman.
Dan di titik itu, Janu akhirnya sadar, yang memisahkan mereka bukan lagi jarak, tapi Tuhan. Bahkan kalau mereka nekat sekalipun, ujungnya tetap sama: perpisahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEARTBREAKER [END]
Teen FictionDisclaimer : FC dalam cerita ini Lia dan Jeno. Tetapi saya harap itu bukan patokan buat setiap pembaca, karena saya membebaskan kalian memilih visualisasi siapapun untuk cerita yang saya buat. Tak ada yang spesial di kehidupan Lilyana Chaliana Jeli...
![HEARTBREAKER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288601175-64-k226810.jpg)