BAB 36 - Mulai Dari Awal [END]

1.2K 73 10
                                        

Nana tenggelam dalam pekerjaannya. Di balik jilbab pastel yang ia kenakan, ekspresinya selalu tenang, teratur-seperti seseorang yang tahu persis apa yang harus ia lakukan. Namun setiap lembar kertas yang Nana sentuh, setiap ketikan yang ia selesaikan, rasanya justru semakin menarik perhatian Bram.

Bukan karena Nana melakukan kesalahan. Justru sebaliknya.

Sejak Liana menyebut nama Nana, Bram jadi memperhatikan wanita itu dengan cara berbeda-bukan romantis, tetapi penuh rasa ingin tahu. Bagaimana bisa gadis secerdas dan secuek Liana begitu menghargai Nana?

Pintu diketuk. Nana masuk sambil membawa setumpuk file yang hampir menutupi separuh wajahnya.

"Pak, ini file yang Bapak minta," ujarnya, nadanya sopan seperti biasa.

Bram buru-buru berpura-pura sibuk, menunduk ke layar monitor padahal ia jelas sadar setiap gerak Nana.

"Terima kasih. Kamu bisa kembali," ucapnya. Lalu seolah baru ingat sesuatu, ia bertanya, "Oh iya, hari ini saya nggak ada janji dengan siapa pun, kan?"

Nana menoleh sambil mengecek tabel kecil di tablet yang ia pegang. "Tidak ada, Pak. Sudah saya pastikan."

"Baiklah."

"Saya permisi dulu."

Begitu pintu menutup, kantor kembali pada ketenangannya. Hening. Rapi. Hanya suara AC dan ketikan komputer dari luar yang sesekali terdengar.

Bram menelusuri dokumen-dokumen presentasi untuk investor. Fokus. Teliti. Ia tidak sadar sama sekali bahwa di balik pintu ruangannya, badai kecil sedang mulai meletup.

"Pak Bram ada kan?" suara seorang wanita terdengar tajam, menusuk suasana kondusif kantor.

Nana menghentikan langkahnya. "Maaf, dengan Ibu siapa dan ada perlu apa?"

Wanita itu-berambut sebahu, wajahnya full make-up, parfum menyengat-mendengus tidak sopan.

"Saya cuma tanya! Ada Bram nggak di dalam?! Kenapa kamu malah banyak tanya, hah? Mau dipecat?!"

Nana tetap tenang. Tegas tapi sopan. "Maaf, kalau Ibu tidak ada janji dengan Pak Bram, Ibu tidak bisa masuk."

Wanita itu mencondongkan wajahnya, matanya melotot. "Wah, nantang! Kamu nggak tahu siapa saya? Mau saya pecat kamu?!"

Beberapa karyawan mulai memperlambat langkah. Ada yang pura-pura sedang kirim dokumen padahal matanya fokus ke arah keributan. Nana tetap tidak bergeming.

Hingga sebuah suara datar-tapi mematikan-tiba-tiba terdengar.

"Mbak Nana nggak akan pernah dipecat dari sini."

Semua menoleh.

Liana berdiri di depan mereka, anggun dan dingin seperti ratu muda. Di sampingnya, Janu ikut menatap dengan senyum kecil, seolah menikmati drama yang tergelar di depan mata.

"Harusnya tante tau diri dong," lanjut Liana santai. "Siapa tante di sini."

Karyawan yang melihat kejadian itu mulai bergerombol. Bisik-bisik kecil mulai terdengar, membuat Weni terdiam dengan kepalan tangan sempurna.

"Hahaha, kalo gue jadi Bu Weni, udah malu sih. Nana kan memang orang rekomendasi Nona Liana."

"Ya mau gimana, lagi pula dia berhak melakukan itu. Dia saja pemegang saham terbanyak setelah pak Bram, anggota dewan direksi yang termuda."

"Tapi bukannya Bu Weni itu calonnya Pak Bram? Kenapa Nona Liana keliatan gak suka sama dia?"

"Lo gak tau, ya? Ada selentingan kabar kalau Nona Liana memang tidak suka sama Ibu Weni, dan dia menentangnya mati-matian. Itu kenapa Pak Bram langsung mutusin Ibu Weni."

HEARTBREAKER  [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang