BAB 8 - Kado Ulang Tahun

922 150 48
                                        

"Juna!"

Suara Liana menggema di sepanjang koridor menuju area parkir. Nafas gadis itu tersengal, rambut hitamnya tergerai sedikit berantakan karena terburu-buru.

Ia baru saja keluar dari ruang OSIS setelah rapat dadakan menyita waktu jam pulang sekolahnya. Untung kelasnya sedang kosong saat itu, dan gurunya sudah lebih dulu pergi usai memberikan PR.

Juna menoleh, mengerutkan kening sebentar sebelum menyilangkan tangan di depan dada menatap gadis itu heran.

"Apaan dah, ngapain pake lari segala?" katanya sambil geleng-geleng kepala, tapi sebenarnya ia tak terlalu kaget dengan gaya sepupunya itu.

Liana menunduk sedikit sambil mengatur napas yang terengah. "Takut lo keburu pergi!" jawabnya setelah mengusir rasa sesak.

Juna menyipit. "Gue juga baru dateng lima menit lalu," gumamnya, meski sudut mulutnya sedikit terangkat.

"Ya mana gue tau." Sahut Liana meringis pelan.

Mereka berdua tak sadar, adegan itu sedikit mencuri perhatian beberapa orang yang kini juga sedang berdiri di dekat deretan motor yang terparkir apik di sana.

Tiga dari mereka duduk di atas motor masing-masing; satu orang lainnya memilih berdiri; dan ada dua orang lain yang jarang terlihat di kelompok itu sedang asik mengobrol satu sama lain.

Janu bersandar malas sambil mengetuk-ngetuk pelan helm full-face miliknya. Tatapannya datar seperti biasa, tapi sempat mengikuti arah gerak Liana tadi saat gadis itu berlari. Sekilas saja. Tidak sedominan beberapa hari lalu saat ia sempat salah paham soal Juna.

"Tadi gue lupa bilang ke lo kenapa harus nunggu, jadi gue pikir lo bakal balik duluan ninggalin gue!" ujar Liana setelah membalas sebuah pesan.

"Tadi juga niatnya mau gue tinggal sih. Tapi gue kepikiran, takut lo lagi gak ada ongkos buat pulang," candanya.

"Bukan, dih!" sungut Liana sebal. Juna tersenyum melihat ekspresi Liana yang cemberut.

"Iya gue bercanda. Emang kenapa?" tanya Juna dengan alis terangkat. Nada suaranya ringan, tapi memang sejak tadi rasa penasarannya belum terjawab.

"Gue mau nebeng," ujar Liana akhirnya. "Bunda nyuruh lo ke rumah. Dan kayaknya tante juga di rumah sekarang."

Juna mengangguk-angguk pelan, meski raut mukanya tetap heran. "Oh ... tumben? Tapi bukannya lo hari ini harusnya balik sama Janu ya? Tuh, anaknya masih nangkring di atas motornya." Ia memberi kode kecil dengan dagunya ke arah Janu dan teman-temannya di sisi lain area parkir.

Refleks, Liana ikut menatap ke arah itu. Mereka masih bercengkerama di atas motor, terlihat santai dan seperti menunggu seseorang—kemungkinan Karina, Sherly, atau pasangan mereka yang belum muncul. Dari jarak beberapa meter, Liana bisa melihat bagaimana Janu bersandar dengan satu kaki di atas pedal motor, posisi yang seolah dibuat untuk mempertegas betapa tidak pedulinya dia.

"Nggak. Janu balik sama pacarnya."

"Lah ... kan lo juga pacar Janu."

Ucapan itu dilontarkan dengan nada bercanda—tapi bagi Liana, kalimat itu seperti sentilan tajam yang membuat dadanya tercekat sesaat. Lia mendengkus pelan, matanya menajam seolah malas membahas topik ini lagi.

"Males deh kalo topiknya yang ini lagi," gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar karena suara mesin motor lain yang baru saja menyala di dekat mereka.

Juna memiringkan kepala, menyadari perubahan ekspresi sepupunya. "Ya udah sorry ... gak usah cemberut gitu dong!"

Liana terdiam. Ia sempat melihat Janu yang seakan ikut memperhatikan mereka—meski hanya satu detik sebelum cowok itu kembali berbicara dengan temannya.

HEARTBREAKER  [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang