BAB 13 - Kebenaran

942 158 36
                                        

Janu akhirnya mengakui satu hal yang selama ini berusaha ia tolak. Ia rindu. Rindu pada Liana. Rindu pada sapaannya yang hangat, rindu pada senyum yang dulu selalu muncul bahkan saat gadis itu tidak dalam kondisi baik-baik saja. Ia rindu pada kehadiran gadis itu.

Entah kenapa. Janu sendiri tak tahu alasan pastinya. Tapi ia tahu satu hal: semuanya sudah berubah. Hubungannya dengan Liana sudah berakhir dan gadis itu bukan miliknya lagi.

Udara malam di Kafe itu terasa lebih berat. Suara riuh terdengar dari beberapa pengunjung, tapi di tengah semua itu, hanya keheningan yang terasa di antara Janu dan Liana.

Liana menatap ke depan, namun sesekali pandangannya mencuri arah ke samping. Ada Janu di sana, duduk tak jauh darinya.

"Apa kabar?" tanya Liana pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara tawa yang memenuhi ruangan.

Janu menoleh perlahan. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat jantung Liana berdebar tak karuan.
"Baik," jawabnya singkat, suaranya terdengar datar, seolah mencoba menutupi sesuatu yang tak ingin bocor keluar.

"Syukur deh," balas Liana, senyum kecil menghiasi wajahnya.

Hening kembali menyertai mereka. Keduanya kembali larut dalam pikiran masing-masing. Hingga seseorang tiba-tiba menoleh dan memanggil nama Liana.

"Pulang sama siapa, Li?" tanya Yasmin menatap ke arah Liana. Di sebelahnya ada Seno—pemuda yang sempat Yasmin ceritakan tempo lalu, dengan senyum sopan.

Liana menoleh, bibirnya melengkung tipis. "Hm, dijemput," jawabnya pelan namun ada kesan ragu di ujung perkataan.

"Siapa?" tanya Hana penasaran, sambil mencondongkan tubuh ke arah meja Liana. "Atau mau bareng kita aja?" tawarnya dengan nada ceria, tanpa sadar menarik perhatian beberapa teman lain.

Sebelum Liana sempat menjawab, suara berat milik Hendra memotong percakapan itu.

"Hana kadang suka lucu. Pacar lo Juna kan bawa motor Scoopy kesayangannya. Mau jadi cabe-cabean kalian?" sindirnya dengan tawa yang langsung mengundang reaksi dari teman-teman lain.

Tawa pun pecah. Ruangan yang tadinya hanya dipenuhi obrolan santai kini berubah menjadi lautan suara yang menertawakan celetukan Hendra. Liana ikut tersenyum kecil.

"Gak, Hana," tolaknya halus.

"Kalian balik aja dulu. Toh Sonya sama Hendra belum balik," lanjut Liana, berusaha menenangkan. Ia lalu menatap ponselnya sekilas, jari-jarinya mengetuk pelan meja kayu. "Nanti juga jemputanku datang."

Ucapan itu membuat Yasmin menatapnya sekilas, seolah ingin bertanya lebih jauh, tapi urung.
Seno hanya tersenyum tipis, sementara Janu di sisi lain masih diam—mendengarkan.

Mereka pada akhirnya berpamitan pada Liana, Hendra, dan Sonya. Suasana mulai sepi, hanya tersisa sisa tawa yang memudar di antara pengunjung yang akan meninggalkan Kafe. Janu ikut melangkah pergi bersama Karina. Namun, sebelum benar-benar sampai di parkiran, langkahnya mendadak terhenti.

"Hm, sayang bentar, kayanya ada barang aku yang ketinggalan. Tunggu bentar, ya!" katanya terburu-buru.

Karina menoleh, sedikit terkejut "Hah? Barang ketinggalan?" tanyanya pelan, tapi suaranya tak sempat dicerna. Janu sudah berlari kembali ke dalam Kafe, langkahnya cepat.

Gadis itu hanya berdiri di tempat, rambutnya sedikit tertiup angin malam. Tatapannya mengikuti punggung Janu yang kian menjauh, menyisakan rasa aneh yang ia sendiri sulit jelaskan.

Barang yang ketinggalan? pikirnya. Setahunya, tidak ada apa pun yang tertinggal. Tapi Karina mencoba menenangkan hatinya, menepis pikiran buruk yang mulai tumbuh di benaknya.

HEARTBREAKER  [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang