BAB 9 - Penyesalan

957 153 36
                                        

Janu mencoba memejamkan mata, namun matanya tetap enggan terpejam. Ada sesuatu yang terus berputar di kepalanya, mengganggu, seakan menolak untuk disingkirkan.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah Liana di halaman belakang sekolah hari itu kembali muncul begitu jelas. Pemuda itu meremas rambutnya sendiri frustrasi. Sialan, gue kenapa sih?

Ia merasa bodoh. Seharusnya kejadian itu biasa saja, namun entah kenapa, hati dan pikirannya tak mau berdamai.

Janu bangkit dari tempat tidurnya dengan gerakan kasar, lalu melangkah ke arah pintu kamar. Langkahnya berat menuruni tangga, rumah dalam keadaan hening, hanya terdengar suara jarum jam berdetak lambat dan sesekali bunyi gesekan ranting di luar yang tertiup angin malam.

Begitu memasuki dapur, lampu gantung kecil di sudut ruangan menyinari punggung seorang wanita yang duduk sambil memegang cangkir teh. Janu berhenti sejenak. Ternyata mamanya juga belum tidur.

"Ma," panggilnya lirih.

Yumna menoleh pelan, wajahnya yang teduh langsung melembut saat melihat putranya. "Loh, Janu. Kamu kenapa belum tidur?"

Janu menghela napas keras, berusaha terdengar biasa, padahal kepalanya penuh kekacauan. "Belum bisa," sahutnya sambil membuka lemari es, tangannya mengambil botol air lalu menuangkan ke dalam gelas.

Yumna memperhatikan gerak-gerik anak lelakinya itu. "Kamu kelihatan gelisah," ucapnya lembut. "Ada apa? Lagi banyak pikiran?"

Janu berhenti sejenak, menggenggam gelas itu erat hingga terdengar bunyi kecil dari tekanan tangannya. Ia lalu meneguk air itu dengan cepat. Janu tahu mamanya peka. Yumna selalu bisa menangkap perubahan kecil pada dirinya. Namun malam ini, Janu sendiri bingung harus mulai dari mana.

Ia menggeleng pelan, tapi helaan napas beratnya sudah cukup menjadi jawaban. Yumna tidak perlu menunggu pengakuan, tatapan mata putranya sudah menyuarakan banyak hal.

Dengan senyum lembut, Yumna menepuk kursi di sebelahnya. "Duduk sini," ucapnya pelan.

Janu sempat ragu, namun akhirnya menuruti. Tangan halus sang mama terulur, mengelus puncak kepala Janu dengan penuh kasih.

"Anak mama udah besar ya ternyata," kata Yumna. Janu menunduk, tak bisa menahan senyuman kecil di bibirnya. Ada rasa hangat yang menyusup, meski hatinya masih kusut. Namun kehangatan itu tak bertahan lama ketika Yumna tiba-tiba membuka kalimat yang membuat alis Janu langsung bertaut rapat.
"Kamu masih pacaran sama mereka?" tanyanya tenang.

Janu menoleh cepat, wajahnya kaget bercampur bingung. "Hah? Mama tau?"

Yumna tidak menjawab dengan kata-kata panjang, hanya mengangguk pelan, bibirnya membentuk senyum penuh arti.

"Eriko cerita ke mama," ujarnya santai, seakan apa yang ia dengar dari keponakannya itu adalah hal biasa.

Janu spontan mengusap tengkuknya yang terasa tegang.

"Dia ... cerita apa aja, ma?" tanyanya hati-hati, nyaris berbisik.

Yumna mengamati ekspresi gugup putranya itu, "cukup banyak," jawabnya penuh makna. "Tapi mama nggak marah. Mama cuma khawatir."

Janu terdiam, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja, mencoba menahan gelisah. Pemuda itu terdiam sebentar, menimbang kalimat berikutnya.

"Tapi udah nggak kok, ma," jawabnya singkat, terdengar seperti alasan yang buru-buru ia buat agar topik itu cepat selesai.

"Kamu sudah pilih siapa yang kamu pertahankan?"

Janu terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Iya," sahutnya tanpa berani menatap langsung.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang