BAB 4 - Liana Menghilang

1K 164 28
                                        

Janu berdiri diam di depan pagar tinggi rumah Karina. Seharusnya hari ini dia menjemput Liana. Tapi pesan singkat dari gadis itu pagi tadi—"Aku bareng Juna aja ke sekolah"—membuatnya mengubah haluan.

Namun, begitu mereka sampai di kelas, suasana aneh langsung terasa. Liana tak terlihat di tempat duduknya. Janu memicingkan mata, mencari di antara kerumunan siswa.

"Liana belum datang ya?" tanyanya, setengah tidak yakin.

Karina menggeleng. "Nggak tau. Kan kamu yang bilang dia bareng Juna. Mungkin masih di jalan mereka."

Janu akhirnya pamit pergi ke kelasnya. Ia sengaja lewat di depan kelas Juna. Di sana Juna sudah duduk manis di bangkunya. Janu mengernyit heran.

"Loh, itu Juna udah datang," monolognya.

Janu terdiam. Sebuah pertanyaan mulai bergaung di kepalanya: Kalau Juna ada di sini, Liana di mana?

***

Hingga bel tanda istirahat pertama berbunyi, bangku Liana di pojok kelas tetap kosong. Tak ada tas, tak ada buku, tak ada bayangan gadis itu sama sekali. Juna yang berada di kelasnya, menatap heran tiga pesan singkat yang ia kirim pada Liana hanya centang dua tanpa balasan. Bukan kebiasaan gadis itu. Biasanya, bahkan di tengah pelajaran, Liana akan membalas cepat—meski hanya dengan emotikon.

Langkahnya cepat saat menuju kelas IPA1. Begitu sampai, matanya langsung tertuju pada Karina yang duduk santai sambil memainkan pulpen.

"Rin," panggilnya, nada suaranya sedikit mendesak. "Liana nggak ngabarin lo kalo dia nggak masuk?"

Karina menoleh, "Enggak. Tapi tadi pagi Janu cerita, harusnya dia jemput Lia. Terus Lia bilang ke Janu buat nggak usah jemput, soalnya dia mau bareng lo."

Juna terhenti sejenak, mencoba memproses ucapan itu. Alisnya mengernyit. "Apa?" tanyanya, suaranya lebih rendah.

Juna menatap Karina lebih lama, matanya menyipit. "Sumpah, Rin ... Lia nggak bilang apa-apa ke gue soal itu. Bahkan semalem terakhir gue nge-chat dia, nggak ada tuh dia nyuruh gue jemput."

Detik berikutnya, Juna sudah memutar badan dan melangkah cepat keluar kelas. Bahunya tegang, napasnya lebih berat dari biasanya. Ada sesuatu yang salah—dan dia tahu, kalau dia tak segera mencari tahu, penyesalan mungkin akan datang terlalu cepat.

"Jun, tunggu!"

Suara Karina terdengar nyaring di koridor, disusul langkah sepatu yang beradu cepat dengan lantai. Yasmin dan Hana yang tadi ikut menyimak ikut berlari kecil di belakangnya.

Pemuda itu tak memperlambat langkah. Matanya lurus menatap satu titik: kelas XI IPS1—kelas Janu. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh, rahangnya mengeras.

Di dalam, Janu baru saja melangkah keluar pintu bersama dua temannya, hendak ke kantin. Namun langkahnya terhenti saat melihat Juna berjalan cepat ke arahnya dengan Karina dan dua gadis lain di belakang.

"Kalian kenapa lari...?" Janu belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Juna tiba-tiba menyerangnya.

"Bangsat, bego ya lo!!"

Suara Juna memecah udara, lantang dan tajam, menghentikan percakapan di seantero kelas. Semua kepala langsung menoleh, mata-mata penasaran menyapu mereka berdua. Hendra dan Javi yang berdiri di dekat pintu segera menahan Juna yang ingin kembali maju.

Karina yang tiba tepat di belakang Juna menatap Janu dengan ekspresi cemas. Yasmin dan Hana berdiri beberapa langkah di belakang, terlihat lebih tegang.

Karina melangkah cepat ke depan Juna, kedua tangannya terentang lebar seolah membentuk penghalang manusia. Kalau dia tak melakukan itu, bisa dipastikan tinju Juna sudah mendarat di rahang Janu.

HEARTBREAKER  [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang