BAB 14 - Gelang

911 147 35
                                        

Siang itu, udara panas menyeruak dari jendela-jendela besar yang terbuka setengah. Koridor lantai dua tampak lengang, hanya bayangan pepohonan dari taman belakang yang bergetar pelan di lantai keramik yang memantulkan cahaya menyilaukan.

Di ujung lorong, dua sosok berdiri saling berhadapan. Suara mereka memecah keheningan seperti letupan kecil sebelum badai.

"Karina, aku udah bilang dari dua hari lalu," suara Janu sedikit meninggi, tertahan, tapi jelas kesal. "Aku udah bilang aku pengin ngajak kamu keluar, cuma buat nemenin aku sebentar. Terus terus sekarang kamu bilang kamu lupa?"

"Maaf, Jan. Aku beneran lupa kalau hari ini aku ada les tambahan," jawabnya pelan.

Nada suaranya lembut, tapi bagi Janu itu terdengar seperti pisau tumpul yang diulang-ulang mengiris sabarnya. Ia mendengkus, langkahnya maju setengah meter, jarak di antara mereka semakin sempit.

"Kenapa sih kamu selalu begini? Aku tahu kamu pintar, Karina. Kamu udah jauh lebih pintar dari aku! Tapi kenapa harus se-obses itu sama Liana?" suaranya berat. "Kamu tau kenapa aku ngajakin kamu keluar hari ini?"

Karina mengangkat wajahnya. Mata itu kini menyala—campuran antara marah dan lelah. "Gak, Janu. Aku gak tahu dan aku juga gak peduli! Kalau kamu pacar aku, harusnya kamu ngertiin aku janu. Kamu gak ngerti gimana rasanya terus-terusan dibandingin sama dia! Semua orang ngebandingin aku sama Liana! Aku capek selalu jadi bayang-bayang dia!"

Janu terdiam sejenak. Ada detik hening di antara mereka. Lalu napasnya pecah dalam desah frustrasi.

"Ah, bangsat!" umpatnya serak, dan tangan kanannya menghantam pintu di sebelah mereka.

Suara gebrakan itu bergema di lorong kosong, menimbulkan getaran halus di kaca jendela. Karina terlonjak kaget. Sekilas, ada ketakutan di matanya.

"Janu..." suaranya memudar.

Pemuda itu menatapnya dengan pandangan dingin, terluka, dan tak ingin mendengar apapun lagi. "Terserah kamu!" suaranya parau sebelum akhirnya ia berbalik.

Langkah kakinya berat namun cepat, bergema di sepanjang koridor. Bayangannya perlahan menjauh, menelan sisa percakapan mereka yang masih menggantung di udara panas siang itu. Karina hanya berdiri diam. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang tak sempat diucapkan.

Di luar, bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi-nyaring, tapi terasa jauh. Dan di antara itu, dua hati yang sama-sama lelah memilih untuk saling membelakangi dan tanpa sadar saling menjauh.

***

Langkah kaki Janu berhenti di tikungan lorong, di mana cahaya matahari mulai meredup ditelan bayangan gedung. Napasnya masih berat, kepalanya dipenuhi suara Karina yang terus-menerus menggema di telinganya. Suara yang sama, yang dulu ia pikir bisa menenangkan, tapi kini malah menyesakkan.

Sudah hampir tiga bulan ia berpacaran dengan Karina.
Tiga bulan yang seharusnya jadi babak baru dalam hidupnya. Tapi nyatanya, rasanya sama saja. Hampa, rumit, dan penuh jarak. Bahkan setelah dua bulan putus dari Liana, gadis yang pernah jadi pacar keduanya, hidupnya masih seperti lingkaran yang tak kunjung selesai.

Cinta segitiga itu memang sudah berakhir, tapi masalahnya tidak pernah benar-benar hilang.
Liana sudah pergi, tapi bayangannya masih ada di antara mereka. Karina semakin sibuk akhir-akhir ini. Dan itu semua tak lepas dari bayangan Liana.

Dulu, setidaknya masih ada waktu untuk sekadar minum es kopi bersama di kantin bawah, atau jalan sore ke taman kota yang tak jauh dari sekolah. Sekarang? Sulit. Ujian kenaikan kelas semakin dekat, dan setiap ajakan Janu selalu berakhir dengan kata nanti.

Padahal hari ini, hari istimewa. Hari ulang tahun ibunya. Janu sebenarnya cuma ingin Karina ikut membantunya mencari hadiah. Sekaligus, mempertemukan Karina dengan keluarganya. Tapi adis itu melupakannya begitu saja.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang