Bayang-bayang Winda selalu menghantui langkah Javi, seperti siluet masa lalu yang menolak hilang meski ia sudah punya Mia di sisinya. Cintanya pada Mia nyata—ia sayang gadis itu, tulus—tapi ada luka yang belum sembuh dengan Winda. Luka yang dulu ia tinggalkan tanpa benar-benar berani menatapnya.
Kadang ia merasa seperti pengkhianat. Kadang seperti pengecut. Dan kadang seperti seseorang yang sedang berdiri di dua tepi jurang—satu tepi nyaman dan hangat bersama Mia, satu tepi lain adalah masa lalu yang tak pernah selesai bersama Winda.
Dan yang paling menakutkan? Ia tak siap kehilangan salah satu dari mereka.
“Sudah makan?” suara Javi memecah keheningan sore saat ia tiba di halaman belakang rumah Winda.
Udara lembut berhembus, daun-daun pohon jambu bergetar perlahan, dan Winda duduk di bangku kayu tua sambil mengelus kucing kesayangannya. Seperti biasa, Winda terlihat rapuh namun berusaha tegar. Senyum kecil itu masih sama—senyum yang selalu membuat Javi merasa bersalah karena pernah menyalahkannya.
“Iya, kan nggak boleh telat biar cepat sembuh,” jawab Winda riang, meski tatapan matanya tetap menyimpan lelah yang tak bisa ia sembunyikan.
Javi menghela napas lega. “Anak pintar,” ujarnya sambil merapikan anak rambut Winda yang tertiup angin.
Seketika wajah Winda memanas. Kucing di pangkuannya pun seolah merasakan kegugupannya dan melompat turun, membuat gadis itu kikuk sendiri.
“Setelah ini kamu nerusin ke mana?” tanya Winda, mencoba mengalihkan kecanggungan.
“Belum tahu. Belum kepikiran.”
Winda terdiam sesaat. Ada jeda sunyi yang aneh, seperti ia sedang memilah-milah kata sebelum melepaskannya.
“Kamu … memang nggak ada yang nyari?”
“Maksudnya?” Javi memalingkan wajah.
“Cewek waktu itu.” Winda menatapnya. “Pacar kamu kan, Je? kalau kamu sering ke sini … kasihan dia.”
Javi membeku. Wajar kalau Winda merasa bersalah. Wajar kalau ia menjaga jarak. Tapi kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira.
“Sudah izin kan?” Winda menambahkan.
“Iya,” jawab Javi pendek.
Iya—izin. Hanya saja izin itu bukan untuk menemui Winda sebagai cinta lamanya, tapi sebagai “kunjungan ke sepupu”. Kebohongan kecil yang terus ia ulang demi membangun dinding yang melindungi Mia dari kebenaran yang bahkan Javi sendiri takut hadapi.
---
Beberapa jam sebelumnya, Mia berjalan di samping Javi setelah mereka makan bersama. Tempat favorit mereka—yang sempat menjadi saksi banyak momen lucu dan manis—hari itu terasa sedikit berbeda. Mia terlihat lebih tenang dari biasanya, tapi sorot matanya sesekali menyimpan sesuatu yang tak mampu ia ucapkan.
“Kakak abis ini ke mana?” tanya Mia setelah keluar dari restoran.
“Ah … ke basecamp sebentar, terus ke rumah sepupu.”
“Sekarang kakak sering ya ke rumah sepupu itu?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi nadanya hampir tak terdengar natural—seperti diselipkan sesuatu yang sedang ia tahan. Javi hanya tersenyum kecil, mencoba tidak memperpanjang pembicaraan.
“Udah lama nggak ke sana. Kangen juga. Yuk, aku antar pulang.”
Mia mengangguk, tapi langkahnya terhenti sebelum masuk mobil. Ia menahan tangan Javi.
“Kak…”
Javi langsung menoleh. “Kenapa?”
Mia menggeleng cepat, tersenyum samar. “Nggak apa-apa. Ayo.”
KAMU SEDANG MEMBACA
HEARTBREAKER [END]
Ficção AdolescenteDisclaimer : FC dalam cerita ini Lia dan Jeno. Tetapi saya harap itu bukan patokan buat setiap pembaca, karena saya membebaskan kalian memilih visualisasi siapapun untuk cerita yang saya buat. Tak ada yang spesial di kehidupan Lilyana Chaliana Jeli...
![HEARTBREAKER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288601175-64-k226810.jpg)