BAB 27 - Arti Cinta

548 90 18
                                        

Setelah kejadian tak terduga malam itu, Bram selalu teringat dengan kata-kata Liana. Kata-kata itu seperti gema yang tak mau berhenti.

"Bunda sakit, pa."

Ia baru tahu—setelah sekian lama—bahwa Giana, perempuan yang ia cintai sepenuh jiwa, kini tengah berjuang melawan penyakit mematikan. Kanker otak. Dan yang lebih menyakitkan: ia mengetahui semuanya dari mulut putrinya sendiri dengan rasa benci yang besar, bukan dari Giana, bukan dari siapa pun di keluarganya.

Bram duduk lama di ruang kerjanya malam itu. Lampu meja menyala redup, menyoroti wajahnya yang letih. Jemarinya bergetar saat memegang foto pernikahan mereka. Giana tampak cantik, senyum lembutnya meneduhkan. Sedang dirinya, berdiri di samping dengan tatapan penuh cinta. Tatapan yang kini terasa seperti kenangan jauh di masa silam.

Ia menyesal. Terlalu menyesal. Bagaimana bisa ia tak tahu apa pun tentang wanita yang selama ini masih menempati ruang hatinya? Ia yang dulu pernah bersumpah melindunginya dalam suka dan duka, justru menjadi orang pertama yang membiarkannya berjuang sendirian.

Bram menarik napas panjang, pandangannya kosong. Dulu, sebelum Giana hadir, hidupnya berjalan sederhana. Ia hanya seorang pria yang dijodohkan, tanpa cinta, tanpa arah. Tapi Giana datang seperti matahari pagi yang hangat. Perlahan, ia mencintai perempuan itu bukan karena perjodohan, tapi karena ketulusan yang tumbuh di antara luka dan waktu.

Namun semuanya berubah ketika Giana tiba-tiba menggugat cerai. Tanpa alasan, tanpa penjelasan. Hanya selembar surat dan tatapan dingin terakhir yang tak sempat ia pahami. Bram mengira ada orang ketiga. Ia pernah memergoki Giana pergi menemui seorang pria. Dugaan itu membuat amarah menutup akalnya. Ia pikir, Giana telah menghancurkan rumah tangga mereka.

Nyatanya, Giana sama sekali tak bersalah. Ia hanya ingin menyembunyikan penyakitnya agar tak menjadi beban. Dan Bram baru tahu semuanya sekarang, ketika semuanya sudah terlambat.

Satu hal yang membuat Bram sangat kecewa. Keluarganya sendiri yang dulu membuat wanita yang ia cintai menderita, dan yang lebih menyakitkan lagi Liana mendengar semua itu.

"Assalamualaikum, Lia pulang!"

Suara riang Liana menggema di rumah besar itu, menggema di antara dinding marmer dan lukisan keluarga yang tampak dingin. Namun tak ada jawaban, tak ada langkah kaki menyambut.

Hening.

Gadis itu melangkah pelan, menelusuri ruang tamu hingga samar mendengar percakapan dari arah ruang belakang.

"Kalau kamu gak bisa hamil lagi, biarin Bram nikah sama Weni. Bram itu butuh keturunan laki-laki!" suara neneknya terdengar keras dan tegas, memecah keheningan rumah itu.

Liana tercekat. Tubuhnya menegang. Di balik pintu, ia bisa melihat bayangan bundanya menunduk—menahan tangis yang tak sanggup ditunjukkan. Giana diam. Selalu diam, bahkan saat hatinya dicabik oleh kata-kata orang yang seharusnya menjadi keluarganya sendiri.

Liana ingin masuk, ingin membela bundanya. Tapi tangan seseorang menariknya sebelum sempat melangkah.

"Ssst ... jangan, Lia!" bisik sepupunya panik.
Gadis itu hanya bisa memandang bundanya dari celah pintu. Dada kecilnya sesak. Saat itu juga, Liana bersumpah dalam hati: dia tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang membuat bundanya menangis.

Kanker otak itu pelan-pelan merenggut segalanya. Bukan hanya kesehatan Giana, tapi juga kebahagiaan keluarganya. Pengobatan yang berat, obat keras yang membuat tubuhnya lemah, dan rahasia yang harus ia jaga rapat-rapat agar tak membuat siapa pun cemas.

Itulah alasan Giana akhirnya menggugat cerai suaminya. Bukan karena tak cinta. Tapi justru karena terlalu cinta. Ia ingin Bram memiliki kehidupan baru, dengan seorang istri yang bisa memberinya anak laki-laki seperti yang selalu diinginkan ibunya. Ia ingin Bram bahagia, meski tanpa dirinya.

Namun kebahagiaan itu justru berubah jadi kehancuran bagi semua pihak. Perebutan hak asuh pun terjadi. Giana menang, tapi ia tak pernah melarang Bram untuk menemui Liana. Ia tetap menghormati mantan suaminya, tetap menjaga nama baiknya di hadapan anaknya. Bahkan saat tubuhnya mulai melemah, ia masih berusaha tersenyum di depan Liana agar gadis itu tak mencium kenyataan pahit yang sedang ia hadapi.

Tapi malam itu, rahasia itu pecah. Liana mendengar sendiri ibunya berbicara dengan Jesi tentang kemoterapi, tentang rasa sakit, tentang waktu yang mungkin tak lama lagi. Gadis itu menangis sejadi-jadinya di balik pintu kamar, menutup mulut agar tak ketahuan. Sejak malam itu, Liana tahu: hidupnya akan berubah selamanya.

Bram berdiri di depan rumah lama itu. Rumah yang dulu penuh tawa dan aroma masakan Giana. Sekarang, pagar karatan dan papan bertuliskan Dijual adalah yang tersisa. Bram memegang pagar itu, suaranya nyaris berbisik.

"Gia, kamu di mana sekarang..."

Ia mencoba mencari tahu, satu-satunya orang yang mungkin tahu keberadaan Giana adalah adik kandung wanita itu; Jesi. Namun wanita itu pun menolak bicara. Bahkan Liana pun tak bisa ia temui.

Putus asa, Bram akhirnya duduk di kap mobilnya. Ia menatap ponselnya yang kini tengah berdering, berharap suara Giana terdengar di ujung sana. Dan ketika panggilan itu akhirnya diangkat, hatinya serasa diremas.

"Assalamualaikum!"
"Mas Bram...!" suara Giana terdengar pelan, serak, dan lemah.

"Gia, kamu di mana? Aku mau ketemu."

"Mas ... Uhuk!"

Suara batuk terdengar di ujung sana, diikuti suara seseorang menegur lembut.

"Ibu Giana, tolong jangan banyak bicara dulu. Ibu harus istirahat sebelum kemoterapi."

Hati Bram langsung hancur. "Gia?"

"Mas ... aku tutup ya. Jangan hubungi aku lagi."
Dan sambungan itu terputus. Bram menatap ponselnya lama. Matanya berkaca-kaca. Ia menendang ban mobil, menahan teriakan yang tertahan. Hanya satu hal yang terlintas di pikirannya: Aku harus temui dia. Aku gak bisa kehilangan dia lagi.

"Om Bram?"

Suara itu memecah keheningan. Bram menoleh dan mendapati Juna berhenti di samping mobil dengan motornya. Anak muda itu menatapnya curiga.

"Om ngapain di sini?"

"Juna...!" Bram melangkah cepat, menatap pemuda itu penuh harap.

"Lia sama tante Gia udah gak tinggal di sini, Om," kata Juna akhirnya.

"Kamu tahu di mana mereka sekarang?" suara Bram nyaris memohon.

Juna menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata dingin, "aku gak akan kasih tahu rumahnya. Tapi aku bisa kasih tahu di mana tante Gia sekarang."

Bram menatapnya dalam, dan kemudian senyum haru muncul di wajahnya. Ia menggenggam tangan Juna kuat-kuat.

"Terima kasih, Jun."

"Tante Giana di Rumah Sakit Harapan Bangsa," jawab Juna akhirnya. "Dirawat di ruang kemoterapi. Besok mungkin udah boleh pulang."

Bram mengangguk. Suaranya bergetar, "Om berhutang budi sama kamu."

Juna menatapnya lurus. "Aku ngelakuin ini bukan buat om. Tapi karena aku kasihan sama Lia, dia harus mikirin biaya rumah sakit sendirian. Biaya itu cukup besar untuk Liana tanggung sendiri!"

Bram menunduk. "Om tahu, dan terima kasih sebelumnya."

Tanpa banyak bicara lagi, Bram segera pergi. Juna hanya menatap mobil itu menjauh. Setelah itu, ia pun melanjutkan pergi meninggalkan halaman rumah lama Liana.

Bram bertekat akan menemui Giana dan memintamaaf padanya. Dan untuk pertama kalinya ia tahu apa arti cinta yangsesungguhnya: bukan tentang harus bersama,tapi tentang mengikhlaskan karena cinta







***
Cinta itu sederhana, pilihannya menua bersama atau melepaskan untuk kebahagiannya.

Selamat membaca, vote dan komentar selalu aku tunggu. Kritik dan saran dipersilahkan. Harap dukung aku dengan apapun yang kalian bisa. Terima kasih semuanya... i love you

Follow aku, masukin reading list, atau follow akun sosmed aku mulai dari IG, X, dan Tiktok @/avoxiss makasih

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang