BAB 29 - Yang Tak Terucap

611 86 7
                                        

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya seperti kemarin mereka baru masuk kelas sepuluh, tapi kini Liana dan Karina sudah duduk di bangku kelas dua belas semester genap—masa paling sibuk, paling melelahkan, dan sekaligus paling menentukan dalam hidup mereka.

Namun ada yang berubah.

Jika dulu nama mereka hampir selalu terdengar berpasangan, kini keduanya seperti dua garis sejajar yang berjalan berdekatan tapi tak lagi bersentuhan. Setelah semua fakta tentang Karina terkuak, jarak itu muncul begitu saja—bukan karena keinginan keduanya, tapi karena Karina memilih menghindar. Bukan benci, tapi malu. Malu karena Liana harus melihat sisi dirinya yang paling rapuh. Malu karena ia membiarkan sahabatnya itu melihat titik lemah yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum manis dan prestasi yang selalu ia banggakan.

Dan lebih dari rasa malu itu … ada rasa bersalah.

Bersalah karena Liana tidak pernah tahu apa-apa sejak awal. Bersalah karena ia menjadikan Liana saingannya, padahal Liana sama sekali tidak pernah berniat berkompetisi. Bersalah karena tidak jujur sebagai sahabat. Semua perasaan itu berputar seperti badai kecil dalam dada Karina, mengaduk batas antara kecewa dan hancur.

Liana sebelumnya pernah bilang mereka bisa membicarakan semuanya baik-baik. Tapi percakapan besar itu baru terjadi saat penerimaan rapor semester ganjil—momen yang seharusnya tenang, namun justru berubah menjadi titik yang menyesakkan dada Karina.

Hari itu, suara orang tua yang bisik-bisik menilai nilai anaknya, dan langkah siswa yang bergantian keluar dari ruangan. Di tengah suasana itu, teguran Suherman—ayah Karina—terdengar jelas, bahkan terlalu jelas.

"Apa ini? Kenapa nilai kamu ada yang standard begini?"

Nada itu datar, namun tajam. Bukan lagi soal peringkat, tapi satu mata pelajaran yang masih saja gagal Karina taklukkan. Padahal, selama beberapa semester terakhir, Karina sudah menunjukkan peningkatan besar. Ia mempertahankan juara dua di kelasnya—prestasi yang dulu masih belum stabil seperti sekarang.

"Yah, Karin udah berusaha semaksimal mungkin!"

"Bukannya kamu minta les tambahan buat pelajaran ini? Kenapa nilainya tetap sama aja. Percuma dong kalo gitu, kamu cuma bisa buang-buang duit ayah!"

"Ayah!!"

Karina memejamkan mata, seolah menahan rasa panas yang menjalar di tenggorokannya. Beberapa orang yang tak jauh dari tempat mereka, menoleh. Sekolah sudah tidak terlalu ramai, tapi cukup untuk membuat Karina merasa seluruh dunia sedang mengawasinya.

"Lia..."

Dan ketika nama itu disebut…

"Jangan sebut nama itu, berapa kali Karina bilang. Rina beda sama Lia, Pa!!"

Suara Karina pecah. Gadis itu melangkah pergi, tak perduli seberapa keras Suherman memanggilnya. Dadanya tiba-tiba terasa sempit, sesak, dan penuh tekanan. Ayahnya hendak mengejarnya.

"Karin, mau kemana kamu?"

"Karin!!"

Namun langkah itu terhenti ketika seseorang memanggil dengan suara yang tenang namun tegas.

"Om!"

Ayah Karina menoleh. Di sana Liana berdiri, wajahnya lembut namun penuh keyakinan.

"Lia!"

"Bisa bicara sebentar?"

---

Rumah makan kecil di sudut jalan itu menjadi tempat perbincangan penting antara Liana dan ayah Karina. Hawa sore menyusup masuk lewat jendela, mengayun tirai tipis yang menari bersama angin. Di luar, lalu lintas tidak begitu ramai. Di dalam, hanya ada suara sendok garpu beberapa pelanggan dan dengung kipas yang melingkar pelan.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang