BAB 33 - Kepergian Giana

651 96 12
                                        

Akhirnya ujian akhir sekolah dan ujian nasional selesai. Seperti angin besar yang baru lewat, seluruh sekolah terasa lega-kantin kini berubah menjadi tempat pelarian terakhir sebelum masa putih abu-abu benar-benar berakhir. Aroma bakso, nasi goreng, dan ayam crispy bercampur jadi satu, memenuhi ruangan yang riuh namun terasa sentimentil.

Hampir semua siswa berkumpul di sana, duduk melingkar dengan wajah lelah namun bahagia. Mereka makan dengan pelan, seperti ingin menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat.

"Btw, nih ... kalian semua mau ke mana entar?" tanya Hana sambil meniup sendok berisi bakso. Pipi gadis itu mengembung karena makanan yang belum sempat ia kunyah, membuat teman-temannya menahan tawa.

"Gue mungkin balik ke Jogja," jawab Naya ringan-namun kalimat itu sukses membuat kepala Rendra spontan menoleh.

Sekilas, tatapan keduanya bertemu. Ada kelegaan di mata Rendra, tapi juga rasa kehilangan yang diam-diam mulai menyelinap. Ia sudah berdamai dengan masa lalu dan salah paham mereka, tapi mendengar Naya akan pergi, hatinya seperti kembali diacak-acak. Seandainya ia tidak sedang bersama Sherly sekarang, mungkin ia akan mengambil keputusan lain. Tapi hidup selalu memaksa orang untuk memilih-dan hari ini, ia memilih diam.

"Ibu sama Bapak nyuruh aku balik ke Jogja dan lanjut kuliah di sana. Ya gak tahu juga sih, liat aja nanti aku keterimanya di mana. Kalo di UGM ya syukur!" lanjut Naya sambil tiba-tiba ngomong dengan logat Jawa yang kental.

Semua orang bengong seketika.

"Eh buset, tiba-tiba medhok," gumam Cecil, membuat yang lain cekikikan.

"Yah ... bakal jauh banget dong?" keluh Kinan sambil merutuki nasinya yang mendadak terasa hambar. Ia sendiri berencana kuliah di sekitar Jakarta, jadi mendengar sahabat-sahabatnya akan terpencar membuatnya langsung mellow.

"Kaya udah tradisi gak sih? Akhir-akhir gini pasti misah," celetuk Cecil sambil mendorong piring pecelnya menjauh.

"Huaaaaa!"

Suara Sherly langsung memecah suasana. Gadis itu sudah mulai sesenggukan, hidungnya merah, matanya berkaca-kaca seperti anak kecil kehilangan balon. Spontan, meja itu berubah jadi adegan drama penuh isak. Bahkan beberapa siswa lain menatap sambil berbisik.

Para cowok hanya bisa menatap pasrah. Makin mereka suruh tenang, makin keras volume tangisan geng itu. Mereka hanya bisa saling lempar pandangan, berharap lantai kantin menelan mereka hidup-hidup biar gak malu.

Di tengah kekacauan itu, Liana duduk diam. Tidak ikut menangis, tapi sorot matanya sayu. Ia memang sedih, tapi yang menghantam kepalanya bukan hanya perpisahan-melainkan ketidakpastian.

Ia belum tahu akan pergi ke mana. Ayahnya sudah memintanya pergi ke Kanada, tempat keluarga besar dari pihak kakeknya tinggal. Kakeknya sendiri menetap di sana setelah berpisah dengan nenek Liana bertahun-tahun lalu. Tapi memikirkan jarak sejauh itu membuat dada Liana terasa sesak.

"Li!"

Liana tersentak. Suara itu-Janu. Pemuda itu menatapnya lembut.

"Iya?" jawabnya pelan.

"Kamu mikirin apa?" tanya Janu sambil mencondongkan tubuh.

Liana menggeleng, "Gak ada."

"Kamu udah mutusin mau ke mana?"
Pertanyaan itu seperti memijit titik paling lembut dalam hatinya. Liana kembali menggeleng.

"Gak tau, Jan. Bunda juga belum sadar..." suaranya melemah. "Aku gak mau ninggalin bunda sendirian."

Kedua mata Liana terlihat jelas kelelahan-kurang tidur, kurang tenang, dan terlalu banyak takut.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang