Liburan sudah berakhir. Koridor sekolah itu kembali riuh oleh suara langkah kaki, tawa, dan obrolan yang bersahutan tantang bagaimana serunya mereka menghabiskan waktu liburan. Di antara deretan loker berwarna biru tua yang mulai berdebu, wajah-wajah lama muncul lagi dengan versi yang sedikit berbeda.
Kini, Liana dan teman-temannya resmi duduk di kelas dua belas. Titik dimana mereka bukan lagi junior yang perlu menunduk atau berhati-hati saat melangkah di lorong. Di atas mereka, tak ada lagi siapa pun yang perlu ditakuti kecuali para guru, tentu saja.
Tahun terakhir. Masa yang menegangkan dan krusial.
Setelah ini, gak akan ada lagi waktu bersantai. Sekolah sudah menyiapkan segudang jadwal tambahan, jam belajar panjang, bimbingan intensif, semua demi satu tujuan: kelulusan seratus persen. Mereka ingin nama sekolah itu tetap harum di papan prestasi.
Pagi itu, matahari menyengat lembut di pelataran sekolah. Suara mesin motor terdengar, dan dari sana turun dua sosok yang sudah tidak asing lagi—Janu dan Karina. Pasangan yang sempat jadi topik hangat di setiap grup gosip sekolah. Mereka udah bukan pasangan lagi. Mereka udah putus. Tapi gak ada satu pun yang tahu soal itu.
Janu masih menjemput Karina seperti biasa. Bukan karena masih cinta, tapi karena sekadar kebiasaan. Bagi Janu, Karina sekarang cuma teman. Tapi buat Karina? Tatapan matanya yang sesekali mencuri pandang ke arah pemuda itu menjelaskan segalanya: belum sepenuhnya ikhlas.
Sementara itu, di sisi lain lapangan, Liana tenggelam dalam kesibukannya. Seragam OSIS-nya tampak rapi, wajahnya sedikit berkeringat karena matahari mulai meninggi. Gadis itu sedang sibuk menjadi panitia penerimaan siswa baru. Tugas terakhirnya sebelum masa jabatan OSIS mereka resmi berakhir.
Liana benar-benar fokus. Bukan karena dia rajin, tapi karena kesibukan itu satu-satunya cara buatnya menenangkan pikiran. Hubungannya dengan Janu? Mereka baik-baik saja. Hubungannya dengan Karina? Mereka sudah berdamai, walau tidak sepenuhnya. "Liana! Ayo cepet, upacaranya mau mulai!" Suara Javi memecah lamunannya.
Liana tersentak, pandangannya sempat terarah pada Janu dan Karina yang baru saja datang. Bukan hanya dia yang menoleh. Janu juga menatap balik. Sekilas, pandangan mereka bersinggungan.
Janu yang melihat Liana tiba-tiba saja mengambil langkah cepat, meninggalkan Karina yang masih bicara.
"Jan, nanti aku—"
"Rin, gue duluan ya. Bye!"
Janu melenggang begitu saja tanpa menoleh lagi. Karina hanya bisa menatap punggungnya dengan rahang mengeras, sebelum menghentakkan kaki kesal. Tapi langkahnya terhenti saat suara familiar menyapanya. Jerome bersandar santai di dinding.
"Udah sih, gak usah cemburu juga," ujarnya ringan, sudut bibirnya terangkat. "Udah sepantasnya kan mereka bareng?"
Karina menoleh tajam. "Bisa diem gak lo!"
"Wow ... santai, Princess."
Jerome menatap jahil melihat respon Karina. Karina mendengkus, matanya berkilat penuh kesal.
"Ya udah sih, ikhlasin aja," lanjut Jerome dengan nada menggoda, "lo tuh harusnya move on. Bukannya udah putus ya?"
Tubuh Karina membeku dengan mata yang membulat sempurna. Janu dan dirinya tidak pernah mengumumkan perpisahan itu secara terrbuka. Bagaimana bisa Jerome tahu kabar itu?
"Lo...!"
"Udah jangan manyun, nanti gue cium baru tau rasa!" Jerome menepuk pipinya ringan sebelum lari kecil menjauh sambil tertawa.
"Jerome!" teriak Karina, wajahnya merah padam antara marah dan malu.
Gadis itu akhirnya berlari mengejarnya ke arah dalam sekolah, membiarkan pandangan siswa lain mengikuti kehebohan mereka. Suara langkah kaki mereka menggema di koridor yang mulai padat. Adegan itu persis seperti film romansa remaja yang terlihat lucu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEARTBREAKER [END]
Teen FictionDisclaimer : FC dalam cerita ini Lia dan Jeno. Tetapi saya harap itu bukan patokan buat setiap pembaca, karena saya membebaskan kalian memilih visualisasi siapapun untuk cerita yang saya buat. Tak ada yang spesial di kehidupan Lilyana Chaliana Jeli...
![HEARTBREAKER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288601175-64-k226810.jpg)