BAB 23 - Serba Serbi Cinta Monyet

641 91 8
                                        

Suara langkah kaki dan denting baki terdengar bersahutan di kantin siang itu. Bau nasi goreng, ayam krispi, dan es jeruk bercampur jadi satu, menciptakan aroma khas yang hanya bisa ditemukan di jam istirahat sekolah.

"Yang lain kemana dah?" tanya Javi, menatap sekeliling dengan ekspresi bingung.

Matanya menangkap Karina dan Jerome yang sedang berdebat kecil di meja pojok. Dua-duanya kelihatan udah capek adu argumen, tapi gengsi buat ngalah. Kursi di sekitar mereka kosong, cuma ada dua gelas air mineral yang udah tinggal setengah.

Biasanya, Javi ke kantin bareng teman-temannya. Tapi kali ini beda. Dia baru aja balik dari tempat Mia. Karina menoleh sekilas waktu Javi datang, lalu menunjuk ke arah mushola yang ada di ujung koridor.

"Solat. Lo sendiri kenapa gak solat?" tanyanya datar, tapi dengan nada tajam khas Karina.

"PMS!" jawab Javi spontan, asal.

Karina langsung melotot. "Ngadi-ngadi banget lo kalo ngomong!"

Jerome yang sedari tadi ikut denger, menimpali sambal menahan tawa.

"Lo sendiri kenapa gak solat?"

Karina cuma diam. Ekspresinya datar tapi matanya merotasi malas mendengar pertanyaan itu dan Javi baru nyadar kalau Karina gak seagama sama mereka. Pemuda itu menepuk keningnya dengan keras.

"Oh iya, gue lupa!"

Karina tak menanggapi. Sedangkan Jerome tak perduli. Ia tahu jika Javi memang suka bertingkah konyol. Jerome kembali mencoba mencairkan suasana.

"Rin, mau makan apa? Aku pesenin sekalian ya?" suaranya lembut, tapi Karina malah nyolot.

"Apa sih, kalo mau pesen makan, sana pesen sendiri. Gue nunggu yang lain!"

Jerome tak menyerah, ia masih menunjukkan senyum termanisnya. "Ya sekalian aja, kan bisa!"

"Gak mau!"

Javi geleng-geleng kepala.

"Cocok lo berdua!" katanya dengan senyum tengilnya, bikin Karina langsung menatapnya tajam. Tapi Javi gak peduli. Sedangkan Jerome mengacungkan jempolnya pada pemuda itu. Senang dia kalau ada yang mendukungnya.

"Ah ilah, jadian aja kek. Sumpek sumpah liat lo berdua debat mulu. Gue doain jodoh loh!"

"Amit-amit ... ogah!" potong Karina cepat, mengibaskan tangan seolah menolak kutukan.

Jerome malah tersenyum lebar dan melirik Javi. "Amin!" katanya mantap.

Javi membalas dengan gaya sok asik, seolah baru menyatukan dua insan yang ditakdirkan. Karina hanya menghela napas kesal.

"Dih, apaan sih kalian!"

"Ya ilah, Rin. Ucapan itu doa loh. Entar dari gak suka bisa jadi cinta beneran!"

Suara baru itu datang dari arah belakang. Ternyata Hendra, dengan ekspresi jahil khasnya, baru muncul sambil gandeng tangan Sonya.

Sonya cuma senyum kecil waktu denger ucapan pacarnya. Ia udah hapal betul dengan sikap jail pemuda itu. Dulu, waktu masih PDKT, Hendra itu nyebelin banget buat Sonya. Tiap hari ada aja yang bikin emosi. Tapi anehnya, makin Sonya marah, Hendra makin senang menjahilinya.

Sejujurnya itu hanya alasan Hendra biar bisa bicara sama Sonya. Dia sengaja terus menjahilinya, nyulut debat denganya. Dan dari situ, tanpa sadar, hubungan mereka tumbuh pelan-pelan. Dari sebel, jadi cinta. Dari adu mulut, jadi nungguin kabar.

Ironisnya, dulu banyak yang nyumpahin mereka bakal jadian. Dan Sonya waktu itu cuma ketawa sinis dan bilang: gak akan, dan gak mungkin. Tapi sekarang? Lihat mereka berdua, meski masih suka adu mulut tapi mereka terlihat saling .

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang