BAB 26 - Sebuah Penyesalan

580 97 13
                                        

Sore itu tampak seharusnya tenang. Matahari mulai condong ke barat, menumpahkan cahaya keemasan di antara deretan pohon flamboyan yang rindang. Namun ketenangan itu pecah begitu saja, ketika di sisi lapangan, dua sosok berdiri berhadapan. Karina dan Janu. Nada bicara mereka rendah di awal, tapi emosi di wajah keduanya tak bisa disembunyikan lagi.

"Kamu ini kenapa sih, Jan? Akhir-akhir ini malah ngindar dari aku?" suara Karina bergetar, tapi tajam.

Janu menunduk sesaat. Di dalam dada, ada rasa bersalah yang mendesak, tapi juga rasa takut. Tadi ia menyuruh Liana untuk menunggunya di pos satpam, ia takut gadis itu keburu melihat ini. Ia menarik napas, mencoba tetap tenang.

"Siapa sih yang ngindar dari lo, Kar? Nggak ada."

"Terus kenapa sekarang kamu nggak mau aku ajak keluar? Atau nganterin aku ke tempat bimbel?"

"Lo kan udah bareng Jerome."

Karina tertawa miris, tapi air matanya mulai menumpuk di pelupuk. "Aku tuh maunya kamu, Jan. Kenapa kamu malah bahas Jerome?" Nada suaranya pecah di ujung kalimat.

"Ya intinya gue gak bisa nganterin lo, Karina. Toh, gue sama lo udah nggak ada hubungan lagi."

Kalimat itu, entah kenapa, terdengar lebih kejam dari yang Janu maksud. Dan Karina membalas dengan pandangan tak percaya.

"Gila ya, Jan. Kamu nggak mikir gimana perasaan aku sekarang?"

"Kar, gue kan—"

"Setidaknya inget, Jan. Kita dulu gimana! Kamu juga tau aku sama Liana gimana!"

Nama itu keluar. Dan tiba-tiba, suasana jadi lebih berat dari sebelumnya.

"Lo masih nganggep Lia saingan?" tanya Janu pelan. "Lo nggak kasihan apa sama dia?"

"Terus kamu pikir aku baik-baik aja? Aku juga nggak mau kayak gini, Jan."

"Kalau gitu berhenti, Kar. Liana itu sahabat lo."

Karina menunduk, bahunya bergetar. "Iya, tapi kalau aku berhenti, apa ayah aku juga bakal berhenti bandingin aku sama dia? Nggak, kan?"

Suara itu makin parau. Air mata jatuh di pipinya, dan kali ini dia nggak berusaha menyembunyikannya lagi.

"Dari dulu aku udah coba, Jan. Aku udah berusaha banget buat nggak nganggap Lia saingan. Tapi setiap hari, ayah selalu bandingin aku sama dia. Aku capek...!"

Dia mengusap air matanya dengan kasar. "Aku capek dibanding-bandingin, Jan. Aku cuma pengen sekali aja ayah liat aku, bangga sama aku. Tapi setiap aku berusaha, dia malah bangga sama Lia."

Ia mendongak, matanya merah, suaranya pecah di antara isak. "Setelah aku mati-matian berjuang, dia malah dengan gampangnya dapetin semua yang aku mau..."

Dan di saat itu juga langkah seseorang terdengar.
Sepatu hitam menginjak aspal halaman, berhenti beberapa meter dari mereka. Liana. Dia berdiri di sana, menatap mereka. Wajahnya membeku di antara cahaya senja. Janu refleks menoleh, wajahnya menegang.

"Dia, Jan! Dia yang selalu dapet semuanya. Dapet perhatian ayah, dapet pujian, dapet kamu juga!" Karina menghela napas berat. "Sedangkan aku? Aku harus mati-matian bikin semua orang bangga sama aku, cuma biar aku gak ngerasa kalah dari dia. Kenapa sih dunia ini nggak adil?!"

"Karin..." suara itu nyaris berbisik. Tapi cukup untuk membuat Karina terdiam.

Seketika dunia seperti berhenti berputar.
Janu menatap antara keduanya, sementara Karina menahan napas, bibirnya bergetar.

"Lia..." gumam Karina. "Sejak kapan kamu—"

Liana melangkah maju. Air mata menetes satu per satu, jatuh ke seragam putihnya yang sudah lusuh di ujung.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang