Suasana pagi yang seharusnya tenang mendadak berubah kacau begitu nama Giana disebut. Liana berdiri mematung di tengah koridor sekolah-suaranya tertelan hiruk pikuk siswa lain yang belum masuk kelas. Ujian akhir hari ini sama sekali tak masuk dalam pikirannya. Hanya ada satu hal yang menancap di benaknya: kondisi bundanya memburuk.
Bram awalnya tak ingin mengabari. Ia tahu putrinya sedang menghadapi ujian penting. Namun gambaran wajah Liana yang mungkin harus menyesal seumur hidup jika tak sempat melihat ibunya membuatnya kalut. Dengan tangan bergetar ia menekan nomor telepon sekolah dan meminta sopirnya kembali untuk menjemput putrinya.
Sejak saat itu, dunia Liana runtuh.
Gadis itu terus menggigit ujung jarinya, satu kebiasaan buruk yang muncul setiap kali ia ketakutan. Suaranya lirih, hampir tak terdengar, merapalkan doa yang terburu-buru—seperti mantra patah-patah yang tak sempat dirangkai sempurna. Mata Liana bergerak gelisah, sibuk mencari ketenangan yang tak kunjung datang.
Di sampingnya, Janu berdiri memandanginya. Pemuda itu sudah berkali-kali memanggil, tapi Liana seakan berada di ruang lain yang lebih gelap, lebih penuh kecemasan.
"Liana...!"
"Li...!"
Panggilan itu tidak pernah mendapat jawaban. Doanya justru semakin cepat, semakin putus-putus. Samar-samar Janu mendengar satu kata kecil yang berulang kali terucap di sela gumaman Liana—Bunda.
Hati Janu menegang. Akhirnya, ia menarik tangan Liana, memaksanya menatap. "Liana!"
Gadis itu terhentak. Mata merahnya menatap wajah Janu yang kini sepenuhnya dipenuhi kekhawatiran.
Detik berikutnya Liana menubruk Janu, pelukannya erat, isaknya meledak. Suara tangis yang membuat dada Janu terasa diremas. Pemuda itu membalas pelukan itu, mengusap punggungnya pelan.
"Bunda, Jan...!" suara Liana pecah, "Bunda bakal baik-baik aja kan?"
Pertanyaan yang tak pernah ingin didengar siapa pun. Janu membeku, tak tahu harus menjawab apa. Tak ada jawaban yang benar, dan semua jawaban terasa kejam. Ia hanya mempererat pelukannya.
"Kamu sabar ya," bisiknya pelan, "doain bunda semoga baik-baik aja."
Begitu mobil jemputan datang, Liana langsung berlari ke dalamnya. Tatapan sahabat-sahabatnya mengikuti langkahnya sampai mobil itu menghilang di tikungan. Mereka tak bisa pergi. Ujian harus tetap berjalan.
---
Perjalanan setengah jam hampir terasa seperti menunggu ajal. Begitu mobil berhenti, Liana tak menunggu sopir. Ia langsung melompat turun, berlari masuk ke gedung rumah sakit. Aroma desinfektan menusuk hidung, tapi ia tak peduli. Kakinya otomatis membawa dirinya menuju ruangan yang sudah hapal di ingatannya.
Lorong itu dingin. Sunyi. Lampu putih di atas kepalanya seakan terlalu terang.
Di ujung lorong, ia melihat Bram. Ayahnya berdiri menatap pintu dengan wajah yang begitu gelisah. Hingga bahunya bergetar halus. Liana langsung berlari menghampiri.
"Pa ... Papa!" suaranya parau.
Bram menoleh. Wajah lelah itu berubah rapuh saat melihat putrinya. Ia langsung memeluk Liana erat-erat, menahan tubuh gadis itu yang ingin memaksa masuk ke ruangan.
"Bunda..." Liana bergetar. "Bunda, Liana datang, Bun!"
Tangisnya pecah. Bram menutup mata, hatinya seakan diremas dari dalam.
"Bunda janji mau main sama Liana, kan? Pa ... Kita ke puncak bareng, kan nanti? Ayo, Bun ... ayo kita liburan..." Liana tersedu-sedu, kalimatnya patah-patah.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEARTBREAKER [END]
Roman pour AdolescentsDisclaimer : FC dalam cerita ini Lia dan Jeno. Tetapi saya harap itu bukan patokan buat setiap pembaca, karena saya membebaskan kalian memilih visualisasi siapapun untuk cerita yang saya buat. Tak ada yang spesial di kehidupan Lilyana Chaliana Jeli...
![HEARTBREAKER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288601175-64-k226810.jpg)