BAB 35 - Awal Hidup Baru

771 87 7
                                        

Liana sekarang tinggal di rumah Bram—rumah megah yang selalu terasa terlalu dingin baginya. Walau begitu, seminggu sekali ia tetap kembali ke rumah lamanya. Ada beberapa barang bundanya dan barang miliknya yang tak pernah ia bawa kembali ke rumah Bram, juga beberapa kenangan yang masih ia pegang erat.

Rumah itu memang sengaja tak ia jual karena terlalu banyak kenangan, dan Bram paham akan hal itu. Jadi Liana hanya kembali beberapa waktu saja untuk merawat barang-barang di sana. Biasanya setelah mengecek rumah itu, ia akan menginap di rumah Juna. Bukan karena takut sendirian, lebih karena rumah itu terasa terlalu sepi untuk ditinggali sendiri.

Dan selama ia tinggal dengan Bram, satu hal pasti: ada seseorang yang mengibarkan bendera perang.

Weni.

Wanita itu seperti bayangan gelap yang tiba-tiba hidup sejak bundanya pergi. Didukung penuh oleh neneknya, Weni seperti merasa singgasana rumah itu sudah menunggunya. Tapi Liana tak memberi ruang satu senti pun. Bahkan Bram pun sudah lama mengabaikan wanita itu—hanya saja, Weni punya wajah yang terlalu tebal untuk mengerti dirinya tak diinginkan.

Pagi itu, Liana turun ke meja makan. Di sana Bram sudah menunggunya dengan pakaian yang tak kalah rapihnya dengan dirinya.

"Morning, Pa," sapanya ringan.

"Morning, sayang!" Bram tersenyum hangat.

Tapi kehangatan pagi itu langsung runtuh ketika Weni muncul. Wanita itu datang terlalu pagi dengan riasan yang terlalu sempurna untuk seseorang yang "mengaku" masak sejak subuh. Matanya melirik dingin saat Liana tidak menyapanya—seolah Liana sedang membiarkan udara kosong lewat begitu saja.

"Masih ada kesibukan di sekolah?" Bram mencoba mengalihkan suasana.

"Enggak. Tapi masih harus ke sekolah. Mau lulus, ada banyak yang harus Lia siapin. Lagi pula, ini kesempatan terakhir sebelum Liana pisah dari teman-teman."

Bram mengangguk kecil. "Sudah terima tawaran Papa?" tanya Bram hati-hati.

Liana memainkan sendoknya. "Lia pikirin dulu."

Weni menyisip, pura-pura ramah padahal nada suaranya lebih tajam dari pisau. "Emang nanti mau lanjut ke mana, Liana?"

Liana tidak menjawab. Hening. Ia tak memiliki kewajiban menjawab pertanyaan dari orang itu. Toh sejak dulu mereka tak pernah akur, jadi sekarang tak perlu beramah-tamah hanya untuk menjaga image saja. Weni mendengkus, hidungnya sedikit mengembang menahan ego yang tercabik.

Liana baru menyuap makanan satu kali ketika ia berhenti. Menatap piringnya lama, lalu meletakkan sendok. Bram menatapnya bingung.

"Kenapa, Li? Loh kamu mau kemana?" tanya Bram.

"Ayo berangkat, Pa," ajaknya berdiri.

Bram terpaku sebentar, tapi ia bangkit mengikuti putrinya.

"Loh, kok buru-buru? Makanan kalian belum habis!" suara Weni mengekor.

Liana berhenti. Berbalik perlahan. Menatap Weni dengan tatapan datar yang lebih menakutkan daripada amarah.

"Tante kalau nggak bisa masak, jangan masak deh." Suaranya jernih, pelan, tapi menusuk. "Nggak enak."

Darah Weni seperti tersedot ke wajahnya—merah padam. Tangannya mengepal. Liana justru melangkah mendekat, senyum miring muncul tanpa ia paksakan.

"Lagi pula, kita nggak tau apa yang tante masukin ke makanan ini." Liana menatapnya dalam. "Kalau sampai Liana keracunan gimana?"

Weni makin gelisah.

"Kecuali," Liana menambahkan dingin, "tujuannya memang itu."

Weni terlonjak. Bram juga terdiam, menahan napas. Tapi Liana belum selesai.

HEARTBREAKER  [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang