BAB 1 - Yang Kedua

1.4K 193 64
                                        

Langkah kaki Liana menggema di sepanjang koridor sekolah yang masih sepi. Jam dinding di rungan guru bahkan baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi Liana sudah ada di sana—sendiri. Ia membuka pintu kelas pelan-pelan. Langkahnya pelan menuju sudut ruangan, bangku belakang dekat jendela. Ia duduk di sana. Diam. Menatap luar.

Di luar, awan menggelayut berat. Pohon-pohon di taman sekolah meliuk pelan ditiup angin. Gerimis samar menyentuh kaca jendela, membentuk pola-pola acak seperti sisa air mata yang belum sempat diseka.

Liana menyandarkan kepala di atas tangan yang bertumpu pada meja. Hoodie abu-abunya ia tarik hingga menutupi sebagian wajahnya. Earphone tersangkut di telinganya, tapi tak ada musik yang diputar. Ia hanya tak ingin mendengar.

Tap. Tap. Tap.

Langkah-langkah mulai terdengar di ujung koridor. Semula hanya satu-dua, lalu bertambah, bercampur dengan suara tawa kecil, bangku bergeser dan pintu kelas lain yang dibuka-tutup. Pagi yang tadi terasa kosong kini mulai diisi oleh denyut kehidupan sekolah.

Pintu kelasnya bergeser perlahan, dan siswa-siswa masuk satu per satu. Riuh khas pagi mulai memenuhi udara. Liana tetap di sana, duduk di sudut belakang. Hoodie masih menutupi wajahnya. Matanya terpejam, tapi bukan karena kantuk. Ia sedang memainkan peran lain–tidur, agar tak ada yang mengajaknya bicara.

"Eh, itu Liana ya? Tumben banget dateng pagi."

"Gak tau. Mungkin gara-kara masalah kemarin."

"Pacar kedua? Ya ampun!"

Tawa tipis mengikuti kalimat itu.

Liana menahan napas, kelopak matanya menegang. Ia tak perlu membuka mata untuk tahu siapa yang bicara. Semua komentar itu terdengar sama: sama-sama tajam, sama-sama membelah harga dirinya tipis-tipis.

Lucu, pikirnya. Dari semua peran yang pernah ia mainkan dalam hidup ini—anak baik yang patuh, sahabat setia, anggota OSIS yang rajin—kenapa justru ini yang melekat paling kuat? "Yang kedua." Label itu seakan dicetak permanen di dahinya, tak peduli berapa kali ia mencoba menghapusnya.

"Misi dong. Bisa gak jangan ngumpul di tengah jalan?"

Suara cowok, tegas dan lantang, memotong obrolan gosip yang baru saja memanas. Suara itu seperti pecahan kaca di tengah riuh, membuat beberapa siswi langsung menoleh dengan ekspresi tak senang.

"Apaan sih lo, jalan masih luas!" protes salah satu dari mereka, bibirnya menekuk.

Cowok itu tak mengindahkan. Bahunya sedikit terangkat, langkahnya santai tapi matanya fokus menembus kerumunan langsung ke satu arah. Pandangannya berhenti pada seorang gadis berambut panjang yang duduk di bangku dekat pintu.

"Hana sayang," ucapnya, nada suaranya berubah lebih ringan tapi tetap membawa percaya diri khasnya, "Liana ada?"

Tawa tipis terdengar dari salah satu siswi. "Modus lo, Jun!" serunya.

"Gue nanya ke Hana, bukan lo, Ce," balas Juna santai, nyaris malas melirik ke sumber suara.

Hana, yang duduk tegak sambil memainkan ujung bolpennya, menahan senyum. "Ada, tuh," ujarnya sambil menunjuk ke sudut belakang kelas. "Dari tadi diem aja."

Mata semua orang otomatis mengikuti arah telunjuk Hana. Hana menoleh lagi. Ada sesuatu yang mengganggunya. Biasanya, Liana akan menatap dan menyapa semua orang yang lewat dengan senyum hangat, bahkan saat sedang lelah sekalipun. Tapi pagi ini ... tidak ada senyum itu. Tidak ada kata 'pagi'. Tidak ada sapaan kecil yang jadi kebiasaannya.

Yang ada hanya diam. Diam yang terasa terlalu berat untuk ukuran Liana.

"Ngapain lo, Jun? Nyasar, masuk kelas IPA?" tegur seseorang dari belakang, suaranya penuh nada mengejek.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang