"Jan!" bisik Javi pelan.
Janu, yang sedari tadi bersandar santai di kursi dengan ponsel di tangannya, hanya merespons dengan gumaman pendek. Ia bahkan tidak menoleh. Ia yakin, Javi hanya akan mengganggu hari tenangnya.
"Hm?" gumamnya, ibu jarinya tetap sibuk menggeser layar, memeriksa sesuatu yang lebih menarik dari ocehan Javi.
"Lo nggak ada niatan apa ngajakin Liana jalan juga?".
Pertanyaan itu sukses membuat ibu jari Janu terhenti di tengah gerakan. Layar ponsel yang tadi penuh notifikasi mendadak tak lagi penting. Ia mengangkat wajah perlahan, menatap Javi dengan sorot datar yang nyaris mengancam.
"Lo nggak kasihan apa sama dia!" desak Javi lagi, nadanya meninggi walau tetap berusaha terdengar terkendali. Pemuda Kalingga itu mencondongkan tubuhnya ke depan, seperti mencoba menusuk tembok ketidakpedulian di hadapan dirinya.
Namun, lagi-lagi, Janu tidak menggubris. Ia hanya mengubah posisi duduk, menyilangkan kaki, lalu menekuk ujung bibirnya seolah omongan Javi barusan hanyalah noise yang tak pantas ditanggapi.
"Lo terlalu keras ke dia, Jan." suara Javi mulai bergetar, bukan karena takut, tapi karena kesal. "Ok lo gak suka sama dia, tapi kenapa lo masih nahan dia disekitar lo sekarang?!"
Kata-kata itu seperti peluru yang ditembakkan tanpa jeda. Javi menatap lurus ke arah sahabatnya itu, menunggu secercah rasa bersalah.
Namun yang ia dapat hanyalah hening. Javi menarik napas dalam, lalu menggeleng pelan. Dalam benaknya, ia baru sadar gimana bisa ia berteman dengan orang macam Janu ini? Bener-bener nggak punya perasaan, batinnya, getir.
Keheningan itu menebal di antara mereka, seolah tawa Karina dan Mia di kejauhan justru memperjelas jurang yang ada di hadapan mereka.
"Ssstt ... berisik, Jav!" sahut Janu dengan nada separuh kesal. Pandangannya melirik cepat ke arah Karina dan Mia di kejauhan.
"Ye, dibilangin juga." Javi memutar bola matanya, lalu mencondongkan tubuh, suaranya lebih rendah tapi sarat tekanan. "Lo nggak ada kepikiran apa, sekali aja anggep Liana ada?"
Janu menatapnya datar. "Nggak. Lo tahu sendiri alasan gue pacaran sama dia apa karena apa."
Karina yang saat itu sedang asik mengobrol dengan Mia akhirnya menoleh dengan tatapan penuh tanya. Ia penasaran melihat ekspresi tak nyaman Janu dan rasa canggung dari Javi.
"Kenapa?" tanya Karina, dahinya sedikit berkerut.
"Gak apa-apa kok, Yang." Janu langsung menyambut dengan senyum tipis, lalu menoleh ke Mia. "Gue pinjem Javi dulu ya, Mia!"
Mia hanya mengangguk, meski matanya sempat bergantian memandang dua cowok itu dengan penasaran.
"Buru, ikut gue sini!" tanpa menunggu persetujuan, Janu meraih lengan Javi dan menariknya menjauh dari meja. Gerakannya cepat, seolah ingin memutus jarak pandang Karina dan Mia secepat mungkin.
"Lo ya," suara Janu terdengar lebih tajam sekarang, menahan nada marahnya agar tidak memancing perhatian sekitar, "bisa nggak sekali aja, pas cuma ada gue sama Karina, nggak usah bahas Liana!"
Javi mendengkus, menatapnya sinis. "Terus kapan mau dibahas? Pas bareng-bareng? Lo kalau sama Karina bucinnya kebangetan, bro. Kasihan, tau nggak, gue sama Liana!"
Janu mengembuskan napas panjang, bahunya sedikit jatuh. "Jav, biarin ini jadi urusan gue!" Nadanya terdengar seperti seseorang yang ingin menutup pintu pembicaraan rapat-rapat.
Tapi Javi tidak mundur. Ia justru menatap dalam, matanya mengeras. "Nggak bisa, bro. Lo nggak tau kan gimana Liana sebenernya?"
Kata-kata itu menggantung di udara, seperti batu yang dilempar ke permukaan air tenang. Janu terdiam, matanya sempat menyipit, tapi bukan karena marah—lebih karena bingung. Ada nada dalam suara Javi yang terdengar berat. Seperti dia menyimpan sesuatu yang Janu belum tahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEARTBREAKER [END]
Teen FictionDisclaimer : FC dalam cerita ini Lia dan Jeno. Tetapi saya harap itu bukan patokan buat setiap pembaca, karena saya membebaskan kalian memilih visualisasi siapapun untuk cerita yang saya buat. Tak ada yang spesial di kehidupan Lilyana Chaliana Jeli...
![HEARTBREAKER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288601175-64-k226810.jpg)