BAB 30 - Javi dan Cintanya

619 80 1
                                        

Waktu seakan mundur dengan sendirinya saat nama itu kembali bergema di kepala Javi—Winda, gadis yang pernah menguasai seluruh ruang di hatinya lima tahun lalu. Gadis yang hadir dengan tawa pelan, sorot mata yang hangat… lalu menghilang tanpa jejak, meninggalkan tanya yang menggantung begitu lama sampai rasanya menjadi bagian dari napas Javi sehari-hari.

Dan kini, semesta seperti memberinya kesempatan kedua.

Semuanya berawal dari pertemuan singkat di sebuah mall ketika ia sedang jalan berdua dengan Mia. Hanya hitungan detik, hanya tatapan sekils, tapi cukup untuk membuat denyut jantung Javi kacau. Winda terlihat berbeda: lebih pucat, lebih kurus, tetapi sorot matanya masih sama. Hangat. Rapuh.

Pertemuan itu bukan jawaban. Justru membuat Javi semakin haus penjelasan.

Ia mendatangi rumah lama Winda—kosong. Dan kini, dia berdiri di depan sebuah rumah yang ia temukan dari postingan Instagram Winda yang sudah lama tak aktif. Rumah itu terlihat teduh, tetapi terasa asing dan jauh dari ingatan masa lalu Javi.

Hingga sebuah suara kecil memecah lamunannya.

“Je?!”

Javi spontan menoleh. Nia berdiri di ambang pintu, wajahnya memancarkan keheranan dan sedikit kewaspadaan.

“Ngapain lo di sini?” tanyanya ketus.

“Nia, gue lagi cari Winda.” Javi mendekat selangkah, suaranya melemah. “Lo tau kan dia di mana?”

Jelas pertanyaan itu terdengar bodoh. Tentu saja Nia tahu; Winda adalah sepupunya. Tapi ini bukan soal tahu atau tidak tahu—ini soal boleh atau tidak boleh. Seolah ada batas tak kasatmata yang menahan Nia untuk menjawab.

Javi menelan ludah, suaranya pecah.
“Gue mohon, Ni … gue cuma mau tau gimana keadaannya.”

Nia terdiam lama. Ada pergulatan di sorot matanya; ragu, kasihan, takut menyakiti, dan juga beratnya rahasia yang ia bawa.

Akhirnya ia menarik napas panjang dan membuka pintu lebih lebar.
“Ya udah … masuk dulu.”

Rumah itu terasa hening. Javi duduk di sofa dengan resah, kedua tangannya saling meremas, seolah menahan sesuatu yang hampir meledak. Beberapa menit berlalu sebelum Nia akhirnya membuka percakapan.

“Winda mungkin keliatan baik-baik aja…” katanya pelan.

Javi menoleh cepat, menanti kelanjutan kalimat itu.

Nia menggigit bibirnya, ragu sebelum melanjutkan, “Alasan Winda pergi itu … karena dia harus berobat, Je.”

Javi membeku. “Berobat?”

“Iya.” Nia menarik napas berat. “Dia mengidap leukemia.”

Suara itu menghantam dada Javi seperti palu godam. Ia terdiam, matanya membesar, tenggorokannya tercekat.

“Untungnya ketahuannya masih awal,” Nia melanjutkan, suaranya bergetar. “Tapi dia harus menjalani banyak pengobatan. Kemoterapi, imunterapi … sampai transplantasi sumsum tulang belakang beberapa kali. Lima tahun dia berjuang, Je. Lima tahun. Dan sekarang dia udah jauh lebih baik … tapi tetap harus nunggu lima tahun lagi buat bener-bener sembuh total.”

Javi menunduk. Jemarinya mengepal begitu kencang sampai ruas-ruasnya memutih. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyesakkan—perasaan marah yang dulu sempat ia pelihara tanpa tahu apa-apa. Lima tahun ia merasa ditinggalkan. Lima tahun ia menyimpan amarah yang ternyata salah sasaran. Dan sekarang semuanya terasa menampar.

Pantas dulu Winda sering mengeluh sakit kepala. Pantas ia sering mimisan, sering jatuh pingsan. Semua puzzle yang dulu tak masuk akal kini menyatu dengan menyakitkan.Javi menutup wajahnya sebentar, mencoba menelan kenyataan pahit itu.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang