Beberapa hari belakangan terasa begitu damai. Selama musim ujian sekolah, seluruh siswa fokus pada tujuan utama mereka. Itu kenapa taka da drama selain karena pelajaran sekolah. Tapi kini, kedamaian itu menguap begitu saja, digantikan keributan kecil yang menyulut rasa ingin tahu seluruh warga sekolah.
"Rin, tunggu! Gue bisa jelasin!"
Suara Liana memecah hiruk-pikuk lorong sekolah yang biasanya ramai tawa. Gadis itu berlari kecil, mencoba mengejar langkah Karina yang menjauh cepat tanpa menoleh. Beberapa siswa berhenti di tengah jalan, saling melirik dengan ekspresi keingintahuan.
Jelas, pemandangan seperti ini jarang terjadi. Dulu, Liana dan Karina dikenal sebagai sahabat yang solid. Bahkan saat mereka sama-sama berpacaran dengan Janu, keduanya tetap kompak di depan publik.
Namun akhir-akhir ini, keretakan di antara kedua sahabat itu terlihat. Tatapan yang dulu hangat kini berganti dingin, ucapan yang dulu lembut kini jadi lebih tajam.
Liana akhirnya berhasil meraih tangan Karina. "Rin, dengerin dulu, please...!"
Karina berhenti, menoleh dengan sorot mata yang asing.
"Apa lagi?!" suaranya nyaris membentak.
Liana tertegun. "Karin, semuanya gak seperti apa yang kamu pikirin!" suaranya bergetar. Ia hampir menangis, matanya berair, jemarinya masih menggenggam lengan Karina. "Tadi aku sama Janu itu—"
"Lo mau jelasin apalagi, Li?!" Karina menghela napas lelah. "Gue liat pakai mata kepala gue sendiri, lo hampir ciuaman sama Janu!"
Nada tinggi Karina membuat semua kepala menoleh penasaran. Liana menggeleng cepat, wajahnya panik.
"Gak gitu, Rin! Kamu salah paham!"
"Salah paham lo bilang?!" Karina menepis tangannya kasar. "Jadi lo pikir, gue cuma halusinasi?"
Lia mendesah frustasi, menatap rasa benci yang menyeruak dari tatapan Karina sahabatnya.
"Ok, mungkin gue yang salah minta lo jadi pacar Janu dulu. Tapi sekarang?" Ia mendekat, menatap lurus mata Liana dengan kecewa. "Lo cuma mantan Janu, Lia. Lo bukan siapa-siapa dia."
Nada sinisnya membuat udara di sekitar menegang. "Kenapa lo main belakang sama gue!"
Wajah Liana memucat. Air matanya menetes tanpa sempat ia tahan. Ia menggeleng, menolak atas tuduhan itu. "Rin, sumpah aku gak pernah—"
"Jangan nangis, Li!" Karina memotong tajam. "Jangan bikin gue keliatan jahat di depan mereka! Bahkan kalo semua orang tau, mereka bakal mikir hal yang sama. Lo mau rebut Janu dari gue!"
Suara gemuruh makin terdengar. Ada yang mendukung Karina dan ada juga yang tak percaya kalau Liana akan melakukan hal itu pada sahabatnya.
"Karin, stop!" Suara lantang itu membuat beberapa orang menoleh. Seorang gadis berlari menghampiri, menarik Liana ke dalam pelukannya. "Lo keterlaluan, Rin! Dia masih sahabat lo!" bentaknya.
Karina tertawa hambar. "Sahabat? Sahabat macam apa yang nusuk dari belakang?"
"Rin!" gadis itu—Hana—menatapnya tajam.
"Jangan mentang-mentang lo pacar sepupunya Liana, lo jadi bela dia!" sergah Karina sinis.
"Gue gak mau bela siapapun, tapi apa yang lo tuduhin ke Liana itu memang salah, Rin. Gue ada di sana sama mereka, dan gue gak bodoh sampai gak bisa nilai mana yang salah atau gak!"
Kerumunan mulai berbisik makin keras. Lalu seseorang menerobos memecah suasana gaduh itu.
"Cukup, Karina!" Janu datang dengan wajah keras, menahan emosi. "Udah cukup kamu jelek-jelekin Liana di depan banyak orang."
KAMU SEDANG MEMBACA
HEARTBREAKER [END]
Teen FictionDisclaimer : FC dalam cerita ini Lia dan Jeno. Tetapi saya harap itu bukan patokan buat setiap pembaca, karena saya membebaskan kalian memilih visualisasi siapapun untuk cerita yang saya buat. Tak ada yang spesial di kehidupan Lilyana Chaliana Jeli...
![HEARTBREAKER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288601175-64-k226810.jpg)