Hari ini, Liana disuruh datang ke rumah ayahnya. Katanya, nanti malam bakal ada acara keluarga di sana. Awalnya, dia sempat berpikir untuk menolak. Tapi seperti biasa, Giana memaksanya dengan tatapan lembut yang sulit dilawan. Akhirnya Liana menyerah. Ya, mau gimana lagi, kalau dia melawan, nanti dibilang anak durhaka. Tapi pergi ke rumah yang terasa seperti neraka itu juga bukan pilihan yang dia mau.
Mobil yang ia tumpangi melaju perlahan menuju kawasan perumahan elit itu. Dari balik jendela, Liana menatap langit sore yang mulai pudar. Ia menarik napas panjang. Rumah itu memang memiliki banyak kenangan, namun di balik itu semua ada tatapan keluarga yang tak pernah benar-benar menerimanya. Mungkin karena ia lahir bukan sebagai anak laki-laki.
Ayahnya adalah anak tengah dari tiga bersaudara, semuanya laki-laki. Tapi hanya ayahnya yang hanya memiliki satu anak dan itu perempuan. Dirinya.
Niko kakak dari ayahnya punya dua anak: Elwin, si sulung yang jadi kebanggaan keluarga, dan Yuna, adiknya yang manis dan populer. Sedangkan Jaka, si bungsu yang selera namanya agak nyeleneh, punya dua anak kecil laki-laki bernama Keiju dan Xsaviel. Ya, Xsaviel—nama yang bikin lidah keseleo setiap kali disebut.
Liana termenung, memandangi refleksi dirinya di kaca mobil. Pikirannya melayang mengingat kejadian di kantin tadi siang.
"Mikirin apa?"
Suaranya membuat Liana tersentak. Ia menoleh. Di sampingnya, Janu menatap dengan wajah tenang tapi penuh tanya.
"Ah, enggak kok," elaknya cepat, sedikit tersenyum untuk menutupi pikiran yang berputar di kepalanya.
Biasanya, kalau soal ayahnya, Liana gak segan cerita ke Janu. Pemuda itu selalu jadi tempatnya bersandar, bahkan saat dulu mereka belum sedekat sekarang. Tapi kali ini, dia memilih diam. Dia tahu Janu punya urusannya sendiri—terutama soal Karina.
"Jan!"
Suara itu datang dari arah belakang. Karina berjalan cepat, menarik tangan Janu tanpa basa-basi.
"Kenapa?" tanya Janu, masih memandang Liana.
"Jan, ih. Aku lagi ngomong jangan di cuekin bisa?" nada Karina meninggi, ekspresinya jengkel.
"Dih," sahut Yasmin ketus. "Kan Janu lagi ngobrol sama Liana, kenapa juga lo ganggu mulu?"
"Apaan sih, Yas? Lo itu ikut campur mulu sama urusan gue!" balas Karina tak terima.
"Lo yang apa-apaan, Kar?!" Yasmin berdiri, matanya tajam menusuk balik. "Lo mikir gak sih, dia siapa lo?!" tunjuknya ke arah Liana.
"Udah, udah, malu diliatin orang!" bisik Liana panik, berusaha menenangkan, tapi api udah keburu disiram bensin.
"Dia sahabat lo, Karina!" lanjut Yasmin tak peduli, suaranya mulai eninggi dan bergetar. "Yang selalu maju duluan buat belain lo. Tapi sekarang lo malah ngejauhin dia karena cowok?!"
Karina memukul meja keras.
BRAK!
Semua kepala di kantin itu menoleh ke arah mereka.
"Kalau ngomong dijaga ya, Yas!"
Yasmin melangkah maju, nadanya tegas tapi getir. "Lah salah gue dimana? Bukannya itu kenyataanya?!" kali ini Yasmin tak ingin mengalah. "Coba gue tanya, mana Karina yang dulu katanya sahabat sehidup semati Liana, hah?"
Karina menggertakkan gigi. "Kalau gak tahu apa-apa, diem!"
Dia maju beberapa langkah, jaraknya dengan Yasmin kini hanya sejengkal. Tangannya sudah terangkat menunjuk tajam di depan wajah Yasmin sebelum akhirnya ditahan Jerome yang sedari tadi hanya diam di kursinya.
"Karin, udah," suara Jerome tegas setengah berbisik.
"Gak ada, Jer, dia yang mulai duluan!" bentak Karina.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEARTBREAKER [END]
Teen FictionDisclaimer : FC dalam cerita ini Lia dan Jeno. Tetapi saya harap itu bukan patokan buat setiap pembaca, karena saya membebaskan kalian memilih visualisasi siapapun untuk cerita yang saya buat. Tak ada yang spesial di kehidupan Lilyana Chaliana Jeli...
![HEARTBREAKER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288601175-64-k226810.jpg)